Tampilkan postingan dengan label tantanganodop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tantanganodop. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2018

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bukankah minat dan bakat setiap orang berbeda? Kesempatan dan niat tak selalu sama?

Tapi begini.

Tak ada yang akan memulai kuda menarik gerobak jika Sang Kusir tak mememberi aba-aba. Tak tahu pula ke mana ia melangkah jika tuan pengemudi enggan memberi arah.

Jalan sih, tapi semaunya. Sesuka kuda.

Di sinilah agaknya peran komunitas itu kemudian alih fungsi. Tak sekedar berbincang. Tapi juga menantang. Silakan pergi jika tak sesuai kehendak. Selamat menenetap jika sekiranya menghebat.

Tak semua bahagia. Jelas. Karena toh kadang saya melakukannya terpaksa. Ya dengan tugas menulis setiap hari tanpa pasti materi. Katanya, asal tulis saja. Untuk menjaga konsistensi.

Padahal, menulis tak tak semudah daun melepaskan diri. Ide yang berlompatan dan mood tak tahu diri.


Tapi baiklah. Izinkan saya mengbungkukkan badan. Menyambut akhir yang senyata persaudaraan. Pada penanggungjawab kelompok dan senior yang tak pernah kehabisan stok semangat.

Akan ada jalan yang kita lalui. Entah bersama. Entah sendiri-sendiri. Yang pasti. Menulis adalah tentang menciptakan cinta dan asa. Mengenang lara membungkus rasa.

One day one post. Untuk yang selalu dikenang. Tak pernah lekang.

*Jepang,

Minggu, 21 Oktober 2018

Keluar Negeri Tak Selalu Mudah with Pak Nina Hanafi


Foto itu saat bertemu Indonesian Diaspora Network France. Di samping kiri adalah Bapak Nina Hanafi selaku ketua. Sekaligus co-founder Restoran Djakarta Bali di Perancis, yang terkenal.

Lainnya, adalah jajaran ibu-ibu dari Kedutaan Indonesia di Perancis yang sudah berpuluh tahun tinggal dan membesarkan anak-anak mereka di negara orang.

Banyak yang hanya melihat foto-foto saya, lalu spontan bilang, “pengen iih kaya Mbak Vio..”

“Wah, enak ya jalan-jalan diluar negeri terus. Iri deh.”

Dan kalimat serupa yang mampir di beranda, inbox, IG, dan WA.

Aduh, berkali saya katakan, jangan. Pergilah ke Paris dengan normal. Karena proses saya ke sana tak seelegan nampaknya.

Saya ceritakan, semoga tak ada lagi penderitaan yang sama teman-teman temui. Semoga ada pelajaran yang disimpan, bahwa keluar negeri, tak semudah yang terlihat di permukaan.

Ya, padahal, semua hanya area cerah setelah melewati terowongan panjang, pengap, dan berbau busuk. Wilayah sempit, seukuran kamar kos 2x1,5 saya di Bandung, dulu. Tempat untuk tidur, makan dan mendengarkan radio. Tanpa TV, galon air dan smartphone.

Bahkan hampir saja, hanya beralas tikar karena ‘tempat tidur’ yang mereka sebutkan, ternyata hanya dipan kayu, tanpa kasur.

Di kost pula menjadi tempat bersejarah, betapa dulu pernah berguling-guling menahan nyeri lambung tengah malam. Karena hanya berisi mie gelas dan seblak. Makan dua kali sehari, berjalan berkilo-kilo demi tak membayar angkot dan menggadai laptop.

Demi menyisihkan uang untuk membayar agency dan PJTKI yang mengurus keberangkatan ke Arab Saudi.

Tapi hal itu juga yang membuat saya tak ingin mundur, walau sesenti. Meski di-bully, dicaci maki, dikatakan tolol karena akan meninggalkan pekerjaan enak di Rumah Sakit ternama. Juga tuduhan, “kamu kok tega ninggalin orang tua!”

Rasanya, ke Spanyol itu hanya gula di atas pahitnya jamu brotowali satu kendi. Tak akan ada yang iri pada hidup saya, jelas, bila tahu saya pernah harus menahan takut karena hampir diperkosa.

Setelah interview untuk ke Arab Saudi, di Jakarta, saya kembali ke Bandung sore itu juga. Jam 12 malam baru menjejak Bandung karena kehabisan tiket kereta dan macet yang menggila.

Sayangnya, penumpang hanya diturunkan di Jalan Pasteur RSHS. Tanpa ojek online seperti sekarang, tanpa angkot lalu lalang, jalanan yang sepi, dan saya yang sendirian. Maka, jalan kaki sampai kosan di Cicendo, jadi satu-satunya pilihan. Ada kali 3 km.

Beberapa menit berjalan, saya dibuntuti pengendara motor berjaket kulit. Tanpa membuka kaca hitam di helm cakilnya, bagaimana mungkin percaya saat dia bilang, “ojek neng, saya antar.” Pula berita mutilasi berseliweran di media membuat 1000x waspada.

Kosan masih jauh, jalan semakin senyap, jam di tangan hampir menunjuk angka satu saat pengendara itu mencoba memepet tubuh saya yang gemetaran di balik jaket. “ikut saya saja, Neng!”

Allah!!! Saya teriak kencang-kencang di otak!

Dengan jantung berdebar dan keinginan untuk menikah, punya anak, bahagia, membuat kaki lecet spontan terangkat dan berlari di sepanjang jalan Pasir Kaliki.

Tidak! Tentu saja tak berharap nama saya masuk headline Bandung karena ditemukan mati diperkosa. Ya Allah, lindungilah.. lindungan..

Saya berlari di tengah jalan, berharap ada mobil lewat dan mengklakson. Tapi nihil. Saya berlari menghentak kaki, berharap ada satpam hotel bersiaga, tapi kosong. Saya berlari, berharap ibu-ibu hati baik mengintip dari jendela, tapi gulita!

Laki-laki itu masih di sana, menjaga jarak 200an meter di belakang. Dengan derum mesin yang membuat bulu kuduk berdiri. Allah! Bagaimana?? Apakah takdir sampai malam itu saja?

Saya menambah kecepatan. Meski betis terasa panas terbakar karena lelah perjalanan.

Sampai di depan Mall Istana Plaza, ada lahan kosong teat di seberangnya, dengan pagar tembok yang hampir roboh. Berhadapan dengan KFC yang melompong. Di perempatan itu, saya berbelok kiri cepat dan meringkuk di balik bongkahan pagar.

Menangis mendekap mulut. Entah bagaimana tubuh. Dengan napas tersengal, keringat tumpah dan jantung melorot ke perut.

Suara motor mendekat, berhenti beberapa detik di depan Mall, sebelum menjauh, dan hilang. Saya menangis sejadinya.

Jam 2 malam baru sampai kosan dengan tubuh remuk redam dan kaki lecet. Jam 7 pagi sudah dinas di ICU dan siap nge-RJP pasien.

Drama itu nyata. Gila. Dan tidak patut untuk diikuti. Apalagi dijadikan lahan iri. Tak akan ada yang tahu, setiap kebahagiaan, menyimpan trauma, luka menganga.

Diluar sana, saya yakin banyak kejadian lebih menyakitkan dalam perjalanan menggapai mimpi. Seperti teman-teman Indonesia di Eropa dan Timur Tengah.

Tak akan mudah. Selalu. Kesuksesan tak pernah diraih dengan kesenangan. Tapi luka dan air mata yang membuat bertahan dan meyakini apa yang patut diperjuangkan.

Kalau saja tak ikut interview di Jakarta, memilih hidup normal dengan bekerja di RS internasional di kota kembang, tak akan ada nasib buruk di Pasir Kaliki malam itu.

Kalau saja lebih mendengarkan teman dan saudara yang mengatakan, “kamu miskin, tidak mungkin bisa keluar negeri!”, tak akan ada cerita tentang Arab Saudi, Paris, apalagi Spanyol.

Jangan menyerah. Tolong, jangan menyerah.

Hidup tak pernah mudah, tapi sekali kita berhenti melangkah, selesai sudah.

Untuk yang sedang terluka di puncak mimpi, kuatkan hati, di titik itulah nyali diuji. Berapa lama sanggup bertahan. Akankah selalu menyalahkan keadaan. Atau bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan.

“Aku memandang masalah sebagai teman. Aku belajar tersenyum karenanya, belajar sabar karenanya, dan akhirnya, dewasa karenanya.”

Percayalah, Allah selalu ada, untuk hambanya yang percaya, dan mau berusaha.

Dari Pak Nina Hanafi saya meyakini, tak ada yang tak mungkin bila tembok hambatan didobrak dan menjadi arena berkembang yang menguntungkan.

*Violeta
Semarang, 17 Oktober 2017. 11.47 pm.

Minggu, 14 Oktober 2018

Menyusur Paris bersama Kuntowijoyo

“Kau belum dianggap ke Eropa, jika belum menginjakkan kaki di bumi Paris.”

Heii! Itu slogan yang pedih! Eropa tidak hanya Paris, kan? Bagaimana dengan Italy, Spanyol dan negara memesona lainnya? Tapi ya, baiklah, karena sekarang saya sedang menyusur jalanan Champs-elysee yang termahsyur dengan pusat turis menghamburkan euro-nya. Kita bisa sekaligus menyelami islam di negara yang dikenal sebagai The City of Lights, kota paling terang cahayanya di eropa ini.

Pernah dengar Arc de Triomphe? Itu lho, simbol kemenangan Napoleon Bonaparte dalam menaklukkan eropa. Sekaligus menjadi gerbang tembok raksasa memasuki jalanan Champs-elysee. Konon, Champs-elysee ini menjadi strip real estat kedua termahal kedua di dunia (pertama di eropa) setelah Fifth Evenue di New York City. Yang menarik, jika jalan ini ditarik garis lurus, hampir sejajar dengan kiblat. Hanya berselisih 5 derajat dengan jarak pisah ke ka’bah sejauh 4.500 km.

Wah, dicocok-cocokkan saja itu.

Eits, bukankah tak ada yang kebetulan di dunia ini? Bahkan si dia menikah dengan orang lain pun sudah termaktub di Lawh Mahfudz. Jadi ya sudah, terima saja. Lagi pula, ini menjadi bukti bahkan kehidupan tak bisa lepas dari keberadaan Tuhan. Tidak hanya Napoleon, tapi juga saya, dan kalian penanti jodoh datang. Bisa jadi hal-hal inilah yang mengilhami munculnya profetik.

Kuntowijoyo, tokoh intelektual yang dipengaruhi oleh Muhammad Iqbal, tokoh filsuf Islam, telah melahirkan ilmu profetik. Profetik sendiri berasal dari kata prophet atau nabi. Kemudian diartikan sebagai peran kenabian. Pada paradigma profetik, setiap manusia memiliki tugas dan peran kenabian. Selain memiliki hubungan dengan Tuhan (Habluminallah), manusia juga memiliki hubungan dengan manusia (Hambluminannas). Dengan demikian, Profetik harus memiliki relevansi keagamaan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan.

Menyatukan ilmu pengetahuan dengan islam tentu saja bukan hal mudah di tengah filsafat modern. Ilmuwan besar kutub idealis misalnya, ngotot sekali mencari molekul terkecil pembentuk manusia. Mereka, tidak akan percaya jika dikatakan manusia terbuat dari tanah. Akan sangat mempermalukan teori leluhur mereka, Darwin. Lalu bagaimana bila politik, ekonomi, sosial bahkan budaya dan sastra terbelah? Aneh sekali rasanya jika teori-teori itu seperti langit dan bumi. Maka di sinilah, ilmu profetik hadir menjembatani.

Ilmu profetik merupakan manifetasi dari surat Q.S Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. Inilah yang disebut Kuntowijoyo dengan peran profetik. Di mana manusia memiliki peran kenabian, yaitu humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minubillah). Menjadi penerang dalam membumikan ajaran Allah.

Mengagumkannya, ilmu profetik memiliki kaidah-kaidah yang mengacu dalam mengekspresikan dan menuliskan pesan dalam karya. Yang pertama, epistemologi strukturalisme transendental. Yaitu rujukan dari sebuah karya yang bersumber pada kitab suci atau wahyu (firman Tuhan atau sabda Nabi) yang kemudian ditarik kedalam sebuah realita yang terjadi (dari teks ke konteks). Yang kedua, sebagai ibadah. Ibadah selama ini hanya dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan (transendental), padahal paradigma tersebut kurang tepat karena pada hakikatnya manusia beribadah dengan humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Yang ketiga, keterkaitan antarkesadaran. Pada kehidupan beragama tentu manusia memiliki kesadaran ketuhanan. Artinya kesadaran bahwa adanya Sang Pencipta yang Maha Agung. Selain kesadaran ketuhanan, umat beragama juga harus memiliki kesadaran kemanusiaan. Artinya kehidupan kita ini tidak lepas dari peran sebagai makhluk sosial. Ketiga kaedah itulah yang kemudian menjadi pedoman. Entah itu area sosial, budaya, politik maupun menjadi nasihat-nasihat atau pesan-pesan Tuhan.

Rue de Revoli semakin ramai saat sore menjelang. Musee de Louvre mulai ditinggalkan pengunjung. Eiffel semakin padat pemburu foto matahari tenggelam. Diantaranya, bangunan-bangunan lama nampak kokoh dan menawan dengan guratan usia. Sama tuanya dengan profetik yang lama diterapkan. Masuk dalam meja-meja ilmu pengetahuan, sapaan orang antar negara bahkan terserak di kemegahan lampu kota. Dalam hal ini, Kuntowijoyo berpendapat bahwa dalam konsep Islam yang kaffah, umat Islam dituntut untuk menjadikan Islam sebagai landasan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Selain ibadah yang rukun (sahadat, shalat, zakat, puasa dan haji), maka dalam menciptakan karya pun haruslah diniatkan sebagai ibadah (Kuntowijoyo, 2013:14).

Zulheri, dalam skripsinya berjudul Ilmu Sosial Profetik (Tela’ah Pemikiran Kuntowijoyo), dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2012, menyebutkan pengaruh kritik sosial profetik yang paling mudah ditemui adalah liberasi. Liberasi yang mengandung misi pembebasan manusia dari kungkungan sistem pengetahuan yang terdoktrin lingkup materialistik, dominasi struktur, seks, bahkan ras. Pun pembebasan sistem politik yang diktator, otoriter, sewenang-wenang, oleh golongan atas Indonesia.

Berjalan-jalan di sepanjang Champs-elysee bersama aura humanisme Kuntowijoyo, serasa merengkuh keromantisan islam dalam gerimis Paris. Kursi besi yang basah. Lampu-lampu menyala dalam ranum senja. Tentu saja, ada banyak yang tertinggal dan harus ditinggalkan agar alam terus berjalan. Kita boleh terjatuh, tapi tidak untuk menyerah. Manusia bisa salah, ilmuwan bisa saja khilaf, tapi Allah harus bertahta dalam raga. Modernisasi akan terus berkembang, tapi spiritualitas tetap memberdaya dalam akal dan jiwa. Demi pengetahuan dan kehidupan yang harmonis antar manusia.

#tantanganodop5

Violeta, Spain
7/7/2017

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...