Tampilkan postingan dengan label perawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perawat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Keajaiban Doa di Ujung Nyawa

Usianya 11 tahun, tertidur lelap di ranjang ruang ICU. Dokter mendiagnosa hidupnya tidak lama. Beberapa bulan, atau hanya hitungan hari. Pasangan muda itu membawanya ke beberapa rumah sakit ternama di sekitar Jakarta dan Jawa Barat.
Tak ada perbaikan hingga berbulan-bulan. Bahkan penyakit pastinya tidak diketahui. Tiba-tiba organ dalamnya tak berfungsi baik. Sakit yang sudah menjalar ke mana-mana. Jantung, paru, ginjal, hati: buruk. Sangat buruk! Hingga memutuskan dirujuk ke rumah sakit kami atas permintaan keluarga. Setelah berpindah belasan rumah sakit, tentunya.
Beberapa kali saya mendapat kesempatan menjaga anak ini. Hal yang membuat tak mampu menahan haru ketika ibunya, dengan kerudung lebar dan senyum melengkung, meminta ijin membimbing anaknya shalat.


Setelah bertayamum, saya bantu menutup tubuhnya dengan selimut. Termasuk menutup rambutnya dengan syal, terkadang selimut tipis.
"Nak, kita shalat maghrib dan isya, ya," kata sang ibu sambil duduk di samping tempat tidur anak itu. Seperti yang biasa ia lakukan. Jam besuk siang untuk shalat subuh dan dhuhur. Sedang jam besuk sore untuk shalat ashar, maghrib dan isya.
Saya keluar ruangan. Memerhatikan dari bilik jendela. Tak mampu menahan air di kelopak. Lihatlah, belalai napas dan juntaian selang-selang itu menjadi saksi. 8 infus itu tak lepas memandangi. Mesin-mesin yang berbunyi itu turut pula mengakui. Di dalam tidur lelapnya, tubuh mungil itu sedang shalat. Setiap napas yang di dorong mesin, ia bergumam. Menyebut namaNya. Melantunkan doa tanpa suara.
"Saya tidak ingin menangis di depannya, Suster. Saya yakin dia kuat. Allah sedang mendekapnya," sahut pemilik wajah teduh itu ketika saya katakan, "Ibu tabah sekali."
Bayangkan, berbulan-bulan buah hatinya berjuang melawan sakit yang entah bermula dari mana. Hanya tergeletak lemah tak berdaya. Wajah pucat dengan mata tertutup rapat. Hingga berminggu-minggu kemudian. Rutinitas itu selalu dilakukan. Shalat bersama ibu. Ayah membaca Al-Qur'an setelahnya. Bahkan kami memberi waktu membimbing shalat di luar jam besuk jika si ibu tak sempat karena mengurus penjenguk yang ramai.
Dan, hal mustahil itu datang. Vonis puluhan dokter terpatahkan. Gadis itu menggerakkan jemarinya. Membuka mata bulatnya. Berbinar-binar. Bercahaya. Selang napas di mulut dilepas. Senyumnya seketika merekah. Selayak mawar segar di pagi yang cerah.
Semuanya membaik. Benar-benar semuanya! Hasil laboratorium, foto rontgen paru dan CT scan kepala memberikan hasil yang mengejutkan. Saat kami memberi tahu keluarga, ibu itu memeluk saya dengan derai air mata. Tangis pertama di depan putrinya. Sang ayah memeluk dokter dengan ratap syukur tak terhingga. Kebahagiaan buncah saat itu juga. Gadis itu berangsur-angsur pulih dan sehat seperti semula. Tapi, bagaimana bisa?
Kejadian ini terjadi 2 tahun yang lalu. Tapi masih mampu merasakan energi doa itu. Ketika masalah tak henti menerjang setiap hari, membanting ke inti bumi, saya hanya menutup mata. Membayangkan seorang ibu menuntun shalat gadis kecilnya. Dan sepersekian detik kemudian, tungku semangat terbakar. Allah bersama kita. Kita yang percaya akan kuasaNya. Menyembuhkan saja mampu, apalagi menyelesaikan segala masalah manusia? Ketika membuka mata, tak terasa, air menganak sungai di pipi.

#odopbatch_6
#tantangan3
#fiksi

Rabu, 19 September 2018

Perawat Pengkhianat Profesi?

Menjadi perawat yang masih seumur jagung itu serba salah. Yakin deh. Apalagi saat ditanya, pengalamanmu apa? Kan ya lucu kalo jawab, “bisa nyuntik.”

Lho, itu kan kompetensi sebelah, kok diaku.

Setelah pulang dari Arab Saudi, saya memang tidak berniat melamar kerja. Istirahat dululah, nyenengin suami, eh, diri sendiri.

Ga ada yang namanya mikirin pasien, obat yang kemarin dikasih bener gak, atau, stok obat minggu ini cukup atau tidak. Beneran, bebass..

Tapi ternyata bagai makan buah simalakama, nganggur pun, pertanyaan bertubi datang. “Lhoo.. kok ga kerja sih mbak? Mengaplikasikan ilmu ke ranah seharusnya dong. Sombong amat dipek sendiri.”

Eww… saya yang malah harus tanya, “seriusan nih mau dibagi ilmu? Saya cuma junior tolol yang ngasih rumus penghitungan dobutamin tercepat saja dianggap sok nyari perhatian.”

Sepuluh dari seribu alasan perawat tak betah sampai meninggalkan profesi itu mudah sebenarnya, tak dianggap ada.

Bahkan, ‘tak dianggap ada’ bagi sepasang kekasih saja bisa bikin perceraian kok, apalagi masalah kerjaan.

Iya, tak dianggap negara kalau sekolahnya mahal, kerjanya tak manusiawi, tapi dituntut superman. Lampu kamar pasien mati, salah perawat. Hujan turun, salah perawat, sampai anak Jokowi nikah-pun, salah perawat.

Ya jadi tidak salah toh kalau akhirnya banyak yang hengkang. Cari peruntungan lainnya.

Merintis jalan yang sedang dan akan ditapaki itu sulit, tapi bukan mustahil. Akan ada banyak hambatan, tentu saja, tinggal bagaimana kita menanggapi dan mencari solusi. Nah, kalau sudah mentok tak ada yang bisa memberi pemasukan untuk bertahan hidup, bukan sebuah kesalahan jika perawat ini mencari jalan lain.

Kecintaan dan keahlian setiap orang berbeda tergantung minat dan ketahanan.

Banyak teman saya yang akhirnya menjadi wirausaha. Bukan karena mengkhianati profesi, tapi di jalan itulah mereka menemukan jati diri. Kebahagiaan sejati. Yang meski melelahkan dan memeluai dari paling dasar. Mereka akan puas dan tertawa.

Bekerja di satu linier yang dianggap orang lain hebat tapi tidak sesuai hati itu sangat menyiksa dan meleahkan. Ingat, mental butuh makanan juga. Kesehatannya, tergantung apa yang sedang dilakukan. Termasuk ya mimpi-mimpi ke depan.

Dan menghalangi seseorang untuk mendapatkan mimpinya, menghancurkan masa depannya, mematahkan semangatnya hanya karena berbeda pandangan dengan kita itu sangat tidak etis.

Kebahagiaannya, biarkan dia yang menentukan.
Tugas kita, sebagai sesama sejawat adalah mendukungnya asal tetap berada di jalur positif dan sesuai dengan tuntunan agama.

Kebaikan bisa berbentuk beragam wujud. Kebahagiaan bisa didapat dari beragam profesi. Cintailah, bahagialah.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia. 19 September 2018

Minggu, 16 September 2018

Perawat Homecare kok Jalan-jalan!!

Image may contain: Marintha Violeta, smiling, sky and outdoor
"Jauh-jauh keluar negeri cuma nge-homecare. Yang berkelas dong. Ke rumah sakit internasional gitu."
Pedes ya? Sadisnya lagi, yang bilang begitu itu malah dari kubu perawat sendiri.
Iya sih. Perawat homecare tuh cupu banget. Cuma stay di rumah ngurus pasien. Ga bisa jalan-jalan. Ga bisa nongkrong. Ga bisa bebas pulang kerja mampir ke mana aja. Apalagi kerjanya 24 jam. Kan ngeselin.
Parahnya nih, bertahun-tahun kerja ga dapet sertifikat. Duh, jangankan surat pengalaman, tercatat sebagai karyawan aja enggak. Entah pula termaktub di kontrak kerja perusahaan yang bawa atau tidak. Lha ndilalah, perusahaan yang berangkatin dulu kok ya malah bangkrut. Tutup.
Sedihnya lagi ga bisa naik pangkat, pindah ruangan, atau protes kenaikan gaji. Lha saya cuma di rumah kok. Ngapain naik gaji segala. Kompetensi ya gitu-gitu. Ga ada pelatihan yang mengharuskan upgrade ilmu. Pemanasan EKG? Refreshing ventilator? ACLS? CWCCA?
Mereka ga akan tanya, sertifikat saya apa. Yang penting ada luka ya harus bisa ngatasin. Pasien pusing harus langsung didatengin. Cek tensi dan gula darah. Yang paling minimal.
Makanya, homecare ini ga dilirik. Ga sekeren perawat SOS yang bisa naik helikopter. Yakin.
Malahan ada yang bilang, "ihh, jadi perawat sendirian di rumah, ga takut diapa-apain, mbak?" Lho, malahan perawat yang bisa ngapa-ngapain. Naikin dosis insulin seenak jidat? Cuma dalam hitungan menit gula darah anjlok, pasien pingsan atau malah bablas.
Sekarang itu, ruang gerak perawat seluas Samudra Hindia. Dari mantri sunat sampai pejabat. Dari puskesmas, sampai konsultan kesehatan di perusahaan kelas kakap.
Dari penjaga keselamatan di jalan tol sampai tim medis Bandara. Jangan kaget kalau ketemu perawat di konser Lady Gaga atau pertandingan sepak bola dunia.
Pendapatan perawat itu setinggi Gunung Himalaya. Ada perawat Indonesia gajinya 40 juta perbulan di Kuwait. Itu baru Timur Tengah. Yang Amerika, Eropa, Jepang, dan daratan negara lainnya, yakin ga mau tau?
Come on! This is our profession. Bahagialah karena itu. Dan berhentilah men-judge bidang yang satu lebih baik dari yang lain. Yang kerja di rumah sakit lebih perfect dari yang di rumah atau panti rehabilitasi. Setiap tempat butuh keahlian masing-masing, kok.
Berhenti pula merasa kecil hanya karena lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar sempit. Rezeki Allah tersebar di jagat raya, lho. Jangan lemah hanya karena ilmu belum seberapa. Yang profesional pun dimulai dari seorang amatiran. Ya tapi jangan merasa sok tahu sampai sulit diberitahu.
"Think big if you want to be big."
Ada banyak jalan menuju Paris, eh, Roma. Salah satunya lewat profesi yang dulu disesali ini. Pilihan orang tua? Desakan saudara? Terpaksa?
Dulu, saya benci jadi perawat. Padahal, benci dan cinta hanya terpisah seutas benang. Mencari pembenaran dalam setiap proses seperti menyulam angin, hilang tanpa bekas. Membuktikan takdir Tuhan seperti berdiri di lumpur hidup. Semakin dijejak, semakin tenggelam.
Kata Iwan Setyawan, "Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu akan membuat rumah indah."
Jika kamu bukan perawat, cintai apapun profesimu sekarang. Jika kamu perawat, kau telah jatuh cinta di jalan yang tepat.
Maka siapa bisa memprediksi bila si perawat homecare cupu bisa sampai ke kota paling romantis. Yang katanya summer tapi hujan setiap hari.
"Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun retak-retak." - buku 9 Summers 10 Autumns.
Perawat, adalah rumah yang penuh luka. Tapi saya cinta.
*Violeta
Paris, Perancis, 1 Juli 2017

Kemalingan di Jepang

Tadinya saya percaya, Jepang itu negara teraman di dunia. Tadinya...
Saya jadi malas ngunci sepeda, taruh barang sembarangan, ninggalin tas di meja food court dsb. Pokoknya, suka-suka aja.
Pernah ada cerita dari orang Indonesia yang kehilangan sepeda. Bertahun-tahun tak ada kabar dari kepolisian, yasudahlah ya, dia pulang ke Indonesia karena study sudah selesai.
5 tahun kemudian, saat kembali lagi ke Jepang, dapat laporan kalau sepedanya ketemu. Bener lho, masih utuh. Dikembalikan. Si empunya barang malah bingung, lupa. Saking lamanya.
Karena ada nomer polisi. Macam plat nomer motor atau mobil di Indonesia. Wajib tempel di sepeda. Saat beli, sekalian daftar diri, dengan ktp Jepang. Jadi ya ga sembarang orang bisa beli sepeda.
Okelah, itu sesuatu yang memang barang pasif, besar dan kelihatan mata. Lha kalau kasus saya gimana?
Beberapa hari lalu, belanja di Tanoki Koji. Seperti Malioboro-nya Sapporo. Pertokoan berjajar sepanjang kanan kiri. Bentuknya memanjang sampai 7 blok. Semua orang jalan kaki. Sepeda harus dituntun.
Sepeda di parkir depan toko. Saya belanja kacang panjang dan kawan-kawannya. Setengah jam kira-kira. Pas balik ke parkiran, bengong, kaget, degdegan.

Image may contain: 2 people, people walking and outdoor

Bukan, bukan sepeda yang hilang. Si putih masih nangkring di sana. Tapi ada yang aneh. Saya elus-elus. Khawatir salah. Etapi bener kok. Sadelnya bunga-bunga. Kode gembok juga sama.
Sebelumnya, di keranjang sepeda ada 2 bungkusan. Kresek kuning isinya 2 chocobi dan 1 ikat pisang. Kresek putih cuma berisi jeruk, snack sevel dan milktea. Terikat kencang di stang.
Lah, sekarang, cuma ada 1 bungkusan. Duh. Saya celingukan. Berharap nangkep seseorang yang ketahuan makan chocobi atau pisang milik saya?
Tapi ga ada. Semua orang sibuk jalan ke sana kemari. Rame karena sudah sore. Banyak turis. Banyak anak-anak. Lagian ya apa bedanya punya saya dengan yang lain? Kan ga ada nama pemilik.
Mendadak sedih. Lemas. Itu snack impian dari kecil. Baru hari ini ketemu barangnya. Karena memang ga dijual di sembarang tempat. Susah nyarinya. Sekalinya ketemu. Malah hilang.
Tau chocobi? Jajanan kesukaan Shin-chan. Sering muncul di serial Crayon Shin-chan. Bahkan di bungkus kardusnya ada gambar kepala Shin-chan dan buaya ijo lagi mringis.
Saya mengemas belanjaan. Menuntun sepeda menembus keramaian. Lalu mengayuh perlahan. Sambil ngawang-ngawang.
Lapor? Masa makanan dilaporin? Trus nanti pak polisinya bakalan bilang, "Mbak, chocobi-nya ketemu. Kardusnya utuh. Tapi kosong. Karena ditemuin di tong sampah." Hhe. Wagu.
Mau beli lagi, jauh, harus jalan kaki 2 blok, dorong sepeda pula. Lagian sudah terlanjur patah hati. Kapan-kapan saja ke sana lagi. Kalau hatinya selesai diobati. Kan move on juga butuh waktu.
Sebenarnya bukan salah yang ngambil, mungkin dia lapar. Salah saya yang teledor. Karena merasa aman, yakin ga akan pindah tangan.
Mungkin begitu kalau kita sudah merasa nyaman dengan seseorang, sesuatu, jabatan, harta, apapun itu. Karena terlalu merasa aman, tingkat pengamanan melonggar. Kalau sudah kecolongan. Baru sadar.
Kita yang sudah nyaman dan berangan-angan. Berlanjut ke pelaminan. Menghabiskan masa tua bersama. Ternyata hanya dianggap sebatas teman. Selingan. Hiburan dikala dia bosan dengan pekerjaan.
Kita yang sudah merasa mapan. Malas bermimpi apa-apa. Bahagia mempermainkan juniornya. Belanja apapun yang disuka. Hingga lupa, gaji dan posisi hanya tentang waktu saja. Suatu saat berganti. Kembali ke nol lagi.
Paling menakutkan, ahh, tamparan untuk saya sendiri kalau ini.
Yang sering merasa aman dari murka Allah. Lalu santai berbicara semaunya. Tak sadar menyakiti-Nya lewat kata, perbuatan dan prasangka. Hingga lupa, tanpa Sang Pemilik Raga, saya bukan apa-apa.
Sering lalai tapi masih santai. Alasan nanti-nanti padahal kan mati tak tunggu tapi. Apalagi soal hati, yang sering goyah. Kering. Sampai jadi aking. Baru sadar, kalau ternyata kenyamanan memang diperlukan, tapi kalau keterlaluan, uhh.. bisa melenakan.
Nyaman sih, bahagia sih, tapi kok ga dilamar-lamar. Jangan-jangan kitanya nyaman, dianya enggak? Duh Gusti... Paringono ati sing jembar...
Seaman dan senyaman apapun itu, harus tetap dijaga, dirawat, diperhatikan, dibaiki dan disayangi. Nanti nyeseknya kalau sudah diambil orang.
Semacam cinta yang harus tetap dibina. Meski sudah menikah. Punya anak dua. Bukan bersama hanya karena tuntutan tanggung jawab berkeluarga. Tapi juga rasa tak mau kehilangan. Saling membutuhkan.
Yang namanya hubungan, pasti ada sedih, marah, masalah. Ga bisa bahagia terus. Kalau ada, berarti boneka. Ga punya hati dan naluri dasar manusia. Insan perasa.
Tapi kalau sudah cinta, tetap nyaman bagaimanapun kondisinya, kan?
Dan, untuk siapapun yang memakan Chocobi dan pisang itu, semoga sehat, bugar, nyaman, aman, dilindungi Allah dan diberkahi cinta yang memesona.
*Marintha Violeta
Sapporo, 2 Agustus 2018, 22.29

Rabu, 05 September 2018

Namaku, Sejarah Sakitku

Siapa sih yang tidak khawatir kalau bayi yang belum genap 3 hari itu tak kunjung menggeliat? Terlelap. Sangat lelap. Tak bangun. Tak pula minum air dari sang ibu, berhari-hari.

Siapa juga yang tidak cemas ketika tubuh mungil itu mulai berwarna kuning? Mata kuning, kuku kuning, kulit seluruh tubuh menguning. Mirip lemon.

Ayahnya mengguncang tubuh buah hati itu. Tak respon. Tak menangis. Gawat!

Berdebar-debar, mereka membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Berharap semua belum terlambat. Iya, berharap dalam ratap. Akhir bulan Juni, tahun 1992, internet belum ada. Belum banyak informasi tentang penyakit aneh entah apa itu.

Dokter memeriksa. Dan, ya, positif! Bayi itu positif terkena hyperbilirubinemia.

Pasangan muda itu saling tatap. Panjang sekali nama penyakitnya!

Hyperbilirubinemia adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir. Icterus adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahan warna menjadi kuning pada kulit, konjungtiva (mata), mukosa dan alat tubuh lainnya.

Bila tak segera diatasi, serentetan resiko menghantui. Kerusakan otot, disfungsi organ, hingga retardasi mental. Pucatlah wajah wanita muda itu.

Dokter menarik napas, katanya kemudian, "Harus terapi sekarang juga, dengan Fototherapi Propilaksis. Penyinaran dengan sinar ultraviolet dalam inkubator. Dan tentu dalam perawatan khusus, minimal 3 hari. Kita lihat responnya nanti."

Bersyukur tinggal di kota yang lengkap peralatan medisnya. Tanpa sinar ajaib itu, entah bayi bermata belok itu bisa bertahan.

Maka begitulah, saya kemudian dapat menangis kencang. Bergerak aktif dan hidup normal hingga sekarang.

Jadilah, sinar penyelamat itu disemat dalam nama. Dengan tambahan dari gabungan nama orang tua: Maryono dan Sulistiyonorini. Keluarlah nama unik, Marintha Violeta.

Hha... Masih bayi saja sudah begitu pelik. Lihat kehidupannya, semakin menggigit.

Katanya, "Hiduplah dengan normal, lalu berbahagia dengan apapun pemberian Allah." 

Tapi ternyata, menjalani kehidupan tak melulu dengan tawa. Duka dan lara menjadi bumbu yang mau tak mau dirasa. 

Seperti saat berkuliah di Poltekkes Kemenkes Semarang. Belajar menjadi perawat itu menguras jiwa.

Hari pertama Praktik Kerja Lapangan di ruang bersalin rumah sakit, saya membantu persalinan kandungan belum genap 6 bulan. Janin itu memaksa keluar. Pecah ketuban.

Bidan memberikan janin mungil itu pada saya. Tak menangis. Tak respon. Saya pacu jantungnya. Beri oksigen. Tapi tepat dalam genggaman tangan, ia meregang nyawa. Tubuh saya gemetar hebat. Tenggorokan tercekat. Surga rumahmu, Sayang.

Tahun 2013 lalu, dengan restu Sang Kuasa, toga disemat dalam haru. Gelar perawat mengekor di belakang nama. Akhirnya.

Yang paling menyakitkan ketika 2 tahun lalu  berpisah dengan orang tua karena harus bekerja di Arab Saudi. Desakan ekonomi dan dua adik yang belum mandiri, membuat saya tak bisa berdiam diri di negeri ini. Lihat saja demo perawat di televisi yang tak berkesudahan.

Benar memang ungkapan, "Kita tak bisa meraih apa yang ada di depan sampai melepaskan apa yang ada di belakang." Termasuk membebaskan diri dari zona nyaman yang melenakan.

Karena toh setelahnya harus menjalani Long Distance Marriage karena saya di Spanyol, suami di Jepang. Uhh, luar biasa rasanya, perbedaan 7 jam membuat kami jarang bisa bertemu, pun hanya via video call. Meski saya sudah kembali ke Indonesia 9 bulan ini, rindu masih terhalang tempat dan waktu. 

Bila nama Violeta yang diberi orang tua adalah doa agar saya terus maju, berusaha dan selalu bersyukur atas kehidupan. Bayi yang meninggal dalam genggaman itu membuat saya tak boleh menyerah pada ganasnya kenyataan.

Seperti kupu-kupu yang menunjukkan bahwa kegelapan sangat mungkin terjadi. Tapi buktikan, setelah bangkit dan berdiri, akan mengepak gagah nan berani. Meski tak sempurna, meski sayapnya berwarna hitam.

*Violeta
Semarang, 5 September 2018

Senin, 03 September 2018

Anak-anak di Jepang itu nakal-nakal nggak, sih?

#Violet 28



Bocah laki-laki yang lagi duduk di kursi sensei (guru) itu namanya Kyoya. Usianya 10 tahun. Sekarang kelas 4 SD. Setiap sabtu, kami belajar bareng. Dan, waktu kemarin saya datang, papan tulis sudah penuh dengan huruf Kanji.

Wah, bikin dia mau nulis kanji itu gurunya harus salto-salto dulu. Sebulan yang lalu, saat pertama kami bertemu, dia selalu alesan kalau sudah bahas kanji. Ngerjuknya ga main-main, lho. Ngantuk, bener-bener merem itu bocah. Gurunya ngalah. Diambilinlah kasur dan selimut. Dia tidur beneran di lantai kelas. 

Minggu depannya lagi, laper. Minum aja terus kerjaannya. Trus tumpah. Atau sengaja ditumpahin, ngepel kan dia. Cucok! Waktu belajar ludes cuma buat minum-tumpah-ngelap-minum-tumpah-ngelap.

Sabtu depannya, riweuh main sama anjing. Digendong-gendonglah. Duduk di jendela. Mainan bola. Dan kalau dia lompat-lompat, saya yang jantungan. Rumah Jepang itu kan dari kayu. Kami di lantai 2. Nah kalau ambrol piye jal? Tapii... Kalau sudah bahas matematika, wah, semangat dia, langsung duduk anteng di kursi. Makanya, sabtu kemarin itu rekor, dia mau nulis kanji sebanyak itu. Walaupun saya juga ga paham arti tulisannya.

Malah dia yang nunjukin. "Cotto mate, kore wa kanji fish, sensei!!" - tunggu, ini kanji ikan, bu guru!!

Iya, jadi, saya ngajarin dia Bahasa Inggris, dia ngajarin saya Bahasa Jepang. Haha..  Cemmana pula saya yang perawat ini malah duduk di kursi sambil dikte pelajaran ke murid.

Di facebook, sering berseliweran video tentang betapa tertib dan penurutnya anak-anak di Jepang. Bener-bener ngikutin aturan dan pendiam. Bahkan, dulunya saya juga percaya kalau di Jepang itu ga ada istilah tantrum. Anak nangis histeris karena untuk mendapatkan sesuatu. 

Hoallah, Jeng. Itu karena kita cuma liat yang direkam media. Pas saya lagi motret si Kyoya itu, adeknya, Sharika, lagi nangis gulung-gulung minta pulang. Jian. Tobat, rak?

Jerit-jerit pake bahasa Jepang yang blas saya ga paham maunya apa. Baru diem beberapa menit kemudian setelah diajak main origami dan disogok permen coklat 1 strip. Nah kan, jadi sebenarnya, di manapun negaranya, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka punya dunia berbeda yang menggemaskan. Ya, kadang buat kepala guru-gurunya nyut-nyutan juga. 

Tapi ada kejadian menarik, saat anak dari teman saya bertengkar dengan teman sebayanya di sekolah, tidak akan ada guru yang melerai.

Tubuh-tubuh mungil itu saling dorong dan teriak. Salah satu roboh ke tanah. Tapi berdiri lagi. Mencoba melawan dengan mendorong lawannya. Sambil saling melotot. Sengit. Gurunya hanya melihat dari kejauhan. Kenapa? Karena katanya, "Bertikai pada usia anak-anak membuatnya belajar proses kematangan mental dan melewati fase saling mengenal untuk menjadi kawan." Duhlah, baru tau saya tentang teori itu.

Kata Muhammad Ali, "Children make you want to start life over." Ya, anak-anak membuatmu ingin memulai hidup lagi dan lagi.

"While we try to teach our chidren all about life, our children teach us what life is all about." Kalau ini menurut Angela Schwindt. Jadi, selama ini kami, para orang dewasa ini, sekuat tenaga mengajari anak-anak tentang kehidupan, yang pada nyatanya, anak-anak itulah yang sedang mengajarkan kami kehidupan. Tawa mereka yang lepas, anggukan kepala yang mantap, atau teriakan yang lantang, adalah dunia yang perlahan hilang saat usia beranjak matang.

Ahh, jadi begitu, memang, di kelas itulah Kyoya-kun dan Sharika-chan yang sedang menjadi sensei. Membuat saya mengangguk takjub, setuju, atau gemas dengan kepolosan keduanya, yang sejujurnya, saya rindukan di diri saya sendiri. Anak-anak itu, adalah dunia, yang unik, penuh nyali, dan tak pernah berhenti mengayuh mimpi. Keusilan yang membuat mereka, selalu istimewa.

Jadi, anak-anak di Jepang itu nakal-nakal atau tidak?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

*Marintha Violeta Sapporo, Hokkaido, 3 September 2018

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...