Tampilkan postingan dengan label TKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TKI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2018

Perawat Membedah Kepala Berani, Tapi Takut Keluar Negeri?

Selama 1,5 tahun berada di Arab Saudi, mengira hanya saya yang menjadi perawat private, ternyata di luar sana banyak juga yang senasib begini. Tersebar di kota-kota Arab Saudi. Sayangnya, belum banyak yang show up ke media atau terang-terangan menceritakan pengalamannya. Jadi sudah tentu informasi tentang private homecare di Arab Saudi itu langka.

Jika mencari di google, kebanyakan tentang lowongan kerja. Tapi cerita suka dukanya, duhh, limited bahkan tidak ada. Saya sendiri mencari informasi dari si A dan si B lalu disalurkan ke si C.

Padahal, penyakit semakin beragam dan tingkatannya menurun. Usia 30an tahun saja sudah banyak yang mengidap diabetes, jantung dan kanker. Bagi mereka yang tak ingin dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan, menghabiskan puluhan hingga ratusan juta karena harus sewa kamar, perawat homecare solusinya!

Sayangnya, jenis lowongan ini jarang sekali dilirik pasar. Perawat inginnya bekerja di rumah sakit mentereng dengan posisi gemilang. Mungkin itu sebab surat lamaran ke RS besar menumpuk tak terkira. Kata teman yang bekerja di RS terkemuka, tidak semua surat lamaran kerja terbaca. Karena bisa jadi loker hanya 20 perawat, tapi yang masuk hampir 800 map lamaran kerja.

“Mana ada waktu kita baca CV satu-satu, Vii?” katanya getir.

“Terus nasib sisanya gimana?”

“Kemarin aku baru bakar 300an map lamaran perawat. Duhh, rasanya ngeri. Tapi mau gimana lagi?” Dia menggigit bibir. Antara bersalah dan tak ada pilihan.

Ngeri! Iya, ngeri, jadi rasional sekali jika hampir 20an surat lamaran yang saya kirim ke RS besar tak ada satu pun yang berujung panggilan. Berjamaah hilang tanpa jejak.

Ketika di kampus, kami juga tak memiliki banyak pandangan. Bayangkan, hampir 1 angkatan mengejar posisi di RS yang sama. Padahal kursinya tak seberapa. Teman menjadi lawan, berlomba habis-habisan.

Bahkan ada yang diam-diam menghanyutkan. Diam saja kalau RS A ada lowongan, tahu-tahunya sudah diterima. Cengengesan saat ditodong, “kok nggak ngabarin sih kalau di sana ada bukaan?” Yang lain, merengut kecolongan.

Sedih sih, tapi ya gimana. Mungkin memang nasibnya. Kalau orang jawa bilangnya ‘bejo-bejonan’.

Ada pula yang rela menganggur berbulan-bulan. Demi diterima di RS terkenal. Tak apalah ongkang-ongkang dulu, yang penting nanti bisa kerja di RS internasional dekat rumah.

Ini serius, ketika saya mengirim lamaran ke Bandung, saya coba mengajak teman-teman untuk melamar di sana. Tapi jawabannya hampir sama, “JAUH!” Duh, padahal masih di Pulau Jawa juga.

Jadi sekarang kalau saya ajak hijrah keluar negeri, jawabannya lebih dramatis, “GILA LO, VII!! ITU JAUUHHHH BIANGGEETTT,” sambil teriak heboh kaya mau diajak ke akhirat. Padahal ya masih di bumi yang sama.

Ajakan saya sebenarnya bukan tanpa alasan. Tidak mungkin saya menawari mereka yang sudah memiliki posisi mapan. Justru tak tega dengan sejawat yang keluhkan gaji segini, perlakuan begitu. Tidak sesuai dan sering terdzolimi, katanya. Waktu diajak kerja sambil umroh gratis plus bisa haji, alasannya bejibun ribuan.

Saya harus bantu bagaimana lagi?

Mendoakan agar segera diberi jalan keluar?

Baiklah, akan saya ceritakan 2 kisah yang beberapa hari ini mengganggu pikiran. Ini kisah sahabat sendiri. Nyata. Bukan bualan. Apalagi hoax.

2 orang ini nitip doa jodoh. Minta dibacakan saat umroh. Karena keduanya sama-sama single dan sudah berumur matang. Akhirnya saya bacakan, dengan niat, doa dan di tempat yang sama. Dibaca berulang-ulang.

Awal bulan ini, 1 sahabat mengabarkan jika bulan depan akan menikah. Saya kaget! Secepat itu? Iya, dia juga kaget. Tapi kemudian bercerita segala prosesnya. Dari mendekati orang tua, proses ta’aruf, lamaran, hingga persiapan-persiapan detail seperti membaca buku-buku seputar pernikahan dan kiat-kiat menjadi keluarga yang samawa.

Sahabat satunya. Benar-benar tak ada kabar. Jangankan pernikahan, dekat dengan siapa saja tak ada. Setelah saya tanya, ternyata tak pernah ke mana-mana. Jangankan memperbaiki diri, bersosialisasi saja tak mau, apalagi membuat CV taaruf atau bertemu kyai minta dikenalkan. Ya bagaimana mau ketemu jodohnya?

Saya selalu percaya kekuatan doa, tapi tanpa usaha, doa kita hanya tertimbun di awan-awan, entah kapan dijatuhkan. Usaha itu bentuk dari ikhtiar. Melakukan upaya seoptimal mungkin. Benar-benar sampai mentok mepet tembok. Setelah itu baru tawakal.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah: 10)

Jadi teman, cobalah untuk membuka pintu selebar-lebarnya. Keluarlah mencari kesempatan. Ambil peluang yang memang tersaji di depan mata. Genggam resiko dengan keyakinan untuk maju, tumbuh besar dan mendekat pada kuasa Allah. Tanah kita bercocoktanam itu seluas muka bumi. Jika rezeki belum kelihatan hilalnya di sana, bisa jadi tertumpuk di sini.

Beranilah mengekspresikan diri di mana pun dan kapan pun. Let other people chase you by doing something phenomenal! Jangan sampai ketakutan justru mengkerdilkan kemampuan diri. Membedah kepala dan mengeluarkan otak manusia saja berani, masa keluar negeri tidak bernyali?

Jika Arab Saudi dirasa terlalu jauh, bisa pilih Singapura yang sedang menanti ekspansi perawat-perawat pemberani.

Semoga kita tidak menjadi manusia instan yang mau mudahnya saja. Tapi menjadi manusia intan yang sukses karena berproses. Bertahan dari dahsyatnya pembakaran perut bumi. Lalu keluar menjadi pribadi yang bersinar terang.

‘Irak bin Malik radhiyallohu ‘anhu pergi dan berdiri di depan pintu masjid ketika selesai shalat Jum’at, memanjatkan do’a, “Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, menunaikan kewajiban-Mu dan bertebaran (untuk mencari karunia-Mu), sebagaimana yang Engkau perintahkan kepadaku, maka limpahkanlah karunia-Mu kepadaku karena Engkau-lah sebaik-baik Pemberi rizki.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

*Violeta
Jeddah, KSA. 16 Februari 2017. 09.05 pm

Minggu, 23 September 2018

Segumpal Kapas di Saku Sekar

#Part2

Usianya baru 14 tahun akhir bulan depan, dengan sanggul mangle sisir disusuk di kepalanya yang kecil. Kembang goyang bergerak-gerak. Untaian melati menjulur di dada kanan. Kebaya putih pinjaman dan kain depat dilepe membalut tubuh kurus itu. Beberapa kali menarik napas panjang karena stagen terlalu kencang melilit perutnya.

Sekar terduduk lemas. Jika saja riasan dihapus, akan nampak mata cokelat layu bekas menangis semalaman. Bibir pucat. Tulang pipi menonjol karena beberapa hari tak mau makan. Bahkan pagi ini perias memaksanya meneguk segelas teh manis agar tak pingsan saat dipajang nanti.

Abah dan ibu mempersiapkan semua keperluan hari yang harusnya istimewa ini. Tapi tidak dengan Sekar. Memilih mengurung diri berhari-hari di kamar. Seperti mayat hidup sekarang. Matanya menerawang entah kemana. Tak dapat pula berbicara banyak karena tenaganya habis untuk mengumpulkan serpihan hati yang berserakan di bawah kasur. Tertumpuk-tumpuk dengan gumpalan kapas bantal.

Ibu masuk kamar tepat saat musik di luar menggaung memekakkan telinga. Duduk disampingnya. Mengusap-usap punggung Sekar tanpa kata. Pidato-pidato para pemuka desa. Doa-doa dan harapan dirapalkan. Tapi tidak di hati Sekar. Ia sedang memeluk nisan emak dan bapaknya, meraung-raung di sana.

Satu bulir air mengalir di pipi yang merona bedak merah ketika mendengar kata ‘sah’ dari pengeras suara yang dipinjam dari mushola kampung.

Orang-orang ramai menonton Sekar keluar rumah. Menemui Jaka yang mengenakan jas takwa putih berpadu bendo dan kujang di belakang pinggang. Sekar menyeret kaki. Sendal selopnya terlalu besar.

Semua sumringah. Berbaris satu-satu mengucap selamat. Tapi tidak di hati Sekar. Ia sedang sibuk menabur bunga di makam emak. Mencabuti rumputnya. Merapikan tanah-tanah yang melongsor di sekitar nisan.

Matahari beringsut turun. Wayang golek mulai beraksi dengan kisah-kisah jenakanya. Gamelan ditabuh menambah ramai suasana. Anak-anak berebut duduk di depan. Bapak-bapak tak mau ketinggalan.

Jaka dan Sekar diantar masuk ke rumah. Selesai sudah drama yang menyesakkan dada. Hati Sekar mati rasa. Tak mengerti benar apa yang sebenarnya terjadi. Kalut dengan semua keramaian di luar kehendaknya. Tubuhnya di sini, tapi hatinya terlelap di antara gundukan tanah tempat emak dan bapak tidur panjang.

Abah menyibak tirai kamar Sekar. “Keluar dari rumahku sekarang,” kata abah pelan, tapi tajam. Tepat sasaran menghantam denyut nadi Sekar yang sedang melepas satu persatu kembang goyang.

Sekar memekik. Kembang goyangnya terpelanting di lantai. Matanya membulat. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Tugasku sudah selesai. Tak sudi aku punya anak kurang ajar seperti kamu, Sekar! Cuiiih!”

“Ta-pi, ta-pi… A-baahhh…” Pandangannya bergantian dari abah, ibu, abah, ibu. Mencoba mencari pembenaran dibalik kalimat itu. Ibu berdiri di belakang abah. Menunduk tak bergerak. Meremas-remas tangannya yang basah.

Abah menarik lengan Sekar keluar kamar. Menyeretnya ke arah dapur. Jantungnya bergemuruh memburu. Air matanya tumpah di atas riasan yang belum sempat dibersihkan. Orang-orang menatap kebingungan. Tepat di muka pintu belakang, Jaka berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi.

“Pergi sekarang! Kamu bukan anakku lagi!” Tak sempat Sekar mengiba, pintu dibanting tertutup. Riuh wayang golek terdengar jelas dari depan rumah. Mengisahkan Putri Kerajaan Sunda permaisuri Hayam Wuruk yang berakhir bunuh diri setelah Perang Bubat.

“Sudah tidak ada yang bisa diperjuangkan lagi, Las.” Sekar menyandar di dinding bercat lembayung. Serbet kotak-kotak bertengger di pundaknya. “Jaka tidak seperti yang aku kira. Aku salah. Pernikahan yang salah. Karena dari awal memang sudah salah.”

“Pasti ada jalan lain,” ujar Lastri seraya menyapu kamar yang luasnya hampir setengah lapangan futsal.

“Kami ke rumah Jaka. Tinggal dengan orang tuanya. Aku melakukan semuanya demi dia. Buruh cuci, keliling menjual keripik dan mencari rumput untuk sapi tetangga. Tapi uangnya justru dia habiskan untuk main judi dan perempuan. Padahal dia tahu aku sedang hamil Nur.”

Lastri menggiring butiran pasir dan segumpal kapas masuk pengki. “Ada banyak rencana Tuhan yang tidak pernah kita tahu. Di balik kebencian kepada hidup. Kita jadi tahu rasanya nerimo. Menerima kenyataan.”

“Menerima apa? Perempuan itu dibawa ke rumah, Las. Dikenalkan sebagai teman kerjanya. Dia itu cuma supir truk. Mana ada teman perempuan di pabrik. Awalnya aku percaya. Sampai malam itu mereka tidur di kamarku, Las.”

Air menggenang di sudut matanya yang dipenuhi garis-garis halus. Bertahun-tahun dia menyimpan luka itu sendirian. Semua kesakitan yang membuat Sekar harus berlari dengan sisa tenaga yang ia punya.

“3 bulan setelah cerai, aku ke sini. Membersihkan penyakit masa lalu tidak semudah menyapu lantai.” Sekar menghempaskan napas. Membuang sesak di dada. “Perabotan sudah bersih. Jadi berangkat, kan? Sebelum majikan datang.”

“Umroh? Jadi. Tunggu, sedikit lagi selesai.”

#selesai
#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksiTKI

Segumpal Kapas di Saku Sekar


#Part 1

Sekar meringkuk di sudut ruang. Matanya membulat. Tubuhnya bergetar. Bahkan jika sanggup didengarkan, jantungnya berdebar kencang. Dia tak bergerak dari sudut sejak satu jam lalu. Gadis 9 tahun itu masih tak mampu mencerna apa yang orang dewasa katakan. Pagi tadi, emak dan bapak mengaku jika mereka bukan orang tua Sekar.

Pemilik kulit kuning langsat tak paham. Tidak. Dia benar-benar kebingungan. Kenyataan ini. Semua yang terjadi terasa begitu cepat. Orang tuanya, tanpa persetujuan Sekar membongkar isi lemari. Memasukkan baju-baju Sekar ke dalam tas anyaman yang biasa dibawa emak ke pasar. Buku-buku dijejalkan bapak ke dalam tas sekolah. Sebagian masuk kantong plastik bekas terasi.

Melihat kekacauan itu, Sekar tak beranjak dari kasur. Bertanya-tanya, pertanyaan yang sama, “apa yang terjadi?”

Berkali-kali pula mulut mungilnya memanggil-manggil emaknya yang sekarang sibuk melipat seragam sekolah Sekar, lalu dimasukkan ke plastik warna putih. Itu khusus tempat sayuran. Bebas terasi. Emak tak membuka mulutnya lagi setelah berkata, “orang tua aslimu akan datang menjemput.” Hanya itu yang Sekar tangkap. Tanpa penjelasan apapun.

“Saat kamu kecil, mereka menitipkanmu ke sini. Sekarang, sudah saatnya kamu pulang,” bapak bergumam lirih.

Tapi ia semakin tak mengerti. Kenapa dititipkan? Kenapa mereka baru memberitahunya sekarang? Dada Sekar sakit sekali. Semakin pertanyaan itu dilempar ke emak bapak, semakin mereka bungkam, semakin nyeri di ulu hati. Sekar ingin menangis. Tapi tak ada air mata menetes. Masih sulit mencerna semua informasi yang datang bertubi-tubi. Ia merasa semua ini hanya mimpi yang akan berakhir ketika bangun nanti.

“Sini, Nak,” kata perempuan berambut pendek. “Jangan takut. Sekarang, ini rumahmu.” Senyum perempuan itu merekah. Tapi Sekar tak suka dengan tatapannya, seperti ular yang siap memangsa yang nantinya harus dipanggil dengan sebutan ibu. Sekar semakin merapat di sudut.

Sejak sebulan Sekar pindah ke rumah baru, dengan orang tua baru, hampir selama itu pula setiap malam ia menangis memeluk bantal. Gadis bermata cokelat itu tak dapat menangis kencang. Terakhir ia berteriak memanggil emak saat malam, Dwi, membentaknya. Mengancam mengadu ke ibu. Maka sejak saat itu, Sekar memilih menangis dalam diam.

“Jangan pergi kalau lantai belum bersih,” Tika menunjuk ember dan lap pel di dekat sumur. “Oh iya, piringnya juga jangan lupa dicuci,” tambahnya lagi sebelum melenggang pergi dengan Dwi dan Ratna. Sebenarnya itu bukan kali pertama, sejak datang, semua pekerjaan rumah Sekar yang melakukan. Kecuali memasak. Ia takut api.

Selepas sekolah, mencuci dan menjemur pakaian milik orang tua dan ketiga saudaranya, Sekar masuk rumah dengan keringat membanjiri tubuh. Siang itu terik matahari benar-benar menggantang langit. Tapi bukan itu yang membuat ia kuyup juga oleh air mata. Bukan perlakuan ibu dan ketiga kakaknya yang hingga kini, Sekar ragu apakah mereka benar saudara kandung.

Tapi berita siang itu seperti badai yang menyapu seluruh kerinduannya pada emak yang setiap pagi menyisir rambutnya. Emak yang menyanyikan lagu Bubuy Bulan sebelum tidur. Emak yang selalu ia tangisi setiap malam, pagi ini ditemukan terbujur kaku di bangku rotan.

Ia menangis. Berteriak. Histeris. Memukul-mukul bantal yang sobek di sana sini. Kapasnya berjatuhan di bawah kolong kasur. Genap 3 tahun Sekar tak bertemu emak. Sejak ia pulang ke rumah yang bukan rumahnya. Berkali-kali minta diantar ke rumah emak. Berulang kali juga ibu berkata, “Tunggu abah datang, kita ke sana bersama. Aku tak tahu jalannya.”

Hingga gadis itu tertidur dalam tangis di teras rumah, abah tak kunjung pulang.

Kali ini ia mengepang rambutnya. Dibuat serapi mungkin. Dengan sedikit poni menghias wajah oval dan warna kulit secerah delima, Sekar pamit berangkat sekolah. Degup jantungnya berlompatan. Sesekali tertawa geli. Ada rasa yang menggelitik relung hati sejak ada yang menunggunya setiap pagi di persimpangan jalan.

“Siap diantar, Tuan Putri?” Hati Sekar berdesir. Bibirnya menyungging malu-malu. Berjalan bersisian dengan laki-laki yang dikenalnya minggu lalu. Sekolah mereka berbeda, itu sebab pertemuan hanya sampai di batas sekolah. Tapi cukup membuat perasaan Sekar bermekaran.

Diakuinya, Jaka satu-satunya yang mau mendengar keluh kesah Sekar. Jaka yang mampu membuatnya merasa tak sendirian sejak bapak menyusul emak. Luka-luka hatinya perlahan terobati oleh canda yang Jaka lontarkan setiap hari.

Mereka sedang menikmati semilir angin di tepi sawah sepulang sekolah ketika suara abah menggelegar dari kejauhan. Kedua sejoli itu tersentak. Mereka beradu pandang. Belum sempat Sekar berkilah, tangan kirinya dicekal abah. Diseretnya tubuh Sekar sampai rumah.

“Memalukan!! Susah-susah disekolahkan malah pacaran!” Tubuh Sekar dibanting di lantai semen ruang tamu. Kepala Tika, Dwi dan Ratna menyembul di pintu dapur. Dengan mata berbinar-binar. Seperti menyaksikan perhelatan akbar wayang di kelurahan. Benar, di kelurahan sabtu lalu, Ratna memergoki Sekar dan Jaka bercakap di selasar kantor Sekretaris Lurah.

“Ma-af… A-bah..,” suaranya terbata. Tenggelam dalam isakan.

“Menikah saja! Biar tahu rasa!”

“Jangan, Abah. Sekar mau sekolah,” ratapnya. Menangis sejadinya di kaki abah.

“Tidak perlu ke sekolah lagi. Kamu sudah dikeluarkan!” Abah melepas kakinya dari pelukan Sekar. Menendang kursi bambu yang baru dibuat sebulan lalu. Hati Sekar berantakan. Tak pernah ia melihat abah semarah ini.

Dikeluarkan dari sekolah? Sekar menangis mendekap tas sekolah erat-erat. Ia ingin sekolah. Ia ingin menepati janjinya kepada emak. Sekolah sampai SMA lalu cari kerja di kota. Sekar ingat benar janjinya. Dan ia rindu emaknya. Sangat rindu.

bersambung..

#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

*Marintha Violeta

Nginap di Bandara, Serem Ga Sih?

Waktu bilang mau nginap di Bandara, orang tua dan mertua khawatir kalau saya kenapa-kenapa. Bukan diculik juga sih.
Sampai minta saya pilih kursi yang paling nyaman, selonjoran dan lain sebagainya.
Ya dikira waiting room-nya mirip di poliklinik puskesmas yang kalau malam sepi, senyap, remang-remang dengan bangku kayu saling menatap kekosongan.
Pas cerita kalau Bandara Kuala Lumpur itu seperti Paragon Mall di Semarang, mereka malah ketawa. Padahal jane yo lebih bagus ini. Karena lantainya berkarpet.
Sebenarnya juga, saya benar-benar ngemper dan tidur. Ya ga lelap-lelap amat karena harus jaga barang-barang. Kecuali kalo rame-rame lho ya, bisa gantian melek. Nah ini seringnya sendirian.
Kalau emang udah ngantuk banget, saya harus tidur. Posisinya, macam di foto itu. Barang-barang mepet badan. Kalau perlu ditindih. Jadi kalau ada yang usil bisa kerasa.
Udah kebiasaan bisa tidur di mana aja kalau saya. Angkot, bawah meja atau toilet. Haha.
Kadang juga tidur di kursi yang berjajar. Tapi kursinya udah pada diganti bergelombang, euy. Ga bisa buat bobok lurus badan. Encok yang ada.
Jadi tiap jalan ke sana kemari, sambil lirik-lirik sebelah mana colokan, papan pengumuman, toilet, posisi cozy buat bobok cantik dan jauh dari orang-orang yang sekiranya membahayakan.
Bukan shu'uzon lho ya ini. Tapi jaga diri.
Kenapa ga nginep di hotel? Padahal jarak penerbangan 12 jam.
Check in jam 4 pagi mamen. Ngapain subuh-subuh saya harus membelah hutan kelapa sawit.
Ada hotel juga di lantai 2A. Juga ada hotel kapsul di basement. Tapi jelas ada harga dong. Untuk kaum irit tur pelit macam saya. Yang begini juga sudah membahagiakan.
Jangan dikira lho mereka yang bisa keluar negeri itu punya uang banyak. Duh Gusti, padahal mau beli makan aja mikir 10 kali. Uangnya cukup ga ya. Worth it sama makanannya ga ya. Di depan papan menu doang rasanya saya udah mau pingsan.
Tapi sebenarnya ngemper di bandara ga buruk-buruk amat. Ga seseram yang mereka kira.
Di samping saya itu Movie Lounge. Film yang diputer 24 jam nonstop di 2 layar TV super lebar. Tapi ya gitu, ga bisa request. Pas malam ini kok ya filmnya ga bagus-bagus amat.
Dulu pernah nonton di situ film Beauty and The Beast, Transformer dan entah judulnya apa, tapi bagus. Kalau filmnya bagus, penontonnya rame.
Image may contain: indoor
Sering ya, kita menganggap hal-hal aneh itu tidak layak dilakukan. Tidak pantas. Hingga mudah bilang kalau mereka-mereka yang hobinya jalan-jalan tapi pilih maskapai murah dan menggelandang di bandara menjadi sebuah kesalahan.
Sering lho saya baca dan dengar kalau maskapai yang saya tumpangi ini tidak layak terbang. Apalah. Apalah.
Sampai ada yang bilang, "Naiknya kok itu sih? Yang lain aja lah!"
"Kok tidur di bandara, sih. Kalo ga punya uang ya ga usah jalan-jalan dong!"
Hmm.. Begini, Arief Rahman menulis di halaman 116 dalam buku Creator.inc, "Jika kita tarik kasus ini pada bisnis-bisnis besar sekalipun, kita akan menemukan satu pola yang sama bahwa kecepatan, kualitas dan biaya adalah tiga fitur yang saling 'kanibal' (Bab Impossible Triangle).
Harga tiket maskapai penerbangan Garuda dibanderol dengan harga mahal, tetapi kita mendapatkan layanan terbaik, jarang mengalami delay, dan penumpang dimanjakan.
Sementara maskapai penerbangan low cost seperti Air Asia membanderol tiket mereka dengan murah dan layanan yang biasa-biasa saja.
Namun, kedua maskapai ini memiliki konsumennya sendiri dan menjadi pemimpin pasar di kelasnya masing-masing.
Untuk itulah saya menyarankan, buatlah karya yang fokus pada satu atau dua fitur produk saja, pilih antara kualitas, kecepatan, atau biaya."
Ga asing dengan itu, kan ya?
Agung hapsah juga sering bilang kalau dia membuat video youtube dengan kualitas paripurna. Dari proses membuat skrip, pengambilan gambar, sampai editing. Konsekuensinya: lama
Ada juga mereka-mereka yang menulis mengikuti arus berita. Lagi hits itu, nulis itu juga. Lagi hits ini, bahas ini. Sering muncul. Karyanya banyak. Di mana-mana.
Nah, kuantitas, atau kualitas. Balik ke masing-masing ya. Untuk produsen, pun konsumen.
Ada yang bagus dari kata-kata Bruce Lee, "Saya tidak pernah takut menghadapi seseorang yang memiliki seribu jurus, tetapi yang saya takuti adalah seseorang dengan satu jurus yang dilatih sebanyak seribu kali."
Ini sebenarnya menampar saya sih. Yang masih sering goyah. Gonta ganti tujuan, mimpi, yang paling fatal, emosi.
Ya, pilih nginap di bandara karena menurut saya ini lebih efektif dan efisien. Tapi untuk mereka yang pilih hotel atau penginapan layak bukan jadi masalah juga, pastinya.
Pilih Garuda monggo, Air Asia ya silakan. Setiap orang punya alasan yang tak harus diketahui banyak orang, lho. Hormati, ya.
Lagian tidak semua dinilai hanya dengan hitam dan putih, kok. Kita bisa berada di tengah-tengah. Tak harus membenci untuk berhenti mencintai, kan? Tak perlu menjatuhkan untuk menunjukkan kelemahan musuh.
"Kau harus membakar diri dalam apimu sendiri. Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi baru jika engkau tidak pernah menjadi abu terlebih dahulu." - Friedrich Nietzsche.
Semacam bobok kaya gini. Beralas karpet, berselimut jaket, dengan mereka yang lelah tapi penuh semangat mencari kebahagiaan sejati. Perjalanan. Untuk hidup dan menghidupkan.
'Everyone can fly', dude. Setiap orang berhak menikmati setiap perjalanan hidupnya. Entah yang benar-benar hidup di jalan. Dan tak ada yang hina dengan itu.
Kebahagiaanmu biarkan kamu sendiri yang menentukan. Bukan seberapa berat masalah yang sedang terjadi, bukan pula dari nilai yang mereka sematkan padamu.
Saya tidur di Bandara, dan saya bahagia. Itu saja.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia. 02.44 am.

Rabu, 19 September 2018

Perawat Bukan Malaikat

Saat di Spanyol, saya bertemu pengemis wanita dengan keranjang berisi recehan euro. FYI saat itu 1 euro setara 15ribu rupiah. Anggaplah ada 30 euro, berarti ada 450ribu rupiah, padahal masih pagi. Dengan kulit putih semu merah, hidung mancung, tubuh kurus semampai, rambut pirang khas bule. Mirip dengan Manuela Villareal, anak kedua Shopia Latjuba.

Di Paris, ada laki-laki yang menyebelahi langkah saya. Awalnya ngomong Bahasa Perancis. Saya bilang tak mengerti apa maksudnya. Lalu dengan santai bilang, “euro for eat.” Oallah, minta uang to. Kaget juga, padahal tampang Brad Pitt. Badan segar bugar, bisalah kerja parttime. Atau minimal tidak nodong pendatang kere macam saya.

Apa karena mereka tidak di Indonesia? Yang meski tak digaji pun tetap akan bekerja? Semacam perawat-perawat magang di rumah sakit terkemuka. Perawat honorer yang gajinya horor.

Saya tak henti mengelus dada, kemarin, ratusan tenaga medis dari Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan sukarela dari Kabupaten Lombok Tengah berdemo. Masih dengan tuntutan sama selama seabad, kesejahteraan.

Konon, banyak yang tak digaji, kalaupun dapat, sangat tak mencukupi, 200ribu sebulan. Dengan pekerjaan tidak mudah dan penuh risiko. Miris pula, hampir keseluruhan belum mendapat jaminan kesehatan.

Salah satu teman bahkan berkisah, “dulu, kadang sebulan dapat 50ribu, udah alhamdulillah. Eh, ada pasien ga bisa bayar obar, nangis-nangis minta tolong. Akhirnya kita patungan, beliin obat pasien. Begitu hampir tiap bulan. Kita bisa apa?”

Demi kemanusiaan, iya, demi menolong sesama, gaji tak seberapa itu lenyap dalam hitungan detak jam.

“Keselamatan pasien nomer satu. Perawat puasa satu minggu, haha,” sergahnya kemudian. Sambil tertawa tertahan. Saya, nyeri di ulu hati.

Perawat itu sebenarnya apa? Haruskah menjadi pengemis seperti yang saya temui di Spanyol dan Perancis? Nyatanya mereka lebih berpenghasilan.

17 Maret lalu, PPNI merayakan ulang tahun ke 43, gegap gempita di pelosok negeri. Jalan sehat, senam bersama, hingga selfie. Iya, meski gaji entah apa kabarnya, yang penting di depan kamera nampak happy.



Teman, tolong, jangan sudutan mereka yang berjuang mati-matian di jalur ini. Ya perawat, ya jualan kaos kiloan. Ya perawat, ya buka lapak kecil-kecilan. Ya perawat, ya tetap nyari recehan. Macam saya yang nulis buat gali perbukitan.

Saya yakin, kita mencintai profesi ini sepenuh hati, tapi kenyataan terkadang tak sesuai ekspektasi. Jadi percayalah, dengan mencari sampingan atau alih spesialisasi sekalipun, tidak lantas menjadi pengkhianat sumpah profesi.

Common, Dude! Kita perawat, bukan malaikat.

Bagaimanapun, tetap manusia yang butuh makan, pulsa, paket data, parfum, sepatu pantofel, baju layak pakai untuk bertemu calon mertua, sampai boyong dia ke KUA.

Hanya butuh pemasukan jelas mata untuk ditunjukkan pada orang tua. Bisa mandiri dan tidak minta-minta.


Kedua pengemis tadi pula yang membuat saya mengerti, bahwa bisa jadi bukan nasib yang membelenggu, tapi tempat yang kurang pas untuk mengepak sayap putih itu.

Kalau saja mereka berdua datang ke Indonesia, bikin akun IG, jadi selebgram. Masuk tipi, diudang Hitam Putih, diajak main pilm Hanung Bramantyo. Hidup enak. Tenar. Viral. Seperti Ayana Jihye Moon. Muallaf cantik asal Korea yang menghiasi layar kaca. Ayana juga bukan siapa-siapa loh di Korea, tapi laris manis di Indonesia.

Lega itu ketika tahu, sudah banyak yang berani mengambil keputusan. Datang ke negara-negara orang demi mencari peruntungan. Arab Saudi, Kuwait, Jepang dan Singapura yang masih dan akan terus membutuhkan tenaga kita.

Kelemahan setiap negara tetap ada. Perbedaan pasti menghantui. Culture shock jangan ditanya. Tapi bukankah di situ tantangannya?

Dari para perawat hijrah itu, saya mengerti, memberdaya di negara orang adalah langkah untuk tidak menjadi pengemis di negeri sendiri.

“Itu dulu waktu jadi perawat honorer di Indonesia. Sekarang Alhamdulillah. Di Arab Saudi, bisa ngirim uang buat orang tua. Bayar sekolah adek. Umroh dan haji,” pungkasnya sebelum menutup obrolan hari itu.

Kalau rezeki Ayana di Indoneisa, mungkinkah rezekimu di Korea?




*Marintha Violeta
22 Maret 2018

Minggu, 16 September 2018

Jangan Nginap di Bandara, Bahaya!

Image may contain: 1 person, shoes
Seharusnya, saya tak perlu tengah malam selonjoran di dekat pintu masuk Kuala Lumpur International Airport. Seharusnya, tak harus nunggu HP di charge di area khusus yang tak kena WIFI. Iya, seharusnya, saya tak perlu menggelandang dengan sebungkus roti penyok dan aroma kertas cokelat dari buku Puthut EA.
"Lho, saye nak kira daripada Sawarak," gelegar Pak Cik memecah konsentrasi baca.
"Cakapnya tu.." Istrinya menimpali. Kami tertawa.
Tadi mereka datang, tanya, apa mesin charge-nya berfungsi. Saya jawab dengan logat upin ipin, "Bize, bize, bize..."
Dari situ, ngobrol sejam jadi tidak terasa. Sepasang suami istri dari Borneo, yang saya tebak usianya menginjak 50an tahun itu, mau jalan-jalan ke Korea.
Katanya, setiap tahun, harus pergi. Berdua aja, tanpa anak-anak. Kenapa Korea? karena untuk Malaysia bebas visa.
Ahh, kita-kita mah harus ngurus setumpuk berkas dan potocopy buku tabungan dengan nominal uang mengendap jutaan. Itu pun belum tentu lolos.
Mau ke Nami dan Jeju katanya, saya merem melek dengan tempat favorit syuting deretan drakor itu.
"Kuala Lumpur tu besar, dik. Pegilah ramai-ramai. Anak saye ja nak taksi tu poto nomor kereta (mobil). Kirim ke whatsapp," pesan si ibu saat saya katakan penasaran dengan petronas. Bahkan orang Malaysia asli saja meragukan keamanan negaranya. Jujur sekali, ya?
Obrolan selesai saat mereka harus check in karena pesawat boarding jam 1 dini hari. Otomatis, sendirian lagi.
Entah bagaimana, saya selalu yakin, saat berkelana sendiri seperti ini, akan ada hal-hal ajaib terjadi. Macam sekarang, persis di depan saya, ada mas-mas dari India kebingungan. Doi cuma nunjukin Baterai HP-nya tersisa 11%. Lalu nunjuk charger saya yang masih terjulur dengan HP. Kan gua jadi garuk-garuk lantai.
"Please.. please.." suaranya bergetar. Ada kerutan bersaff-saff di dahi. Oke, dia serius.
Usianya mungkin 20an. Ngapain ke Malaysia tapi ga bisa bahasanya. Tapi kalian tahu, saat kepepet, ketakukan lenyap bak asap. Dulu saat pertama saya datang ke Saudi juga gak bisa Bahasa Arab kok.
"Tike.. tike.." saya jawab sambil memberikan charger. Artinya, oke.
Dia menelpon seseorang. Lalu ikut ndeprok di depan saya, keringetan. Telpon lagi. Duduk lagi. Telpon lagi. Duduk lagi. Kakinya goyang-goyang. Cemas.
Saya tanya, apa dia butuh bantuan. Doi gelagapan. Jawab pakai Bahasa india. Saya yang tidak paham. Tapi tangannya gemetaran. Memang gugup sekali sepertinya.
Sampai kemudian dia lari keluar bandara. Masuk lagi. Ambil hp dan kopernya. Menyodorkan charger bertali pink. Lalu bilang, thanks. Saya jawab, syukria. Dia kaget. Matanya membulat. Lalu bilang, how.
Saya mengendikkan bahu, lalu tertawa. Kami berdua tertawa. Adu tos. Lalu dia pergi, sambil dadah. Jemputannya datang.
Kita mungkin tidak sebangsa, tidak sebahasa, entah pula agamanya. Tapi bisa akrab saja. Bak saudara lama yang pernah berpapasan entah dulu kapan.
Syukria, terima kasih dalam Bahasa India. Berasal dari Bahasa Arab, syukron. Mudah dihapalkan. Keseringan nonton PK jadi ada manfaatnya ternyata.
Saya, sendirian lagi. Karena posisi di pintu sayap kanan, terhimpit restoran dan dinding kaca bandara, tak banyak pengunjung melintas.
Lalu datang, 3 orang. Mencolok charger HP. Ngobrol dengan bahasa China. Ahh, setidaknya saya tidak kesepian. Mereka itu memang jagonya mengubah keadaan.
Tiba-tiba salah satu menghadap saya, "Mbak, mau voucher makan?" Lho, bisa bahasa Indonesia?
"Free?" Saya memastikan, yang ditanya beneran saya atau tidak. Gratis atau tidak. Hhaha..
"Iya, ini ada 3, kita sudah kenyang. Mau ke hotel."
Image may contain: one or more people
Wah, rezeki nomplok. Alhamdulillah, gegara minjemin charger saja langsung dibalas berlipat-lipat. Kyakk. Berlompatan ini jantung. Mana ringgit tinggal receh pulak.
Langsung saya dorong trolley ke arah outlet makanan karena hanya berlaku 1 hari. Satu jam lagi, sudah tengah malam. Puter-puter lorong... Yes, nemu kios Burger King! Ahh, lama tak makan craby patty.
Saat batin sedang bertarung sengit pilih isian ikan atau daging, lauk nugget atau kentang, si embak justru merusak segalanya, "Maaf, kak. Vouchernya untuk outlet yang di dalam."
Huwaa.. sakitnya tuh di sini!!
Hangus sudah. Lha saya belum boleh check in, kok. Padahal jam 8 malam tadi sudah merayu operator maskapainya. "3 jam sebelum boarding baru boleh masuk, Mbak. Besok jam 4 pagi, ya. Sekarang tunggu di sini dulu."
Kenapa ngebet masuk? Karena di bagian dalam berlantai karpet motif lucu-lucu. Dekorasi yang artistik. Kursi tidur berderet-deret. Lengang. Luas. Pula ada free movie area untuk nonton film sesukanya. 24 jam nonstop. Gimana saya nggak ngiler coba?
Sekarang, masih jam 2 pagi. KLIA 2 masih ramai saja. Banyak yang terkapar di lantai, kursi, genteng. Ada yang macam saya, melek karena lapar, atau kekenyangan menguap.
Ada juga anak-anak yang balapan puterin check in counter pakai trolley barang. Total ada 3 trolleys, kebut-kebutan. Tawa mereka bergema. Memantul di langit-langit yang menyala.
Kalau saja, saya lupa sudah menikah, mau ikut juga ngetril bareng mereka. Kapan lagi coba, airport jadi tempat balap liar.
Image may contain: one or more people, basketball court and indoor

Kegabutan malam ini saya gunakan untuk menonton balapan gratis sambil melahap buku Kepala Suku Mojok, Puthut EA, judulnya, 'Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah.' Ada kata-kata yang menampar saya di halaman 77,
"Kenapa takut tersesat, Rus? Tersesat itu bukan kekeliruan yang harus ditakuti. Jalan saja. Tersesat saja. Tak mengapa. Sebagian sejarah ini dibangun oleh petualang yang tersesat. Dengan tersesat kita lebih awas. Kita berinteraksi dengan orang. Bertanya. Bicara. Bertatap muka. Orang yang tidak tahu pasti sebuah arah akan lebih waspada. Semua sulur-sulur daya hidupnya akan menyala terang. Peka. Semua itu harus dilatih."
Dari dulu saya percaya, tak selamanya kita mengandalkan teknologi. Bagaimanapun, kemajuan modernitas hanya mengkerdilkan kemampuan asli manusia itu sendiri. Terlalu bergantung. Lalu kalah, mengalah, pada robot-robot ciptaan manusia.
Malam ini saya ingin mengenali dunia nyata, yang penuh gelak tawa, tanpa emoticon, tanpa notification.
Saya tak membuka google, wikipedia, GPS (ada GPS untuk airport bagian dalam), buku online, aplikasi cerpen atau semacamnya. Apalagi bergerilya di mojok.co . Bermalam di penginapan yang senyap dan diam. Meski mamas sudah teriak dari sana, "Ngapain ada WIFI nggak dimanfaatin?"
Saya, lebih ingin berbaur dengan mereka. Karena memang seharusnya begitu. Nyari locker barang, tanya bagian informasi. Samperin tempatnya, harga tak cocok, minta maaf, lalu pergi.
Nyari mushola, ikutin petunjuk arah. Salah masuk ke tempat shalat laki, minta maaf, keluar lagi. Nyari milo, masuk keluar toko. Nyari jodoh, eh lagi di Jepang.
Jadi, jangan coba-coba menginap di bandara kalau tak ingin menemukan keajaiban seperti ini. Plis, jangan coba-coba. Segala macam kerusuhan, pegal, dan ketagihan, ditanggung boyok masing-masing.
Image may contain: one or more people, basketball court and indoor

*Violeta
KLIA 2. 2.25 am

Minggu, 09 September 2018

Cinta dan Luka di Saudi Arabia

"Salah satu jalan menuju gerbang keikhlasan dan mendapatkan kelegaan hati, harus ada racun yang dibuang. Sesakit apapun, seperih apapun. Membawa luka hanya membuat jalan tidak lapang." - Esti Kinasih dalam novel Jingga untuk Matahari 

Klise sebenarnya, siapa yang tidak pernah kecewa, terluka, bahkan bekasnya pun masih menganga? Membawa-bawa perih di ujung-ujung senyum yang dipaksakan. Tawa renyah, tapi hanya topeng penutup sakitnya. Seperti plester yang ditempel dan harus segera diganti dengan tawa selanjutnya.

Mengobati hati bukan perkara mudah. Pikiran tidak tenang. Kecewa dalam. Hingga semua nampak salah di mata kita. Semua salah. Serba salah. Meski nyatanya benar. 

Apalagi soal hati. Yang misterius, sulit ditebak, bahkan sering tak terkendali. Fluktuatif mengikuti mood yang kadang naik gunung atau merosot ke perut bumi.

Saya harus menghela napas berkali-kali untuk hal ini. Lari ke loteng dan mendapati rumah-rumah bercat cokelat muda berjajar rapi. Atau sengaja merebahkan diri hingga yang nampak hanya bintik-bintik yang berserak di kanvas hitam.

"Akan selalu ada harapan. Bintik itu adalah harapan-harapan yang tersedia di depan mata. Lalu untuk alasan apa lagi kita harus menyerah?" Saya mulai menghitung bintang.

Ada seseorang yang membuat saya mengerti, apa itu luka sebenarnya. Luka yang tertoreh sangat dalam.

Ia meminta saya menuliskan kisah hidupnya. Bercerita dengan air mata membanjir. Ahh, mendengarnya saja membuat lemas. Harus ditulis pula?

Ngilu rasanya jika harus membuka memoar lama yang telah berdebu di sudut kamar. Terpisahkan. Tapi enggan hengkang dari ingatan.

Ada pula yang ingin memprasatikan kisah bahagianya. Agar si empunya ingat debaran ketika menjadi pengagum rahasia. Mencinta dalam diam dengan untaian doa. Entah akan melaju ke kisah romantis atau paripurna di atas kertas.

Bukankah ini juga salah satu klasifikasi luka? Jika sampai mati pun si dia tak pernah merasa debaran yang sama. Bahkan bersisian di pelaminan dengan orang lain. Pembalasan indah, bukan?

Kenangan datang dengan pisau tumpulnya. Membelah-belah masa lalu. Memungutnya satu-satu. Memetakan cerita. Melayarkan harapan dahulu. Meski tak tahu akan berlabuh di mana.

Sampai di sini, dadaku penuh aroma prakmantis. Kenangan itu berhembus kencang menghantam malam di balkon rumah. Mengoyak sadis tembikar yang baru ku pasang di dinding masa lalu.

Luka seperti apa yang ingin kau torehkan lagi? Bukankah cinta itu sederhana? Luka pula yang membuat langkah berbeda. Yang selalu berpijak pada tanah yang tak sempurna.

Malam semakin matang. Membuka notes di hp dan mulai menjejalkan deretan kata. Tentang cinta dan luka. Tentang hidup dan mati. Tentang dunia dan seisinya.

Hidup memang menantang, kadang melempar. Menampar. Tapi hidup terlalu megah untuk diakhiri dengan diri sendiri. Bukankah keindahan hidup seringkali ditemukan dalam pilu?

Aku menekan tuts-tuts itu lagi dengan rasa pekat tersekat. Menulis pun kadang bisa menusuk ulu hati seperti sekarang ini. Lalu kau bisa temukan aku mematut air yang menggeliat di pipi.

Aku menulis untuk membunuh malam.
Aku menulis untuk membaca kehidupan.
Aku menulis untuk membuang racun.
Aku menulis untuk bersyukur.
Aku menulis untuk menggali hati. 
Aku menulis untuk melepaskan air mata.

Aku menulis untuk orang-orang yang telah menyentuh hatiku. Kehangatan keluarga yang telah menghangatkanku. Alam sekitar yang menyegarkan perjalananku. 

Aku menulis untuk mama dan papa.
Yang membuatku selalu percaya akan ada keajaiban dalam bait kata. Menumbuhkan keberanian dalam kalut kehidupan. Yang mengajariku menyembuhkan luka dengan cinta.

Lewat tulisan ini juga, aku ingin kembali berkaca. Sudah jernihkah cintaku untuk orang-orang yang telah menguatkan perjalanan hidup ini? Sebelum diriku usang dan menghilang. Sebelum namaku tertera di batu nisan.

*Violeta 
Jeddah, KSA. 26 Februari 2017.

Jumat, 17 Februari 2017

Problematika Pekerja Luar Negeri dan Tips Sebelum jadi TKI

#Violet 16

Meninggalkan Indonesia, tidak pernah muncul dalam pikiran sebelumnya. Kenyataannya, saya tidak menginjakkan kaki di bumi pertiwi selama 1 tahun, 1 bulan, 13 hari, 8 jam, 47 menit, sejak take off dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Hari pertama berada di Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, menjadi hari terakhir bertemu orang Indonesia. Itu artinya, keseharian, bahasa, bahkan bersikap, semua berubah. Saya menjadi pribadi berbeda dalam sekali hentakan jarum jam.

Mimpi apa semalam, ketika bangun tidur sampai tidur lagi full berbicara dalam Bahasa Inggris? 

Oh God! Syok? Pasti. Tapi sensasinya luar biasa! Ketika berada di tempat yang tidak ada yang mengerti Bahasa Indonesia itu membuat kita merasa, I REALLY LOVE INDONESIA!!

Mengikuti alur budaya dan keseharian membuat lidah saya juga harus beradaptasi kilat. Jangan harap ada nasi goreng atau pecel untuk sarapan. Di meja hanya akan sedia roti tawar, samoli atau sejenis roti panjang, roti arab dengan berbagai jenis keju, selai cokelat dan kacang yang bisa dipilih sesuai selera. Oke fine, sebagai pendatang, saya memilih sarapan dengan Indo**e.

Nah ini juga, saya baru kali ini, sumpah baru kali ini, bertemu seseorang dari India yang addicted dengan roti. "Nggak kenyang kalau nggak makan roti." Padahal baru saja dia makan sepiring nasi Bukhari. Aihh... Roti... Tolong redaksi, itu roti diganti 'nasi' bisa? Sebagai orang Indonesia yang cinta tanah air, nasi tak bisa digantikan dengan berlembar-lembar roti gandum. Tolong. Please. Ada Indo**e?

Yahh.. Baiklah kalau memaksa. Sehari sekali bertemu nasi bolehlah. Gantinya, setiap hari makanan selalu menu Arab, Syria, Afrika atau Eropa. Dan itu membuat saya agak mual, dengan aroma kapulaga dan rempah khas negeri teluk atau nasi campur krim keju. Maka jangan heran jika saya bisa loncat-loncat kegirangan ketika menemukan sate, empal gentong, kari ayam dan soto di supermarket. Dalam bentuk Indo**e, tentu saja.

Heii... Ini karena aku cinta produk Indonesia. Benar-benar 'seleraku...'

Sejauh ini, alhamdulillah tidak ada masalah berarti. Kecuali mimisan saat cuaca panas ekstrim dan masuk angin saat puncak musim dingin. Hari ini cuaca mendung. Asyik untuk duduk di samping kolam renang atau berjemur di sepanjang Laut Merah. Suhu bersahabat. Angin berkelebat.

Keluar negeri bukan semata-mata 'ingin', kawan. Tidak. Jangan. Saya sarankan, sebaiknya teman-teman menggenggam alasan erat kenapa memilih keluar negeri. Alasan itulah yang akan menguatkan ketika setiap hari berhadapan dengan orang-orang dari berbagai negara lengkap dengan watak dan attitude-nya. Baiklah. Tidak semua seramah orang Indonesia dan tidak semua orang Indonesia ramah di negeri orang. Ini rumusnya.

Jangan sampai, setelah di luar negeri, justru kelimpungan dengan 'keadaan yang berbeda'. Berharap semua enak? Lah, emang negaranya punya situ? Lalu marah-marah, memaki-maki dan menjelek-jelekkan PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia). Bahkan sampai bawa-bawa presiden RI beserta jajarannya. Katanya, "tidak becus mengurus TKI."

Padahal, kita-kita juga yang heboh minta segera diterbangkan. Visa dibuatkan. Proses dilancarkan. Tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu jadwal penerbangan. Setelah sampai di negeri orang, minta cepat dipulangkan. Remisi kontrak. Pulang dadakan. Katanya, tak sesuai 'janji manis' Bupati. Lah, sekarang Bupati yang dibawa-bawa.

Jadi teman, tolong, tolong dengan sangat. Punyai dulu tekat dan alasan kuat kenapa memilih keluar negeri. Pastikan kontrak dan perjanjian yang tertulis sesuai dengan kesepakatan. Carilah informasi selengkap-lengkapnya. Datangi kantornya, temui direkturnya jika tidak mendapat kejelasan yang pas dari pihak agency. Bukan karena kata si A, B, C. Lalu asal tanda tangan. Ikut-ikutan. Mau enaknya. Menolak sulitnya.

Apalagi lintas benua. Tidak bisa pulang semaunya. Homesick yang menggila. Pula jaringan internet absurd. Sekarang saja kami tidak bisa telepon ke Indonesia karena jaringan internet Saudi disegel. Jadi saya harus mengirim pesan dahulu, lalu keluarga Indonesia yang menelpon saya.

So guys, saya tidak melarang teman-teman untuk mengepak sayap lebih lebar. Ambillah kesempatan yang ada. Bukalah pintu-pintu kemungkinan yang tersedia. Bisa jadi itulah jalan rezeki kita.

Dibalik sulit, berat dan kejamnya rumah tetangga, saya menggapai mimpi-mimpi saya disini. Salah satunya: naik unta bunga-bunga di Tanah Arafah. Saya naik saat malam. Fotonya gelap.

Jadi, bagaimana dengan kalian? Sudah dapat alasan terkuat hijrah keluar negeri?

Untuk teman-teman yang sedang berada di negeri orang: stay positive, stay fighting, stay brave, stay ambitious, stay focus and stay strong. The mentality is everything.

Aset paling besar adalah iman. Komunikasi paling hebat adalah doa. Semoga Allah melindungi kita dimanapun berada, dan semoga segera bertemu kembali dengan keluarga.

Salam hangat dari Saudi Private Nurse.



*Violeta
Jeddah, KSA. 13 Oktober 2016. 1.46 am

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...