Tampilkan postingan dengan label Perawat Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perawat Luar Negeri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2018

Sisi Lain TKW yang Jarang Diketahui Orang!

Saat di Arab Saudi, saya bertemu dengan ibu paruh baya yang melarikan diri dari rumah majikan. Katanya, gaji tak pernah dibayar dan tak diberi makan berbulan-bulan. Dengan berbekal tas jinjing, beliau bercerita telah menghubungi polisi beberapa hari lalu, tapi tak ada tanggapan. Akhirnya berlindung di salah satu rumah orang indonesia di Jeddah.

Meski UU No 39/2004, Pasal 77 hingga Pasal 84 telah diatur mengenai kewajiban pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap TKW/TKI selama penempatannya di luar negeri, melalui perwakilannya di luar negeri dan perwakilan perusahaan swasta yang melaksanakan penempatan TKW/TKI di luar negeri. Tetap saja menjaga napas berlangsung sampai habis kontrak rasanya sesak. Sayangnya, jumlah pendaftar tiap tahun tergolong tinggi.

Pada tahun 2017, Pusat Penelitian Pengembangan dan Informasi oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau disingkat BNP2TKI mencatat ada 261.820 tenaga kerja indonesia tersebar di hampir 26 negara di dunia. Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapore dan Saudi Arabia menjadi negara terbanyak yang ditempati para ekspatriat.

Mengejutkannya, 70% adalah perempuan. Hal ini karena peluang keluar negeri masih sangat terbuka dibanding laki-laki yang hanya dapat mengisi sektor tertentu seperti teknisi dan kontruksi. Sedangkan perempuan mengisi puncak penempatan tenaga kerja tertinggi di sektor domestic worker (tenaga kerja rumah tangga) dengan jumlah 92.158 orang.

Tak ada yang dapat disalahkan. Toh para pejuang devisa ini meninggalkan keluarga dan tanah air dengan berbekal cita-cita luhur. Menyekolahkan anak, membangun rumah, membantu keluarga, dan Asisten Rumah Tangga (ART) lulusan SD yang saya temui di Jeddah mengaku terpaksa menjadi TKW lantaran utang yang ditinggalkan almarhum suami mencapai ratusan juta.

“Kalau kerja di Indonesia, sampai mati, saya nggak bisa bayar utang.”

Masalah ekonomi masih menjadi alasan utama, meski tak jarang banyak pula yang ingin melebarkan sayap untuk menabung berkuliah lagi. Maka langkah apapun ditempuh. Meski harus menjadi ART di negara orang, yang penting anak dapat lulus kuliah, hidup layak dan memiliki tabungan cukup untuk berbisnis saat pulang nanti.

Dear para perempuan yang telah bekerja di luar negeri, maupun yang ingin bekerja keluar negeri, terutama yang berada di area rumah, seperti asisten rumah tangga, perawat homecare dan care giver untuk lansia, tak perlu risau dengan berita penyiksaan, pelecehan seksual hingga pembunuhan. Sebenarnya, banyak dari mereka yang berprestasi dan sukses tapi tak diliput media.

Tempo Media Group, bulan Mei 2017 lalu memberikan penghargaan pada 8 TKI dan TKW yang berhasil memperbaiki nasib dan mengubah lingkungan, diberikan langsung oleh Kemnaker. Diantaranya, Dwi Tantri yang bekerja sebagai perawat lansia di Taiwan yang juga aktif memberikan advokasi pada TKI bermasalah di Taiwan.

Siti Mariam Ghozali, mantan TKW di Hong Kong dan Taiwan asal Wonosobo, Jawa Tengah. Saat menjadi TKW, aktif mengikuti kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Juga rajin menulis cerita pendek. Sekarang, selain menerbitkan banyak novel, di kampungnya ia mendirikan perpustakaan Istana Rumbia, yang dibuka secara gratis. Siti juga menjadi pengusaha makanan tiwul instan secara online. Pasarnya hingga luar negeri. 

Benar, menjadi pekerja luar negeri itu tidak mudah, tapi dari mereka, kita bisa belajar bahwa tak ada yang tak mungkin. Meski perempuan, TKW bukan hanya sapi perah negara untuk kepentingan penguatan devisa. Mereka telah menggoreskan sejarah, perekonomian keluarga yang sulit tak akan menghentikan langkah untuk berkarya dan meraih cita-cita.

Sisi kelam pasti ada, tantangan selalu di depan mata, berita miring di media dan buruknya citra tenaga kerja wanita di luar negeri terkadang membuat luruh jiwa. Tapi tenang saja, asal tak berhenti berdoa, memastikan dokumen lengkap dan berada di jalur legal, memahami hukum dan aturan negara tempat mengadu nasib, berhati-hati dalam bertindak dan bekerja, serta melapor segera jika terjadi hal-hal yang tak sesuai kontrak kerja. Kelak, tak hanya pulang membawa tabungan dan memuliakan keluarga, tapi juga kebanggaan untuk bangsa dan negara.

Seperti Ima Matul Maisaroh, mantan ART asal Malang yang sejak Desember 2015 lalu diangkat menjadi Anggota Dewan Penasihat Gedung Putih alias penasihat Presiden Barack Obama. Namanya kian berkibar setelah berpidato di depan puluhan ribu delegasi Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat AS, 26 Juli 2016.


Penulis : Marintha Violeta, mantan TKW Arab Saudi sebagai perawat homecare. Sekarang berada di Jepang, menikmati buku dan salju.

Minggu, 07 Oktober 2018

Merawat Pikiran di Spanyol

Islamophobia menghantui ketika rencana ke Eropa benar-benar terlaksana. Apalagi bom yang meledak di Manchester Mei lalu. Tahulah ya, tudingan mengarah ke mana. Plus perseteruan Saudi dengan Qatar memanas. Agak ngeri sebenarnya.

Hingga tawaran: kamu lepas jilbab ga di Eropa nanti? Yakin lolos imigrasi?

Deg. Sampai sebegitunyakah?


Video perempuan keturunan Timur Tengah dipaksa melepas jilbab di bandara Paris sempat viral. Ada pula yang saat di pantai disamperin polisi. Diminta lepas burkininya di muka umum.

Tapi ternyata, semua hanya permainan media untuk menjatuhkan Islam.

Saat di Paris, saya berjalan sendirian dari Arc de Triomphe ke Eiffel, bolak balik. Jalan kaki. Dengan hijab. Memang, mereka akan menoleh, memandang sesaat, atau tersenyum hangat.

Karena sendirian, memang sulit memotret diri sendiri, tanpa tripod. Biasanya saya letakkan hp di atas tas. Eh, tapi ternyata, beberapa kali disamperin orang, "mau difoto?" atau, mereka yang minta tolong difotoin. Artinya? Mereka percaya lho kita bukan orang jahat.

Pula saat di Spanyol, ketika jalan sendirian. Eh. Kok sendirian terus? 80% saat jalan-jalan memang lebih suka sendiri. Lebih terasa feelnya.

Apalagi partner saya nenek 1 cucu , kan kasihan kalau jalan kaki berjam-jam begitu. Lagian saya jadi bebas mau ke mana, ngapain dan bertemu siapa saja. Dasarnya solo travel ini sih.

Maka sapa menyapa dengan orang asing menjadi hal biasa. Bersahabat. Saat di pantai Puerto Banus, misalnya, saya bertemu orang Yordania yang sudah pindah kebangsaan Perancis. Kerjanya? Keliling dunia!

Namanya Nizard. Usianya 50 tahun dengan 16 passport yang penuh cap seluruh negara. Modal bahasa inggris dan bakul kaos ini menghabiskan hidupnya di jalan. Dari satu negara ke negara yang lain. Baginya, hidup adalah untuk bahagia dan melakukan apapun yang disuka.

Slogan bilang, kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Menghidupi tubuh sama dengan menutrisi otak. Apalagi kita yang tak asing dengan menjaga kesehatan badan. Tapi bagaimana dengan pikiran?

Itu sebab sebelum berjalan, saya men-challenge diri sendiri, berani ga ke pantai sendirian? Ke danau sendirian? Berkenalan dengan 3 orang asing? Naik taxi sendiri? Menari di pantai Eropa? Dengan hijab? Dengan citra Islam yang sedang jatuh di media barat.

And yeah, let's break the rules, sis!



Dunia tidak semenakutkan ambisi global menginfiltrasi TV. Tidak semenyedihkan media sosial memperlakukan berita. Demi rating dan pengalihan isu. Demi politik dan kepenguasaan sebagian pihak. Sebagai perawat, kita bisa banget mendobrak dinding-dinding itu.

Bahkan mengikis penyakit psikis. Bekerja boleh, tapi berbahagia juga perlu. Menentukan kapan membantu orang lain, kapan harus menilik ke dalam diri. Merawat orang lain itu profesi, merawat pikiran sendiri itu spesialisasi.

The secret to a happy life: never stop dreaming, loving, learning, wishing, believing and praying.

Dunia ini bukan hanya stetoskop dan flabot infus. Bukan hanya STR, demo gaji dan nyinyir di media. Bukan hanya debat di whatsapp, membully di Facebook hingga menjatuhkan image negara lain, hanya karena masalah pribadi.

Internet, bukan lagi buku, menjadi jendela dunia, tapi dunia yang sebenarnya ada di luar sana. You have got to go out. See the world from a different angle. Enjoy your life!

*Saya ke Puerto Banus jam 7 pagi, saat matahari terbit. Pantai sepi. Padahal kalau siang, bule dan pakle rame berjemur di hangatnya matahari summer. Ahh, jadi seperti pantai pribadi. Perawat juga butuh liburan, kan?

*Violeta
Marbella, Spanyol. 10.27 pm. Baru masuk maghrib.

Naik Emirates, Karunia atau Bencana?

Terbang dari Arab Saudi - Dubai - Jakarta dengan Emirates dan gratis? Such a crazy thing, ever!!

Mlongo aja gitu pas tau itu pesawat 2 lantai. Mana guede banget. Lah, syok, berasa masuk ke gedung wisuda dengan kursi berderet lengkap dengan tv di depan masing-masing kursi.

Mana pilih kursi semau saya pas lagi check in. Waktu itu request : "Agak ke depan tapi ga depan banget, deket pintu emergency, mepet jendela dan ga di atas sayap." Then, they did!! The best view!!

TV juga ga ala kadar. Semua film ada! Dari yang lawas banget sampai yang barusan keluar dari bioskop. Headset-nya jernih. Dilapisi busa pula. Jadi ya ga khawatir kalau itu bekas dipakai orang karena busanya bisa diganti.

Soal makanan? Aduh... Saya sampai harus nolak-nolak. Jadi ya perjalanan Dubai - Jakarta yang 8 jam 25 menit itu kalau gak makan, ya makan.

Saat masuk. Kita sudah diberi daftar menu. Ada pilihan beberapa makanan lengkap dengan deretan lauk, sayur dan dessert. Nasi, roti atau apapun. Disitu juga sudah tercantum snack dan jenis-jenis minuman.

Baru lepas landas langsung ditawarin minum. Beberapa menit kemudian makan, lalu snack, lalu makan lagi, lalu minum lagi, snack. Gitu aja terus. Bahkan lagi tidur juga dibangunin, lho. Ga langsung dilewatin gitu aja kaya maskapai yang lain-lain. Kecuali memang pasang tulisan di depan kursi : "Don't disturb", beneran ga akan diganggu.

Bahagianya lagi, 2 kursi di samping kosong melompong ga ada penumpang. Jadi, huaaa.. bisa bobok shyantiikk. Dengan 3 bantal, 3 selimut dan 3 TV menyala (1 TV menampilkan radar posisi pesawat, 1 lagi untuk tampilan kamera dari depan moncong pesawat, dan 1 TV lainnya untuk musik klasik). Bantal empuk, selimut super lembut, makanan enak. Huaa..

Sayangnya itu tak bertahan lama, karena menjadi penerbangan paling ekstrim dan terlama yang pernah saya alami.



Baru beberapa jam perjalanan, petir menyambar-nyambar. Hujan gede. Alarm bahaya aktif terus. Tiap jam pramugari keliling bangunin kita-kita yang lagi bobok untuk bangun, duduk dengan posisi sempurna dan pasang sabuk pengaman.

Membuka semua tirai jendela. Menegakkan sandaran kursi. Ga boleh jalan-jalan. Apalagi ke toilet. Dilarang keras.

Pak pilot bahkan berkali-kali mengumumkan ada badai di depan. Silakan berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Suasana mencekam. Tidak ada suara apapun selain riuh rendah bacaan doa masing-masing. Saya lihat radar di TV, posisi pesawat di tengah-tengah Laut Arab. Tengah malam. Gelap gulita.

Badan pesawat bergetar kuat. Seperti gempa tapi tak bisa lari ke mana-mana. Pesawat mulai naik-turun secara cepat. Manuver kanan-kiri mencoba menghindari petir dan gumpalan awan hitam, saya lihat di TV yang merekam kamera dari moncong pesawat.

Setengah jam tenang. Lalu badai lagi. Pesawat tiba-tiba menukik ke bawah. Naik lagi. Miring kanan. Miring kiri. Bergoncang kuat. Berdoa lagi. Senyap lagi.

Memang.. Emirates menjadi maskapai nomor 1 dunia. Tapi percayalah, kekuasaan sang Maha Pemilik tak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Maskapai sebesar itu, tetap kecil bagi Allah. Tetap tak ada apa-apanya. Pilot handal dan maskapai terbaik menjamin keselamatan penumpang? No, Dear.

Mereka melakukan sebatas kemahirannya dalam bekerja. Kepiawaian dalam memberikan fasilitas nomer wahid. Ujung-ujungnya, ya tetap doa dan kepasrahan manusia pada qodo dan qodar-Nya.

Jadi, kalau pas lagi kesel, sebel, atau galau apalah-apalah, saya cuma akan duduk. Merem. Inget-inget saat penerbangan emitares itu. Gocangan pesawat, kilatan petir sahut menyahut di samping jendela dan teriakan doa orang-orang yang ketakutan.

Saat itu saya hanya ingin pulang, bertemu keluarga, melihat tawa mama di pintu kedatangan bandara, setelah bertahun-tahun di negeri orang. Bukan pulang, dari berita duka di TV swasta. Masuk rentetan daftar korban dalam bencana. Hilang di tengah samudra.

Mengerikan. Sangat mengerikan.

Lalu kini saya hanya akan diam. Percayalah, kita tak akan berusaha melakukan sesuatu yang buruk bila pernah berada dalam situasi yang tak bisa memilih antara hidup dan mati.

Saat itu, kami semua, turun dari pesawat dengan lega, bahagia. Meninggalkan mual, pusing dan trauma. Maha kuasa Allah dengan segala cinta dan karunia.

Laa haula wa laa quawwata illaa billah..

Paris dan Sebuah Kehilangan

Saat di Paris, saya mampir ke museum d'Orsay. Ada jam dinding besar yang menjungkirbalikkan saya pada waktu, rindu dan detak yang akan terus berputar maju.

Seperti kenangan yang menggugah batin saya. Meski bertahun lamanya.

Setelah dinas malam waktu itu, saya meluncur ke Cimahi. Dari pusat Kota Bandung memang lumayanlah yah. 1 jam lebih. Tapi ada sesuatu yang mengharuskan saya ke sana, hari itu juga.

"Alhamdulillah sudah dimakamkan."

Saya sesak napas. Bukan. Bukan asma. Tapi nada perempuan di depan saya ini yang jauh dari getaran duka.

"Sabar yah, Teh." Teh Ipah, yang menemani saya, mengisi kekosongan obrolan.

"Saya sudah merasa, Vi. Ga mau makan berhari-hari. Nangis juga udah pelan banget. Akhirnya saya pasang NGT (NasoGastric Tube) sendiri. Ga tega. Tapi gimana lagi."

Saya tahu, meski kami perawat, melakukan tindakan medis pada orang-orang yang disayangi bukan perkara mudah. Teman saya, harus menangis dulu, hanya untuk menginfus ayahnya. Apalagi Teh Dewi, memasang NGT ke bayinya, yang masih merah.

Hebatnya, dibanding memeras air mata, Teh Dewi berhasil menyetir obrolan kami. Mengubahnya menjadi tawa, canda dan rindu karena lama tak bertemu. Ditemani keripik dan singkong keju.

Lain di Cimahi, lain pula di Arab Saudi.


Tak tahu harus menjawab apa, ketika pasien yang sudah saya anggap kakek sendiri, kembali ke pangkuan illahi.

"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Baba meninggal tadi malam."

Alhamdulillah?? What? Saya tidak salah dengar? Orang tuanya meninggal kok di-alhamdulillah-in.

Okay. Otak saya masih mencerna. Kalimat, "saya turut berduka cita" tiba-tiba nyangkut di tenggorokan.

"Jangan ucap Innalillahi yah. Tapi bilang Alhamdulillah. Tugas beliau di dunia selesai. Sudah waktunya lanjut ke perjalanan berikutnya." Senyum Madam Sanah mengembang. Saya, celingukan.

Dengan bibir bergetar, dan hati nyeri, saya berkata lirih, "Alhamdulillah, Baba sudah pulang."

Mengingat mereka berdua, membuat saya tak mampu menitikkan air mata, ketika pagi tadi mengantar jenazah Mbah Buyut Putri ke pemakaman, Bergota.

Tak ada histeris, jeritan, bahkan raungan tak rela ditinggal pergi. Keikhlasan mengungkung. Membungkus rumah duka.

Benar memang, kehilangan, selalu punya ruang sendiri untuk kembali dirayakan. Meski dalam diam dan balutan doa.

Bukankah sedih juga tak mampu mengembalikan mereka yang pergi?

Saya memang benci perpisahan, tapi tak bisa pula menghindari kematian. Toh suatu saat, akan datang giliran. Seperti absensi di kelas matematika. Perhitungan usia, tak ada yang tahu rumusnya.

Maka saat ada yang berpamitan keluar negeri, mengejar mimpi, bukan isakan seperti segerombolan orang-orang disekeliling. Tapi doa dan seutas senyum yang membuatnya tenang dan nyaman untuk melangkahkan kaki.

Lain waktu, berkenalanlah dengan Teh Dewi dan Madam Sanah. Mereka yang mengajarkan saya apa itu kehilangan dan perpisahan sesungguhnya.

Esoknya, bertemu dengan mereka-mereka yang rela sang anak meninggal demi tak melihatnya kesakitan karena kemoterapi dan obat-obatan penghancur sel.

Mereka yang mengingat mati, tapi tetap berjuang untuk kemaslahatan orang-orang yang disayangi.

Pada kenangan yang membuat saya bertahan, kebahagiaan yang membuat saya tegak mengarungi tantangan, dan pada cinta, yang membuat saya percaya, Allah selalu punya rencana indah, untuk setiap makhluknya.

Khusnul khatimah nggih, Mbah. Terakhir kami mengobrol saat hari di mana saya baru menginjak tanah Indonesia. Semoga kita bertemu kembali, nanti, di kehidupan selanjutnya.

"Menangislah saat sedih, sampai puas, lepas. Tapi setelahnya, bangkitlah, ada mimpi dan masa depan menunggu untuk ditaklukkan." - anonim.

Menjadi perawat, tak lantas membuat kuat. Tapi semoga tetap dekat, dengan pemilik hayat.

*Violeta
Semarang, 7 Oktober 2017, 7.44 pm

Kamis, 27 September 2018

Wedding Airlines

Saat bekerja di Arab Saudi, saya sudah mengirim CV ke beberapa lembaga, termasuk Malaysia, Australia, dan Amerika. Beberapa mewajibkan pelatihan menyetaraan ilmu dan bahasa. Beberapa langsung diterima karena pengalaman kerja. Rencana lainnya, kuliah, tentu saja.

Tapi ternyata ada hal yang mengharuskan meninggalkan semua berkas dan email-email itu. Sampai sekarang email dari USA masih sering masuk. Dari seminar hingga hiring.

Saya hanya mampu menarik napas panjang. Lebih dalam. Sampai menusuk tiap gelembung paru. Saat tawaran menambah kontrak kerja, perpanjangan visa Schengen dan gaji 2 kali lipat, datang.

Sebagai seorang yang terlahir di keluarga biasa, berada di Eropa adalah impian terakhir. Sudah didapat. Benar-benar digenggaman. Yang saya lakukan? Resign.

Ketika orang-orang bersuka cita di depan menara Eiffel, saya meredam ngilu di dada. Saat turis-turis berebut mengambil foto lukisan Monalisa, mata saya nanar bergemuruh lara.

Memilih antara karier dan pernikahan ternyata tak semudah teriakan mereka tentang manfaat menikah muda. Ada yang harus dilepaskan. Bukan tentang lajang, lebih dari itu. Saya belum siap.

Seatbelt kursi pesawat Emirates jurusan Saudi-Dubai-Jakarta sudah dikencangka. Tak ada yang menggembirakan meski pesawat 2 lantai itu memberi kenyamanan ekstra dengan TV layar jernih, bantal, selimut, dan kudapan istimewa. Bagi saya, burung besi itu seperti Dementor yang menghisap rasa bahagia dengan buas dan tanpa ampun. Membawanya pergi. Jauh. Menyisakan ampas yang akan dicabut paksa.

Setahun berlalu, kepulangan ke Indonesia seminggu lalu memberi ‘rasa’ yang sama. Retakan di luka lama. Sengaja hanya membawa seperlunya. Tak ada baju. Tanpa buku. Karena yakin, nanti pasti kembali lagi ke ‘rumah’.

Sejak mamas selalu ada meringankan beban di pundak. Menghapus air mata. Mengubahnya menjadi derai tawa. Sejak itu saya tahu, ‘rumah’ adalah tentangnya.

Pesawat jurusan Chitose-Kuala Lumpur mulai lepas landas, melipat roda, menembus kapas putih mengambang. Melalui jendela oval, saya menerawang jauh, melintasi Troposfer, berkelana di Stratosfer, hingga mamatung di Eksosfer.

Aahh, saya jatuhkan punggung di sandaran kursi. Pernikahan sejatinya seperti pesawat ini, Sayang. Mencoba mengelus diri sendiri.

Mencari jodoh adalah saat mencari tiket. Maskapai mana yang cocok, waktunya pas, dan kelas sesuai kantong. Masa menemukan dan ditemukan

Lamaran adalah saat membeli tiket. Sudah merasa klik, tapi belum pasti terbang atau tidak. Ditukar, di-pending atau lanjut.

Akad adalah ketika ada persetujuan kedua belah pihak, proses check in. Tiket boarding pass sudah benar-benar di tangan. Sah dimiliki atas nama sendiri.

Selanjutnya, pernikahan itu tentang menaiki pesawat. Yang bergetar saat akan memulai perjalanan. Menghunus barisan awan dengan kekuatan penuh, membuat siapapun yang baru mengalami pertama kali bergidik ngeri. Berpegangan erat di sisi kursi. Tapi jika sudah terbiasa, santai saja mau makan, minum dan mengobrol santai. Tanpa peduli, daratan tak tampak lagi.

Belum tercapainya mimpi-mimpi saya dulu menjadi trigger tak terelakkan di awal pernikahan. Julangan Eiffel yang justru terasa bengis. Dan panggung pengantin seperti monster yang siap menerkam.

Tapi, tunggu, pasangan itu bukan tentang penumpang, kan?

Suami istri itu, seperti pilot dan co-pilot, Sayang. Saya menepuk-nepuk bahu sendiri.

Saling melengkapi. Membantu. Mengisi. Bersinergi membawa ‘Wedding Airlines’ terbang menuju tujuan. Tak bisa salah satu. Harus berdua. Harus. Bagaimanapun, suami-istri adalah partner sepanjang usia.

Sekarang saya mengerti bahwa, kita tak bisa menjadikan kemauan sendiri menjadi dasar mutlak untuk melakukan sesuatu. Ada hal-hal yang memang harus dibicarakan berdua. Didiskusikan. Jika ada yang harus disingkirkan. Bukan berarti tak baik, hanya saja, belum tepat waktunya dilakukan.

“A great marriage is not when a ‘perfect couple’ comes together. It is when imperfect couple learns to enjoy the differences.”

Ada banyak perbedaan, pasti. Tapi dari sana kami belajar menyelami pribadi masing-masing. Bukan pasangan sempurna, jelas, tapi karena itu berusaha untuk tak menyakiti. Akan selalu ada masalah menghampiri, seperti turbulensi yang datang tak tahu diri, tapi dengan saling percaya, apapun dapat dilalaui. Tak selalu bisa bersama, tapi bukankah itu yang membuat setiap pertemuan menjadi istimewa?

Menanti dia dengan jantung berdegup kencang di depan pintu kedatangan penumpang?

Pernikahan bukan tentang maskapai apa yang kita naiki, Sayang. Sebesar apa kabin dan baling-balingnya. Bukan pula tentang empuk kursi dan hangat selimutnya. Tapi tentang selalu mendukung, mendoakan, dan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.  

Terima kasih atas rangkaian bunga yang dibawa saat pulang kerja. Atas pengertian bahwa terkadang emosi wanita tak bisa ditawan lama-lama. Paham bahwa menulis seperti ini tak semudah mengucurkan isi teko dalam gelas porselen bertulis nama kita.

Jika dengan bercerita padamu berhasil mengurai peliknya pikiran, untuk apa kertas kosong yang justru membuat kata terjerat di titik buntu?

Ahh, ya, ini pula yang menjadi alasan kenapa undangan, pelaminan, dan pernak-perniknya bernuansa pesawat. Biar ingat kalau nikah itu tidak sekedar menikmati pemandangan, tetapi juga bersiap-siap kalau tetiba oleng dan awan gelap menghadap. Tapi, tenang, akan ada banyak harapan, lebih dari sekedar kemungkinan.

“Marriage is for life, not just the wedding day.”

*Marintha Violeta
27 September 2018

Rabu, 26 September 2018

Perawat Membedah Kepala Berani, Tapi Takut Keluar Negeri?

Selama 1,5 tahun berada di Arab Saudi, mengira hanya saya yang menjadi perawat private, ternyata di luar sana banyak juga yang senasib begini. Tersebar di kota-kota Arab Saudi. Sayangnya, belum banyak yang show up ke media atau terang-terangan menceritakan pengalamannya. Jadi sudah tentu informasi tentang private homecare di Arab Saudi itu langka.

Jika mencari di google, kebanyakan tentang lowongan kerja. Tapi cerita suka dukanya, duhh, limited bahkan tidak ada. Saya sendiri mencari informasi dari si A dan si B lalu disalurkan ke si C.

Padahal, penyakit semakin beragam dan tingkatannya menurun. Usia 30an tahun saja sudah banyak yang mengidap diabetes, jantung dan kanker. Bagi mereka yang tak ingin dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan, menghabiskan puluhan hingga ratusan juta karena harus sewa kamar, perawat homecare solusinya!

Sayangnya, jenis lowongan ini jarang sekali dilirik pasar. Perawat inginnya bekerja di rumah sakit mentereng dengan posisi gemilang. Mungkin itu sebab surat lamaran ke RS besar menumpuk tak terkira. Kata teman yang bekerja di RS terkemuka, tidak semua surat lamaran kerja terbaca. Karena bisa jadi loker hanya 20 perawat, tapi yang masuk hampir 800 map lamaran kerja.

“Mana ada waktu kita baca CV satu-satu, Vii?” katanya getir.

“Terus nasib sisanya gimana?”

“Kemarin aku baru bakar 300an map lamaran perawat. Duhh, rasanya ngeri. Tapi mau gimana lagi?” Dia menggigit bibir. Antara bersalah dan tak ada pilihan.

Ngeri! Iya, ngeri, jadi rasional sekali jika hampir 20an surat lamaran yang saya kirim ke RS besar tak ada satu pun yang berujung panggilan. Berjamaah hilang tanpa jejak.

Ketika di kampus, kami juga tak memiliki banyak pandangan. Bayangkan, hampir 1 angkatan mengejar posisi di RS yang sama. Padahal kursinya tak seberapa. Teman menjadi lawan, berlomba habis-habisan.

Bahkan ada yang diam-diam menghanyutkan. Diam saja kalau RS A ada lowongan, tahu-tahunya sudah diterima. Cengengesan saat ditodong, “kok nggak ngabarin sih kalau di sana ada bukaan?” Yang lain, merengut kecolongan.

Sedih sih, tapi ya gimana. Mungkin memang nasibnya. Kalau orang jawa bilangnya ‘bejo-bejonan’.

Ada pula yang rela menganggur berbulan-bulan. Demi diterima di RS terkenal. Tak apalah ongkang-ongkang dulu, yang penting nanti bisa kerja di RS internasional dekat rumah.

Ini serius, ketika saya mengirim lamaran ke Bandung, saya coba mengajak teman-teman untuk melamar di sana. Tapi jawabannya hampir sama, “JAUH!” Duh, padahal masih di Pulau Jawa juga.

Jadi sekarang kalau saya ajak hijrah keluar negeri, jawabannya lebih dramatis, “GILA LO, VII!! ITU JAUUHHHH BIANGGEETTT,” sambil teriak heboh kaya mau diajak ke akhirat. Padahal ya masih di bumi yang sama.

Ajakan saya sebenarnya bukan tanpa alasan. Tidak mungkin saya menawari mereka yang sudah memiliki posisi mapan. Justru tak tega dengan sejawat yang keluhkan gaji segini, perlakuan begitu. Tidak sesuai dan sering terdzolimi, katanya. Waktu diajak kerja sambil umroh gratis plus bisa haji, alasannya bejibun ribuan.

Saya harus bantu bagaimana lagi?

Mendoakan agar segera diberi jalan keluar?

Baiklah, akan saya ceritakan 2 kisah yang beberapa hari ini mengganggu pikiran. Ini kisah sahabat sendiri. Nyata. Bukan bualan. Apalagi hoax.

2 orang ini nitip doa jodoh. Minta dibacakan saat umroh. Karena keduanya sama-sama single dan sudah berumur matang. Akhirnya saya bacakan, dengan niat, doa dan di tempat yang sama. Dibaca berulang-ulang.

Awal bulan ini, 1 sahabat mengabarkan jika bulan depan akan menikah. Saya kaget! Secepat itu? Iya, dia juga kaget. Tapi kemudian bercerita segala prosesnya. Dari mendekati orang tua, proses ta’aruf, lamaran, hingga persiapan-persiapan detail seperti membaca buku-buku seputar pernikahan dan kiat-kiat menjadi keluarga yang samawa.

Sahabat satunya. Benar-benar tak ada kabar. Jangankan pernikahan, dekat dengan siapa saja tak ada. Setelah saya tanya, ternyata tak pernah ke mana-mana. Jangankan memperbaiki diri, bersosialisasi saja tak mau, apalagi membuat CV taaruf atau bertemu kyai minta dikenalkan. Ya bagaimana mau ketemu jodohnya?

Saya selalu percaya kekuatan doa, tapi tanpa usaha, doa kita hanya tertimbun di awan-awan, entah kapan dijatuhkan. Usaha itu bentuk dari ikhtiar. Melakukan upaya seoptimal mungkin. Benar-benar sampai mentok mepet tembok. Setelah itu baru tawakal.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah: 10)

Jadi teman, cobalah untuk membuka pintu selebar-lebarnya. Keluarlah mencari kesempatan. Ambil peluang yang memang tersaji di depan mata. Genggam resiko dengan keyakinan untuk maju, tumbuh besar dan mendekat pada kuasa Allah. Tanah kita bercocoktanam itu seluas muka bumi. Jika rezeki belum kelihatan hilalnya di sana, bisa jadi tertumpuk di sini.

Beranilah mengekspresikan diri di mana pun dan kapan pun. Let other people chase you by doing something phenomenal! Jangan sampai ketakutan justru mengkerdilkan kemampuan diri. Membedah kepala dan mengeluarkan otak manusia saja berani, masa keluar negeri tidak bernyali?

Jika Arab Saudi dirasa terlalu jauh, bisa pilih Singapura yang sedang menanti ekspansi perawat-perawat pemberani.

Semoga kita tidak menjadi manusia instan yang mau mudahnya saja. Tapi menjadi manusia intan yang sukses karena berproses. Bertahan dari dahsyatnya pembakaran perut bumi. Lalu keluar menjadi pribadi yang bersinar terang.

‘Irak bin Malik radhiyallohu ‘anhu pergi dan berdiri di depan pintu masjid ketika selesai shalat Jum’at, memanjatkan do’a, “Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, menunaikan kewajiban-Mu dan bertebaran (untuk mencari karunia-Mu), sebagaimana yang Engkau perintahkan kepadaku, maka limpahkanlah karunia-Mu kepadaku karena Engkau-lah sebaik-baik Pemberi rizki.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

*Violeta
Jeddah, KSA. 16 Februari 2017. 09.05 pm

Selasa, 25 September 2018

Nonton Bule Mancing di Spanyol

Mancing, adalah ujian keimanan. Bagaimana tidak, jika sepanjang menunggui umpan dicaplok ikan, saking lamanya, saya malah mengumpati cacing yang kloget-kloget di keranjang. Apes bener nasibmu to, Cing Cacing! Sampai cetol aja ga minat.

Tapi kali ini beda, saat olahraga napas di tepi Pantano Nuevo del Angel, atau Danau Baru Malaikat di kawasan Andalusia, perbukitan Marbella, Spanyol. Jalan-jalan sambil nyari jajan. Ya kali ada tukang cilok manggrok. Malah teralihkan oleh dua bule yang lagi mancing. Tapi ndak sembarang mancing, Bos. Lha pie to. Ada 6 joran yang dilepas dan dikoncer, ditancap ke tanah. Seperti mancing kakap putih di Indonesia. Nah, si empunya malah tiduran di barak. Asoy dengan bantal motif semarak.

   
Saya dan 3 teman dari Philippine jelas terkagum-kagum dengan ketampa... Bukan. Tapi dengan cara mereka mancing.

Lha kok enak. Dulu saya nungguin adek mancing sambil jongkok di pinggiran kolam. Jadi bancaan nyamuk. Dirundung amis dan kepiluan mendalam. Karena sendal baru kinyis-kinyis kecebur kolam. Betapa Tuhan begitu besar menimpakan cobaan pada si Nevada bunga-bunga yang dibeli diskonan.

Padahal cuma nungguin. Ahh, ya bagaimana, saya terlalu imoedz dan swit untuk melempar umpan. Apalagi menyiksa cacing tak berdosa. Tak tega. Pedih melihatnya. Nyeri menyaksikan pembantaian paling kejam, menusuk tubuh kurus, panjang, merah dan kenyal menggemaskan di kail. Lalu melemparkannya dengan penuh ambisi. Berharap ada yang menelan bulat-bulat. Sungguh terlalu!

Apakah ini namanya berkorban untuk mendapat yang lebih besar? Jadi ingat kerelaan mempreteli barbie sambil guling-guling di lantai demi boneka Teddy setinggi kulkas.

Yang menjengkelkan, 3 jam jongkok sampai kesemutan dan kegajahan, blas ga dapat apa-apa. Padahal itu di kolam pancing yang dikelola, lho. Kolam berwarna hijau zamrud tapi tidak bisa dijual di toko perhiasan, dikelilingi pondokan bambu dan jalan kayu. Katanya, banyak gurami, lah, jangankan bayik gurami, ponakannya saja blas ga kelihatan wujudnya.

Saya jadi curiga, ada konspirasi dibalik kolam yang tidak terlihat dasarnya. Bisa jadi isinya batu. Karena terobsesi mengecek kedalamannya, 'air beriak, tanda tak dalam'. Atau biar si penjaga bilang, "Ikannya beli saja, mau dibakarkan juga bisa." Benar-benar merusak kode etik permancingan nusa bangsa tanah air beta.

Balik lagi ke si bule berkacamata. Setengah jam berfoto ria dengan bebek-bebek gemulai, salah satu pancing disambar. Alat pancing bergoyang. Dua bule tarik menarik dengan si sisik yang masih berusaha lari. Kecipak air semakin besar di tengah danau. Tarik. Ulur. Tarik. Ulur. Cantik. Sambil mengibas rambut Syahrini.

Saya yang nonton ikut histeris heboh. 3 teman sudah berlari mendekat. Berharap dapat memberi suntikan semangat di tengah pertarungan hebat. Angin berhembus. Daun-daun beterbangan. Alam menyambut dramatis. Kritis!

5 menit kemudian. Byaakk!!! Ikan besar keluar. Menggelepar. Wuiihhh.. Gede brooo....

Setelah asyik difoto dan ditimbang. Gile, beratnya ada kali 10 kilo. Saya baru ngeh, danau nyempil dibalik villa dihuni makhluk sebohay itu. Kami bertepuk tangan penuh kemenangan. Seperti PSSI yang berhasil masuk Piala Dunia.

Karena hanya saya yang menggunakan kerudung di situ, malulah ya kalau minta foto bareng. Jadilah si akangnya saja yang saya foto. Sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya mancing sambil bobok-bobok ganteng.


Saya tanya itu ikan apa dan mau diapakan, tapi ternyata si akang bule tidak fasih Bahasa Inggris. Luar biasanya, saya nol setengah dalam bahasa Spanyol. Padahal kan lumayan kalau dibakar di situ. Saya bisa ikut icip-icip ikan danau dari negara yang lagi demam Despacito. Selidik punya selidik tapi tidak mendelik, itu ikan karper (Cyprinus caprio) atau ikan mas penghuni air tawar.

Lalu, eh lalu, si akang bule malah turun ke danau. Saya nunjuk-nunjuk ke air. Dianya ngangguk. Ladalah.. Ikannya dilepas!!

Uuuhhh... Saya yang lihat dari daratan kok ya malah ada rasa yang tak terdefinisi menyeruak di relung dada. Sesak. Engap. Gantian, emosi saya yang terpancing. Menggelepar di atas kehampaan dan kehilangan yang pragmantis.

Saya memang tidak begitu naksir mancing. Naksirnya, kamu. Tapi nonton Mancing Mania di TV jadi hiburan tersendiri. Mengisi waktu selow remaja putri anti pegang yang amis-amis. Sebuah penyelamat generasi barbie dengan mengenalkan pada tantangan mancing di tengah badai atau di sungai aliran deras. Sederas gombalanmu yang ujung-ujungnya jadian sama sahabat.

Meskipun bego dalam Tata Negara Permancingan, sama begonya saat nonton 1 bola yang direbutin 24 orang. Dikejar, setelah dapat, ditendang lagi. Sama stupid-nya nonton badminton yang menunggu shuttlecock datang, setelah dekat, di-smash lagi sekuat tenaga. Juga sama gilanya nonton catur yang cuma duduk tapi kegemetaran. Ya, gitu-gitu, tetep saja ga kapok nonton dan jadi pemandu sorak.

“Give me B! Give me O! Give me Y!” sambil menghentak-hentak pom-pom.

Ternyata hidup semenyedihkan itu. Sesuatu yang sudah dicari dengan penuh pergolakan batin, waktu dan rindu, akhirnya dilepas agar dia bahagia dengan pilihannya. Ahh, harusnya saya menekuri nasib Nevada bunga-bunga. Hidup itu amis, Nev!

*Marbella, Spain

Kamis, 20 September 2018

Salju itu nggak keren blas, Sistaa!

“Salju itu bagusnya cuma sehari, selanjutnya, pengen buru-buru pulang!” backpacker asal Jakarta yang kami, saya dan mamas, temui di Sapporo Snow Festival memberi bocoran.

Saya meringis, “Sehari? Kelamaan, Mbak! Saya cuma seneng 5 menit! Eh, 2 menit malah!”

Menit pertama, saat lihat semua serba putih, ada yang meletup-letup di dada. Girang bianget aye, Bang. Ngelebihi belanja di alpa dapet piring.

Menginjak-injak butiran halusnya. Loncat-loncat. Gulung-gulung. Meraup dengan tangan telanjang.

Niatnya sih bikin Olaf, tapi khilaf, di menit kedua, telapak tangan kaku, kebas. Dingin menusuk kulit. Hidung meler, napas sesak dan badan sulit digerakkan. Plus berkali-kali kepleset karena jalanan licin. Kyakk!!!

Selanjutnya, mengurung diri di kamar seminggu. Trauma ketemu salju.

“Ihh, tapi kan keren, Vii! Romantis gitu, loh!”

Serius, nggak keren banget dah kalau liat berita di tv seantero Jepang, dan desas desus orang-orang. Salju saat saya awal datang itu dahsyat. Bahkan jadi hujan salju terlebat dalam 4 dekade.

Di Perfektur Fukui, 320 km dari Tokyo, ketinggian salju 1,36 meter. Itu rumah bener-bener kependem es. Belum lagi banyaknya rumah ambruk karena atapnya tidak kuat menahan beban tumpukan salju yang menggelayut mesra.

Akses jalanan tertutup. Macet 10 km. Sayangnya tidak cuma para pekerja dan dedek-dedek emesh JKT 48 yang harus terhenti berjam-jam, distribusi makanan ke supermarket dan restoran juga kacau balau. Berhari-hari, makanan langka. Bahkan air saja tidak ada. Lha wong pipanya beku kok.

Tidak cuma itu, banyak yang meninggal karena tertimpa bongkahan es yang jatuh dari atap gedung, plorotan maut dari atap saat membersihkan salju, kejengkang lalu kepala terbentur es dan tenggelam karena tidak tahu kalau di bawahnya adalah air yang dingingnya aduhai.

Belum pula kecelakaan lalu lintas karena jalanan licin dan jarak pandang yang terbatas di Prefektur Fukuoka dan Miyagi. Total ada 700 kecelakaan dilaporkan dari siaran TV nasional Jepang.

Tidak termasuk kereta yang berhenti di tengah padang salju Kota Sanjo di malam hari. Tumpukan tebal salju di sepanjang rel membuat roda kereta macet hingga menanti evakuasi esok hari. Dan pesawat yang dilarang terbang beberapa hari, membuat 5000-an penumpang menginap di bandara.

Ngeri lagi, hipotermi di Jepang membunuh sekitar 16.000 orang sejak 2000-2016. Nah, saat badai itu, 705 orang dibawa ke IGD. 161 orang meninggal karena kedinginan dan kurang asupan makanan.

Hhmm, tarik napas dulu.

Jadi ndak salah to Sis kalau saya enggan keluar kamar?
Ndak salah juga to kalau salju itu bagusnya barang 2 menit?

Berasa ngeh gitu kalau sudah lihat sendiri, kenapa Indonesia jadi destinasi wisata dunia. Bagaimana sawah dan kebon, jadi tempat bule-bule rela berlama-lama. Betapa, hangatnya musim di Indonesia selalu dirindukan dan ingin kembali lagi dan lagi.

Di Arab Saudi itu panasnya bisa 50 derajat. Nyengat sampai ubun-ubun. Saya? Mimisan berulang kali.

Di Eropa, iya sih enak, pas musim semi sama gugur, anginnya sejuk, tapi tidak dengan biaya hidupnya. Menguras kantong. Mana ada lentog sayur harga 3000 rupiah? Roti seemprit aja 1 euro, 15 ribu rupiah, sekali kunyah. Apalagi gule kambing. Eww…

Bersyukurlah, lahir dan besar di Indonesia, di mana yang namanya kere masih keren kalau bisa nongkrong di kedai kopi harga cuma 5 ribu, tapi bisa wifian gratis sampai pagi. Di Paris mana bisa? Dilempar eiffel yang ada.

Berbahagialah, hidup dan tumbuh di Indonesia, di mana saat kamu jatuh di jalan, banyak yang akan bantu berdiri, minimal bilang, “gimana, Mbak? Aduh, ati-ati. Jalannya licin. Sini saya gendong.” Di Jepang mana ada, berapa kali saya lihat orang terpeleset di atas es, mencoba berdiri sendiri, meski banyak orang lalu lalang di sekitar. Sudah sakit, malu pula.

Makmurlah di Indonesia, bergaya dan bertampang. Di mana hujan-hujanan adalah masa memantaskan diri menjadi manusia dewasa karena tahan masuk angin. Di Jepang, tidak bawa payung saat hujan, dipelototin banyak orang, karena dianggap bodoh sekali tidak membaca perkiraan cuaca hari itu. Jadi, gegara ini juga, saya setiap pagi, melototin tv cuma nonton acara cuaca.

“Dulu kok pilih Hokkaido, sih? Masa setahun summer cuma 4 bulan sisanya salju terus-terusan?” Saya cemberut amit-amit di Stasiun Otaru.

“Ya karna ada mushola di RSnya. Eh ternyata malah lebih deket ke Rusia dari pada Tokyo. Hhaa.”

“Ihh, dingin tauuk! Beliin yang anget-anget.”

“Oke, tunggu sini.”

Romantisnya. Ndengaren, biasanya loh saya yang disuruh beli sendiri. kasirnya ngomong bahasa Jepang, yang saya tangkep cuma bagian, “…… desu ka.” Itu kalau diartiin cuma tanda ‘?’. Hambuh yang ditanyain apa.

Saya balas, “Aiwa, aiwa..” Bahasa Arab, artinya, ‘iya, iya’. Bahasa Indonesia dia juga kagak ngerti kan?

Di antara hiruk pikuk stasiun yang dijejali turis China dan Korea, dengan kerennya, si mamas datang dari belakang nyodorin… es krim.

Saya mlongo.

Seharian diguyur hujan salju, angin kenceng dan badan beku. Minta anget malah dibawain es krim itu rasanya, geregeee…

“Nggak mau?”

“MAAUUU!!”

Kami tergelak, serempak. Romantis? Ngekek aja dah.

Sedingin apapun suasana, bersyukur, selalu ada yang berhasil membuat saya tertawa.

Mungkin, kita tidak dilahirkan di negara yang memiliki 4 musim. Mungkin, kita belum bisa selalu bersama sekarang. Mungkin, kita masih harus berjuang lebih kuat untuk mencapai impian. Mungkin, gelapnya malam membuat kita khawatir pada masa depan.

Tapi, bahagia, tak harus musiman. Kenyamanan dan menjadi diri sendiri adalah tonggak dasar, di manapun berada, bersama siapapun, dan apapun yang sedang terjadi, bahagia, harus menetap di hati. Entah saat didekap salju, atau diserang rindu.

*Violeta
Sapporo, Jepang. 26 Februari 2018. 12.10 pm  

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...