Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2018

Di Bawah Pohon Sakura

Menurutmu, aku harus mulai dari mana? Dari dersik ilalang membawa terbang suaramu. Atau, dari kabut yang menyamarkan bayanganmu?

Tidakkah kau berkenan menoleh sejenak. Pun meski dengan cara klandestin, rahasia. Menilik pemilik tubuh membeku di bawah pohon sakura. Lalu mendekat dan melukis senyum di bibirnya.

Ahh, sayang hidup tidak semudah dandelion terlepas dari indungnya. Ketika gerimis mengerangkeng semesta. Aroma petrikor menyeruak dari balik semak. Tanah basah yang tak mau kalah.

Baiklah, memang harus ada yang mengalah. Aku akan pulang. Turut serta dengan swastamita. Beranjak dari langit jingga.

"Setidaknya ada yang tercetak di mulutmu sebelum melangkah." Pikiran gila yang membuat hatiku halai-balai. Ah, sudahlah. Toh kau sudah tak ada di sini.

Pohon sakura perlahan tertinggal jauh. Gemerisik rumput membendung. Rintik semakin deras menghujam tubuh yang hanya berbalut gaun merah marun kesukaanmu. Warna yang kuharap menarik mata bintang itu.


Sia-sia. Harusnya aku tak perlu memelihara rasa menyebalkan ini. Gemereletak yang selalu berlompatan ketika melihatmu. Rasa yang tak pernah mampu aku taklukkan sejak bertemu satu tahun lalu. 
 
Dan menanti seseorang mengetahui apa yang dirasakan itu menjemukan. Sangat melelahkan.

Aku menarik napas dengan rakus dan mengeluarkan kasar berkali-kali hingga..

"Nayanika!!"

Tubuhku menegang. Suara itu... Aku berbalik dan mendapatinya berlari mendekat.

"Ke-ke-napa pergi?" Suaranya tersengal. Laki-laki berkulit cokelat kekuningan telah berdiri tepat di hadapan.

"Arkian..." suaraku lebih seperti bisikan. Tunggu. Bagaimana dia ada di sini? Bukankah tadi berkata akan pergi? Lalu begitu saja meninggalkan aku di taman. Mau apa lagi sekarang?

"Maukah... Hhmm.. Maukah kau menemaniku?" Suaranya hampir kandas oleh gemuruh jutaan tetes air langit memukul permukaan Danau Pancawarna di samping kami. Gerimis berubah menjadi gertakan.

Alisku terangkat. Yang berarti: 'What are you talking about?'

"Will you marry me?" 

What!! Wajahku memanas! Hujan semakin lebat.

"Jangan. Maksudku, tidak perlu dijawab sekarang. Besok. Insyaallah besok. Aku menemui orang tuamu," katanya kemudian yang justru membuat jantungku berdegup tak beraturan.

"Ini... tadi aku pergi membuat ini. Saat kembali, kamu sudah tidak ada di bawah pohon sakura. Maaf membuatmu menunggu lama." Cincin dari ilalang kering dengan bunga rumput sebagai manik tergeletak di telapak tangannya yang menengadah.

-Menanti subuh
*Violeta
Jeddah, KSA. 6 September 2016. 3.00 am.


SwastamitaS = sunset
Petrichor = aroma hujan

Kamis, 18 Oktober 2018

Jangan lakukan ini di Jepang!

1. Meneriaki Nama Orang di Tempat Keramaian

Sangat memalukan dan pamali sekali jika dilakukan. Saat ingin memanggil teman yang jaraknya jauh, kita terbiasa berteriak sekencang-kencangnya agar dia menoleh. Tapi jangan pernah lakukan ini di Jepang karena dianggap belagu dan tidak sopan. Berlarilah mendekatinya. Lalu katakan baik-baik apa yang kamu inginkan. Dengan begitu dia juga akan merespon balik dengan baik pula.


2. Menanyakan Status Pernikahan Pada Orang yang Baru Dikenal

Berbeda dengan di Indonesia di mana bertanya tentang keluarga dianggap sangan menarik dan membanggakan. Apalagi jika sudah punya anak yang lucu dan menggemaskan. Tapi tidak bila berbicara dengan orang Jepang. Jika berkenalan, jangan pernah bertanya apakah ia sudah menikah, punya anak berapa, suami atau istrinya di mana. Pertanyaan itu dianggap personal hingga sangat kurang ajar jika dibahas. Kecuali dia bercerita sendiri.

3. Membiarkan Dering Telepon Ketika Masuk Restoran

Makan adalah sesuatu yang sangat dihormati. Meski hanya sepotong sushi dan segelas teh hijau, mereka punya ritual khusus. Nah, begitu juga saat makan di restoran. Beberapa temat ada yang terang-terangan menulis larangan membunyikan dering telpon atau bahkan menelpon dan berbicara saat makan. Karena selain kehilangan kenikmatan makan, juga mengganggu pengunjung lain yang sedang menyantap hidangan. Bukannya nikmat, malah sebal kan dengan kita yang berisik dan tertawa ngakak.

4. Ga Bawa Tas Belanja Sendiri Saat ke Supermarket

Berita tentang kantong kresek yang diharuskan membeli di tanah air sempat menghebohkan ranah ibu-ibu rumah tangga yang pengeluaran bulanannya semakin melonjak. Padahal di Jepang sendiri, kantong kresek sudah dijual sejak lama ketika kita berbelanja.

Saat membayar di kasir, petugas akan tanya apakah kita butuh kantong kresek. Jika tidak, mereka tak akan memberikan karena menanggap kita sudah membawa tas belanja sendiri. Jika tidak membawa, mereka akan tanya butuh kresek berapa. Karena berarti kita membeli. Dan selanjutnya, kita akan memasukkan sendiri barang-barang ke tas belanja tanpa dibantu petugas kasir. Belajar mandiri, ya!

5. Sstt!! Berisik!

Nah, ini penting. Saat di manapun dan kapanpun, perhatikan dengan volume bicara kita. Meski bepergian dengan teman-teman, jangan sampai berlebihan saat mengobrol. Tidak tertawa dan berbicara terlalu keras. Intinya mah jangan berisik. Apalagi saat di kereta. Dilarang berbicara karena mengganggu mereka yang lelah seharian bekerja. Kan malu-maluin kalau mengganggu mereka yang ingin tidur di sepanjang jalan pulang. Jaga ketenangan ya, guys!

Sabtu, 13 Oktober 2018

Summer Dingin di Sapporo.

Saya kok ya heran. Angin mobat-mabit, mendung dan hujan nyaris tiap hari ini membuat orang-orang gerah. Kipas angin laku keras. Baju tipis dan terbuka, duh jangan ditanya.

Tiap pagi, saya harus buka ramalan cuaca. Lha pie, ga asik cuy kalo lagi duduk-duduk di taman tepi danau. Ngamatin kecipak air dari polah kaki itik yang ga ada capeknya berenang itu, tetiba tiktiktik, bunyi hujan di atas genting.

Pernahlah nrabas hujan cuma buat beli sawi ke supermarket. Dongs, itu sepeda saya cuma satu-satunya di parkiran. Padahal biasanya penuh sesak berderet-deret.

Maka cuaca terang benderang, dengan matahari hangat menghias angkasa, yang biasanya cuma 3 hari dalam seminggu. Membuat kami menyusun rencana mau ke mana.

Gilanya, entahlah yee.. tapi sering lho obrolan jadi kaya paranormal.

"Jalan, yuk."

"Senin minggu depan, cloudy, nih. Hayuklah. Soalnya minggu sama selasa hujan."

Baru 1 minggu lagi lho itu. Udah ada ramalannya. Dan buat kami, mendung sudah menjadi anugerah.

Dan saya akan bela-belain jalan kaki keliling blok cuma buat berada di bawah siraman terik matahari yang langka.

Kaya sekarang ini, tiba-tiba nyantol di Hokkaido University cuma buat nonton kakek-kakek yang asyik motret teratai.

Dulu saat kuliah, saya pernah bertemu orang Jepang di Jepara. Kami satu team untuk program penanaman mangrove yang memang sudah di pelopori oleh Universitas Diponegoro.

Setiap tahun akan ada acara di mana perwakilan mahasiswa se-Semarang dibekali ilmu per-mangrove-an dan bagaimana menjaganya. Dari bibit, hingga tumbuh membesar.

Saat kami berdua menyusur bibir pantai dengan terik Pulau Jawa yang aduhai, si Cinta, begitu kami akrab memanggilnya, cuma pakai kaos oblong dan kolor biru.

Katanya, cuacanya hangat. Nyenengin. Bikin betah main lama-lama.

Saya cuma ngakak. You know, semua tim sudah kalang kabut ke penginapan. Sibuk banget pake sunblock, topi, baju dan celana serba panjang. Kalau perlu ya payungan.

Di Jepang, summer itu artinya, duduk lesehan di taman, bawa bento, main sama merpati, berenang atau ke zoo. Apalagi Sapporo yang kemunculan matahari bisa dihitung pake jari.

Ini yang kemudian membuat saya bersyukur lahir di Indonesia. Cuaca bersahabat. Bunga mekar setiap saat. Plus, cucian kering dalam beberapa jam.

Si kakek barusan duduk di sebelah. Cuma buat ganti lensa kamera. Berdiri lagi. Cekrak cekrek lagi. Lalu kemudian..

Braakkk... Sepeda saya ambruk. Bungkusan lobak di keranjang berjatuhan ke tanah. Burung hitam besar nangkring di atasnya

Kyakkk... Lupa saya dengan pesan mamas kalau lagi jalan. Jangan pernah ninggalin makanan di keranjang. Bukan karena khawatir dicuri orang. Tapi dipatuki gagak.

Coba di Kudus, tuh burung bisa berubah bentuk. Iya, jadi iwak manuk goreng dengan lalapan dan sambel bawang.

Jadi sebenernya kamu pengen bahas apa sih, Vi? Absurd yaa.. soalnya yang tentang pindahan itu udah diceritain si mamas semua. Gini nih susahnya kita berdua sama-sama suka nulis.

Coba kalau sama-sama suka masak. Kan saya bisa libur dulu eksperimen di dapurnya. Hahaa..

Btw, lobak bisa dimasak apa ya? Pemberian dari sepasang suami istri asli Jepang. Langsung dipanen dari kebun saat saya main ke rumahnya barusan. Mirip bengkoang tapi ga bisa dipakai maskeran.

*Marintha Violeta
Sapporo, 14 Juli 2018

Sabtu, 29 September 2018

Sulitnya ke Jepang!

"Maaf, delay 2 jam bla bla bla...," petugas maskapai woro-woro. Uhhm, baiklah, mari kita bobok cantik di Bandara Ahmad Yani Semarang. Tentu setelah diberi satu botol air mineral dan roti O sebagai ganti rugi.

Jam 11 siang, suara mbak imut mengaung lagi, "Maaf, karena turbin pesawat bermasalah, maka ada pergantian pesawat. Akan diberangkatkan jam tujuh be bla bla bla.." hah!! Jam berapa tadi?!

Belum sempat saya mencerna kalimat, situasi sudah caos. Turis india berteriak protes. Ibu-ibu maju ke depan podium, mengambil alih mic, the power of emak keluar. Bapak-bapak mengacung-acung jari, muntah sumpah serapah.

Di belakang lebih parah lagi. 2 petugas dikeroyok massa yang minta pertanggungjawaban. Dari cancel, refund, hingga caci maki menggebrak meja. Saya masih celingukan, dari mahasiswa di sebelah, dengar kalau delay sampai jam 12.20 siang. Loh, mundur 1 jam kok sampai kisruh?

Di antara hiruk pikuk international waiting room mbak imut teriak, "TUJUH BELAS DUA PULUH! SETENGAH ENAM SORE!!"

Hahh!! Jadwal terbang jam 9 pagi bisa mundur 8 jam begitu! Istigfar.. istigfar..

Langsung menghubungi kelurga dan Mbak Dewi yang sudah janjian di Kuala Lumpur International Airport. Memintanya pulang saja.

Setelah suasana mendingin, saya minta kejelasan karena penerbangan selanjutnya berjarak 2,5 jam, karena toh di Malaysia hanya transit. Petugas meminta saya mengajukan surat delay di customer service. Kalau-kalau tertinggal pesawat. Mereka bisa memasukkan saya ke pesawat esoknya, gratis.

Dan ya, saya tak mau ribut. Bersyukur malah, kerusakan turbin terdeteksi di awal. Ga kebayang kalau kipasnya tiba-tiba mati saat melintas laut. Ambyaarr!!

Pula tak mau berada di ruang itu lebih lama. Setelah ke CS, saya pamit pulang. Oh ya, buat kalian yang mau meninggalkan bandara, lapor saja ke petugas. Mereka akan mencatat data diri, no hp dan nomer tiket. Kalau ada perubahan jadwal, akan dihubungi.

Lalu minta surat delay bagi connecting flight dan yang punya travel insurance. Saya juga check in tiket Malaysia - Jepang di Semarang, sayang untuk bagasi harus tetap keluar di Kuala Lumpur karena tidak booking connecting flight.

Nah, masalahnya, saya hanya punya waktu 1 jam untuk keluar imigrasi, antri bagasi, dan check in ulang. Saya belum pernah ke Malaysia, otomatis tak paham rutenya. Tapi mengingat dulu pernah ditahan imigrasi Jeddah 3 jam dan nyasar di Bandara Paris membuat kepala berkedut.

Dari petugas maskapai, menjelaskan dengan bijak dan lembut, bahwa, saya HARUS LARI KARENA KUALA LUMPUR AIRPORT BESAARR SEKALI!! Butuh setidaknya 30 menit untuk sampai di imigrasi. 30 menit untuk antri bagasi. Lalu 15 menit menuju check in counter di lantai tiga.

Pesan yang sangat mengharukan. Langsung lemass!! Pie nek aku kesandung trus gulung-gulung, check in udah ditutup, pesawat ke jepang udah lepas landass?!

Oke, baiklah, tarik napas (sambil mewek). Kalau seumpama telat, atau ditahan imigrasi, toh sudah punya boarding pass ke Jepang (saya aja tapi, kopernya belum).

Kemungkinan pertama, koper dibuang di Malaysia, saya terbang sendiri. Kedua, saya dan koper sama-sama dibuang di Malaysia. Ketiga, saya masuk di roda pesawat biar ga ketahuan ga punya tiket bagasi. Keempat, pulang dengan lapang dada trus nonton doraemon sampai mabok.

Sungguh pilihan yang sangat waras.

Di pesawat Semarang - Kuala Lumpur, buka Quran, baca yassin. Mengikhlaskan ditinggal pesawat ke Jepang ternyata tidak mudah. Tapi jika itu kehendak Pemilik Rencana, manusia bisa apa?

Semarang mulai hilang dari kejauhan, perlahan tertutup awan, diganti pekat tumpukan mendung di atas Laut Jawa. Pesawat berguncang. Saya sesegukan.

21.40 pesawat mendarat di KLIA 2. Jam 22.30 konter check in tutup. Waktu saya hanya 50 menit. Ya Robbiii!!! Tubuh bergetar hebat. Bagaimana kalau gagal?!

Pramugara syok saat tahu posisi saya. "Jauh! Tau ke bandara ni besar? Tak ade waktu!"

Uhh, baiklah, siapkan kuda-kuda, posisikan ransel 8 kilo di punggung dan tas selempang di pundak 2 kilo, lariiiii!!!

Gedungnya serius besar. Mirip Bandara Dubai, banyak tikungan, berkelok-kelok lorong, sayang tak ada waktu mandangin furniture, karpet warna-warni dan hiasan dinding. Kecuali papan arah menuju bagasi.

Lari, naik eskalator, lari, celingak celinguk, lari, turun eskalator, lari lagi, lihat pesawat take off, lari lagi, nangis, lari lagi, nangis lagi, lagi dan lagi. Kok gak nyampe nyampe siih!!!

Setelah napas satu dua, sampailah di gerbang imigrasi. Huahhh... jantung melorot ke perut. Sisa 30 menit!! Kyakkk!!

Imigrasi terlewati, dengan pesan si bapak yang aduhai, "Lain kali ambil connecting flight. Tak taulah dapat tak ko kejar pesawatnye. Menurut saye sih tak, lari saje. Besar kali tempat ni."

Hiks, optimis kali si bapak. Tak tau apa dari tadi juga lari sampe sakit kaki ni. Punggung nyut-nyut pulak, kaya gendong Upin Ipin. Nyeret koper 19 kilo. Pontang panting lihat tanda arah. Nyalip orang-orang lalu lalang. Sampai teriakin orang Jepang biar bukain lift-nya lagi.

Tapi syukurlah, bisa check in 15 menit sebelum ditutup. Engap. Lemas. Pasrah. Cuma duduk 10 menit di waiting room di gate P8 sebelum petugas ganteng teriak, "Boarding!! Boarding!!"

Mata saya basah, lagi. Hati mencelos. Alhamdulillah tak harus membuang koper, atau yang paling naas, menclok di roda pesawat.


Perjalanan itu jelas lebih berharga, dari pada naik pesawat pribadi. Karena di mulut tak lepas dengan dzikir, pikiran terkoneksi pada Yang Kuasa.

Banyak yang melihat keberuntungan. Melirik yang menyenangkan. Kalimat, "Enak banget sih di Jepang, Mbak!" Rasanya hanya akan tertahan di kerongkongan kalau tau perjalanan ke sini bertaruh mati.

Saya, bisa saja menggelandang di Malaysia, jadi TKW ilegal, ditangkap polisi karena tak ada ongkos. Saya, bisa saja dimakan hiu jika turbin pesawat ngambek di atas udara. Pulang tinggal nama.

Percayalah, semua ada prosesnya. Pun saat bertemu suami di gerbang kedatangan Bandara Chitose, Hokkaido. Langsung speechless.

Terima kasih pada Pemilik Semesta, mengizinkan kami bersua. Keluarga yang tidak henti berdoa atas perjalanan menegangkan saya. Suami yang menunggu berjam-jam di bandara, nyaris hopeless kalau saya kena random check dan di deportasi karena tak kunjung keluar.

Dan Airasia yang memberikan pengalaman warbiyazah. Bagaimanapun, saya salut dengan profesionalitas dan tanggung jawab pada penumpang. Paket Mcdonald's untuk ganti rugi saya santap di langit Osaka.

Jepang, mari kita rayakan. Sulitnya terbayarkan.

Ternyata, berdiri dengan tangan digenggam suami di bawah guyuran salju itu kebahagiaan yang tak terlukiskan, dingin, tapi hangat. Seperti didekap milyaran malaikat mungil bersayap putih. Menggetarkan.

Long distance marriage selalu indah saat kita tahu, home is where the heart is.

Karena tak ada yang salah dengan perpisahan, saat masing-masing dari kita percaya, akan selalu ada waktu untuk bertemu. Meski tidak mudah, meski penuh rintang. Tapi bersama, semua terasa istimewa.

*Violeta
Sapporo, Jepang, 22 Januari 2018. 10.30 am. Diantara salju, dan cintaMu.

Kamis, 27 September 2018

Jepang dan Budaya Malunya

Di SMAN 2 Semarang saat saya sekolah dulu, ada club bergengsi. Lupa namanya, tapi ekstrakulikuler ini berisi orang-orang pecinta apapun yang berasal dari Negara Jepang. Saban bulan ada saja kegiatan. Dari nonton bareng anime sampai menggelar event costplay. Biasanya, bergilir tiap sekolah di Semarang.

Sekali waktu saya datang, karena memang diajak. Bukannya excited seperti yang lain, saya malah bengong. Kok ya mereka mau berdandan, ngecat rambut sampai beli kostum ratusan ribu cuma buat foto-foto?

Acaranya loh rame di lapangan sekolah yang sudah disulap sedemikian rupa. Seperti karnaval tapi ala-ala anime. All-out, badan dicat putih, bawa pedang panjang besar, yang ternyata buat sendiri dari kardus. Ada yang jadi monster, putri, macam-macam. Sepertinya sekarang masih ada kan ya?

Saat sudah di Jepang, saya tak hanya bengong, tapi beneran syok.


Tidak hanya di jalanan, di depan toko, tapi juga di TV. Itu orang-orang berdandan layaknya anime. Dari acara anak-anak sampai berita harian. Dari perkenalan sampai promo. Padahal animenya juga baru akan rilis tahun depan.

Sekarang, anak-anak Jepang sedang dijejali dengan ‘Anpan-man’. Superhero yang berasal dari roti Anpan (bacanya: angpang). Jadi, di mana-mana ya isinya ini. Dari supermarket, souvenir, sampai bantal. Alasannya jelas, agar anak-anak lebih akrab makan roti. Jenius, kan?  

Nah, budaya inilah yang membuat saya kadang ngangguk-ngangguk lemah. Cara mereka menyajikan kebaikan menjadi sangat akrab dengan pendekatan persusif yang personal. Seperti, kita banget!!

Di kereta misalnya, ga ada loh yang mengobrol. Semua diam, sepi, dan senyap. Bahkan suara dering telepon saja tak ada. Saya dan mamas, kalau lagi naik kereta ya gitu. Langsung diem-dieman. Paling ngasih kode dengan tangan, kalau kita turun di stasiun depan.

Nah kalau ada telepon gimana? Jarang sih ada yang teleponan sampai ngakak. Mereka salalu memojok di sudut stasiun. Mepet tembok. Menjauhi kerumunan. Ngobrol bisik-bisik. Alasannya: malu!

Jalanan selalu bersih. Tidak ada sampah meski tidak ada tong sampah, dan tentu saja tidak ada tulisan:“Yang Membuang Sampah Di sini Orang Gila.” Alasannya: malu!

Setelah makan di food court, harus dan wajib menggembalikan piring dengan nampannya ke tempat membeli makanan. Plus melap sampai bersih meja yang telah dipakai. Jadilah, tidak ada petugas kebersihan karena semua bertanggungjawab dengan makanan masing-masing. Bahkan kalau ada makanan tercecer di bawah meja, mereka akan memungut itu, dan dilap. Alasannya: malu!

Malu, malu, dan malu!

Ini yang jelas membuat saya malu-maluin.

Kok bisa kalau costplay saja semua ditransformasi. Pokoknya harus mirip banget sama karakternya. Tapi uhh, tempatnya berserakan sampah. Botol-botol kosong diletakkan semaunya. Bahkan tumpahannya pun yasudah, dibiarkan becek. Si anu, malah ngobrol teriak-teriak.

Ya mungkin itu dulu, saat saya datang. Bisa jadi sekarang sudah tertib. sudah bersih dan santun meski dengan kostum monster.

Jadi rasanya kalau ada yang bilang, ingin umroh, mesti kan sikap kaya udah umroh. Yang agamis. Latihan berbaju tertutup, berkata halus dan sopan. Banyak-banyak mengucap shalawat.

Nah, ya sama, sebenarnya, jika kita ingin mendatangi suatu negara, atau menyukai negara tersebut, tak cuma bilang, “ingin ahh ke Jepang.” Tapi buang sampah aja masih seenaknya. Nyebrang jalan masih liar. Mainan klakson kaya jalan punya neneknya. Di jepang, saya jarang sekali mendengar klakson.

Mereka, diajarkan sedari kecil untuk tidak mengganggu. Selalu menghormati pengguna jalan yang lain. Berharap dapat melayani meski pada orang asing. Berusaha membuat orang yang akan menggunakan meja bekas kita makan akan nyaman. Hingga agar penumpang kereta dapat tidur setelah lelah bekerja membuat mereka malu untuk melanggar budaya.

Iya, budaya. Bukan lagi peraturan. Karena ketika kebiasaan telah membudaya, maka tak perlu lagi ada peraturan.

Kan tidak ada peraturan daerah yang tertulis juga to kalau tidak boleh menyembelih sapi di Kudus? Tapi ya bertahan berabad-abad, tuh.

Maka tak harus menjadi warga negara orang dulu untuk mengaplikasikan kebaikan. Kita hanya harus dapat mengambil nilai positif dan menerapkannya sekarang. Berasal dari yang paling sederhana: diri sendiri.

Saat belanja sendirian di supermarket, ada nenek-nenek menabrak troli saya, karena memang saat itu pengunjung padat sekali. Cuma nyenggol sedikit, ga sampai berguling tuh troli, tapi si nenek bilang, “Gomennasai,” (maaf) sampai 2 kali. Sambil bungkuk sempurna, 2-3 detik. Membuat tubuh pendeknya makin pendek seperti rukuk tepat di depan saya.

Tubuh saya kaku. Raut wajahnya yang penuh penyesalan membuat saya malu. Ahh, betapa banyak yang harus saya pelajari dari negara ini.

*Violeta
5 Maret 2018

Minggu, 23 September 2018

Nginap di Bandara, Serem Ga Sih?

Waktu bilang mau nginap di Bandara, orang tua dan mertua khawatir kalau saya kenapa-kenapa. Bukan diculik juga sih.
Sampai minta saya pilih kursi yang paling nyaman, selonjoran dan lain sebagainya.
Ya dikira waiting room-nya mirip di poliklinik puskesmas yang kalau malam sepi, senyap, remang-remang dengan bangku kayu saling menatap kekosongan.
Pas cerita kalau Bandara Kuala Lumpur itu seperti Paragon Mall di Semarang, mereka malah ketawa. Padahal jane yo lebih bagus ini. Karena lantainya berkarpet.
Sebenarnya juga, saya benar-benar ngemper dan tidur. Ya ga lelap-lelap amat karena harus jaga barang-barang. Kecuali kalo rame-rame lho ya, bisa gantian melek. Nah ini seringnya sendirian.
Kalau emang udah ngantuk banget, saya harus tidur. Posisinya, macam di foto itu. Barang-barang mepet badan. Kalau perlu ditindih. Jadi kalau ada yang usil bisa kerasa.
Udah kebiasaan bisa tidur di mana aja kalau saya. Angkot, bawah meja atau toilet. Haha.
Kadang juga tidur di kursi yang berjajar. Tapi kursinya udah pada diganti bergelombang, euy. Ga bisa buat bobok lurus badan. Encok yang ada.
Jadi tiap jalan ke sana kemari, sambil lirik-lirik sebelah mana colokan, papan pengumuman, toilet, posisi cozy buat bobok cantik dan jauh dari orang-orang yang sekiranya membahayakan.
Bukan shu'uzon lho ya ini. Tapi jaga diri.
Kenapa ga nginep di hotel? Padahal jarak penerbangan 12 jam.
Check in jam 4 pagi mamen. Ngapain subuh-subuh saya harus membelah hutan kelapa sawit.
Ada hotel juga di lantai 2A. Juga ada hotel kapsul di basement. Tapi jelas ada harga dong. Untuk kaum irit tur pelit macam saya. Yang begini juga sudah membahagiakan.
Jangan dikira lho mereka yang bisa keluar negeri itu punya uang banyak. Duh Gusti, padahal mau beli makan aja mikir 10 kali. Uangnya cukup ga ya. Worth it sama makanannya ga ya. Di depan papan menu doang rasanya saya udah mau pingsan.
Tapi sebenarnya ngemper di bandara ga buruk-buruk amat. Ga seseram yang mereka kira.
Di samping saya itu Movie Lounge. Film yang diputer 24 jam nonstop di 2 layar TV super lebar. Tapi ya gitu, ga bisa request. Pas malam ini kok ya filmnya ga bagus-bagus amat.
Dulu pernah nonton di situ film Beauty and The Beast, Transformer dan entah judulnya apa, tapi bagus. Kalau filmnya bagus, penontonnya rame.
Image may contain: indoor
Sering ya, kita menganggap hal-hal aneh itu tidak layak dilakukan. Tidak pantas. Hingga mudah bilang kalau mereka-mereka yang hobinya jalan-jalan tapi pilih maskapai murah dan menggelandang di bandara menjadi sebuah kesalahan.
Sering lho saya baca dan dengar kalau maskapai yang saya tumpangi ini tidak layak terbang. Apalah. Apalah.
Sampai ada yang bilang, "Naiknya kok itu sih? Yang lain aja lah!"
"Kok tidur di bandara, sih. Kalo ga punya uang ya ga usah jalan-jalan dong!"
Hmm.. Begini, Arief Rahman menulis di halaman 116 dalam buku Creator.inc, "Jika kita tarik kasus ini pada bisnis-bisnis besar sekalipun, kita akan menemukan satu pola yang sama bahwa kecepatan, kualitas dan biaya adalah tiga fitur yang saling 'kanibal' (Bab Impossible Triangle).
Harga tiket maskapai penerbangan Garuda dibanderol dengan harga mahal, tetapi kita mendapatkan layanan terbaik, jarang mengalami delay, dan penumpang dimanjakan.
Sementara maskapai penerbangan low cost seperti Air Asia membanderol tiket mereka dengan murah dan layanan yang biasa-biasa saja.
Namun, kedua maskapai ini memiliki konsumennya sendiri dan menjadi pemimpin pasar di kelasnya masing-masing.
Untuk itulah saya menyarankan, buatlah karya yang fokus pada satu atau dua fitur produk saja, pilih antara kualitas, kecepatan, atau biaya."
Ga asing dengan itu, kan ya?
Agung hapsah juga sering bilang kalau dia membuat video youtube dengan kualitas paripurna. Dari proses membuat skrip, pengambilan gambar, sampai editing. Konsekuensinya: lama
Ada juga mereka-mereka yang menulis mengikuti arus berita. Lagi hits itu, nulis itu juga. Lagi hits ini, bahas ini. Sering muncul. Karyanya banyak. Di mana-mana.
Nah, kuantitas, atau kualitas. Balik ke masing-masing ya. Untuk produsen, pun konsumen.
Ada yang bagus dari kata-kata Bruce Lee, "Saya tidak pernah takut menghadapi seseorang yang memiliki seribu jurus, tetapi yang saya takuti adalah seseorang dengan satu jurus yang dilatih sebanyak seribu kali."
Ini sebenarnya menampar saya sih. Yang masih sering goyah. Gonta ganti tujuan, mimpi, yang paling fatal, emosi.
Ya, pilih nginap di bandara karena menurut saya ini lebih efektif dan efisien. Tapi untuk mereka yang pilih hotel atau penginapan layak bukan jadi masalah juga, pastinya.
Pilih Garuda monggo, Air Asia ya silakan. Setiap orang punya alasan yang tak harus diketahui banyak orang, lho. Hormati, ya.
Lagian tidak semua dinilai hanya dengan hitam dan putih, kok. Kita bisa berada di tengah-tengah. Tak harus membenci untuk berhenti mencintai, kan? Tak perlu menjatuhkan untuk menunjukkan kelemahan musuh.
"Kau harus membakar diri dalam apimu sendiri. Bagaimana mungkin engkau bisa menjadi baru jika engkau tidak pernah menjadi abu terlebih dahulu." - Friedrich Nietzsche.
Semacam bobok kaya gini. Beralas karpet, berselimut jaket, dengan mereka yang lelah tapi penuh semangat mencari kebahagiaan sejati. Perjalanan. Untuk hidup dan menghidupkan.
'Everyone can fly', dude. Setiap orang berhak menikmati setiap perjalanan hidupnya. Entah yang benar-benar hidup di jalan. Dan tak ada yang hina dengan itu.
Kebahagiaanmu biarkan kamu sendiri yang menentukan. Bukan seberapa berat masalah yang sedang terjadi, bukan pula dari nilai yang mereka sematkan padamu.
Saya tidur di Bandara, dan saya bahagia. Itu saja.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia. 02.44 am.

Rabu, 19 September 2018

Drama di Bandara Chitose Hokkaido

Lupa itu manusiawi, kan, ya? Tapi kalau lupa tingkat akut itu bikin puyeng kepala juga. Nah, ini yang membuat saya dagdigdugder!!

Hari ini sudah perfect banget. Bangun jam 4.30 pagi, siap-siap, nunggu bis di halte. Duduk manis di bis. Sampai Bandara 1 jam lebih cepat dari perkiraan. Paripurna!

Hingga check in, pamitan dengan suami, masuk pemindai x-ray, mulus di imigrasi, hingga ngobrol dengan warga Malaysia di depan gate 65.

Setelah diperbolehkan masuk pesawat, saya duduk di kursi sesuai yang tertera di boarding pass. 1 detik, 5 detik, 10 detik, kok dingin ya? Eh, iya loh dingin banget! Lihat badan, lahh!! Jaketnya mana?

Panik, saya langsung telpon suami.

Kata mamas, coba tanya pramugari. Kata pramugarI, tanya petugas di luar pesawat. Kata petugas di luar pesawat, saya dilarang meninggalkan pesawat. Benar-benar dihadang di garbatara.

Gemetarlah badan, gila ini, bisa-bisanya jaket ketinggalan. Diingat-ingat, diingat-ingat, baru ingat kalau ketinggalan di baki saat pemindaian x-ray di pintu paling luar. Iya, pintu terluar sebelum imgrasi. Duh, Vio!!!

Petugas menelpon bagian pintu luar, dan meminta saya masuk ke dalam pesawat lagi, katanya jaket akan diantar.

Wah, kalau sampai nggak ketemu, bisa beku saya di dalem pesawat sedingin itu selama 8 jam perjalanan!

Tapi alhamdulillah, beberapa menit kemudian, pramugari datang memberikan jaket saya. Fiiuuhh!!

Sebenarnya ini bukan kali pertama.

Dulu saat di Bali juga, HP saya tertinggal saat di-charge di waiting room bandara. Sadarnya saat sudah di landasan pacu. Nyaris masuk pesawat. Akhirnya, mamas suami yang lari-lari balik ke dalam. Padahal jaraknya jauh lho itu. Kasihan.

Jan, kebangetan ini.

Kadang saat lupa, saya merasa sedang kehilangan setengah kesadaran. Melek tapi tidak sepenuhnya melek. Bangun tapi tak benar-benar bangun. Jadi masalahnya, kecenderungan untuk memisahkan apa yang harus diingat dan dilakukan itu nggak sinkron.

Ini benar-benar menampar saya.

Dulu, saat ada seseorang menyakiti hati, saya berusaha sekuat tenaga untuk melupakan. Tapi nyatanya? Semakin berusaha, semakin saya mengingatnya lekat-lekat. Seperti benalu yang justru melekat erat.

Tidak sehat, tentu saja.

Seorang sahabat pernah mengambil seseorang yang saya suka. Saya lupakan rasa itu, kenangan itu, tapi meski telah bertahun-tahun, saya sanggup mengingat detailnya. Bahkan percakapan ketika pengkhiatan itu dia katakan sebagai pelampiasan karena saya bukan teman yang baik.

Oh, baiklah, bukankah kita harus berdamai dengan masa lalu?

Meski nyeri itu telah lama sirna, tapi pengalaman tetap menjadi pengalaman.

Yang ingin saya bagi di sini, sebenarnya kita bisa memilih untuk fokus pada hal-hal yang memang membantu kita untuk maju. Tak perlu setengah mati berusaha melupakan mantan, oh, sungguh tak perlu. Karena sebenarnya, dengan teralihkan dengan hal lain pun, kita bisa meninggalkannya tanpa menyakiti siapapun.

Saya melupakan jaket dan hp itu karena fokus pada sidak di gerbang imigrasi, perjalanan pesawat yang panjang dan hal-hal menyenangkan setelahnya.

Jadi ya biarkan mereka pergi dengan tenang. Biarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Biarkan waktu menghormati segala apa yang terjadi hingga kemudian kita tak lagi menyadari, ketidakhadirannya, menjadi sangat biasa, dan kita baik-baik saja.

Mengingat kenangan juga sebenarnya tak seburuk yang kalian kira. Saya tetap dan akan mengingatnya. Bahkan tatapan mata dan hentakannya di jantung.

Karena bagi saya, sepahit apapun masa lalu, mereka yang telah membangun saya hingga mampu berdiri seperti sekarang.

Mereka bisa tertawa saat itu. Tak apa. Tapi sekarang, saya lebih bahagia dengan tahu, siapa yang benar-benar bisa dijadikan teman setia dan pasangan yang penuh cinta. Tanpa balas dendam dan amarah yang sia-sia.

Percayalah, sesakit apapun itu, esok lusa, ia akan menjadi alasan untuk bangkit dan berjuang lagi.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Septemeber 2018

Minggu, 16 September 2018

Yang Tak Bisa Ditemui di Jepang

Banyak yang nyeletuk, kalau tinggal di negara sakura itu enak, bagus dan tentu saja, jadi primadona wisata dunia. Padahal tak begitu-begitu juga.
Simposium “Sharing Gender Issues in Asia” di Jepang, 27 September 2014, Pande Made Kutanegara, M.Si., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM memaparkan tentang kehidupan Indonesia yang membuat peserta dan para ahli dunia tercengang.
Apa yang beliau jelaskan? "Tradisi rewang."
Tapi ternyata mereka sangat penasaran dan menjadi bahan diskusi tak terelakkan.
Di Jepang, semua serba instant, praktis dan minimalis. Alat-alat diciptakan. Tak hanya robot yang standby di tiap rumah sakit dan mall, tetapi juga peralatan yang sangat membantu pekerjaan rumah tangga. Lucu dan aneh-aneh.
Orang-orang di sana, lebih memilih mandiri. Melakukan apapun sendiri. Bahkan kata mas suami, mereka itu sungkan minta tolong. Kalau memang terpaksanya tidak bisa dilakukan sendiri ya memanggil ahlinya. Memperbaiki pipa bocor, gas kompor mati, atau kehabisan garam. Tidak akan ketuk-ketuk rumah tetangga.
Malahan, bila ada yang berisik, akan mengadu ke polisi. Jadilah pak polisi yang datang, menggedor pintu dan bilang, "tolong, jangan berisik, tetangga anda terganggu."
Malu! Masuk sensus pula. 'Mr.Bruno beralamat di Jalan Mars mengganggu ketenangan warga.' Padahal bisa jadi beliau sedang menangis histeris karena berduka sampai memukul-mukul meja.
Nah, tradisi rewang yang diusung Pak Pande jelas membuat orang Jepang melek.
Beliau bercerita, "Budaya rewang merupakan salah satu bentuk keterlibatan sosial. Sebagai bentuk bantuan, mereka bisa menyumbang tenaga, barang, bahkan uang.
*Yang Tak Bisa Ditemui di Jepang
Saat di Jepang kemarin, banyak yang nyeletuk, kalau tinggal di negara sakura itu enak, bagus, dan tentu saja, jadi primadona wisata dunia. Padahal tak begitu-begitu juga.
Simposium “Sharing Gender Issues in Asia” di Jepang, 27 September 2014, Pande Made Kutanegara, M.Si., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM memaparkan tentang kehidupan Indonesia yang membuat peserta dan para ahli dunia tercengang.
Apa yang beliau jelaskan? "Tradisi rewang."
Menggelikan, bagi kita. Masa yang begituan dibawa ke meja international.
Tapi ternyata mereka sangat penasaran dan menjadi bahan diskusi tak terelakkan.
Di Jepang, semua serba instant, praktis dan minimalis. Alat-alat diciptakan. Tak hanya robot yang standby di tiap rumah sakit dan mall, tetapi juga peralatan yang sangat membantu pekerjaan rumah tangga. Lucu dan aneh-aneh.
Orang-orang di sana, lebih memilih mandiri. Melakukan apapun sendiri. Bahkan kata mas suami, mereka itu sungkan minta tolong. Kalau memang terpaksanya tidak bisa dilakukan sendiri ya memanggil ahlinya. Memperbaiki pipa bocor, gas kompor mati, atau kehabisan garam. Tidak akan ketuk-ketuk rumah tetangga.
Malahan, bila ada yang berisik, akan mengadu ke polisi. Jadilah pak polisi yang datang, menggedor pintu dan bilang, "tolong, jangan berisik, tetangga anda terganggu."
Malu! Masuk sensus pula. 'Mr.Bruno beralamat di Jalan Mars mengganggu ketenangan warga.' Padahal bisa jadi beliau sedang menangis histeris karena berduka sampai memukul-mukul meja.
Nah, tradisi rewang yang diusung Pak Pande jelas membuat orang Jepang melek.
Beliau bercerita, "Budaya rewang merupakan salah satu bentuk keterlibatan sosial. Sebagai bentuk bantuan, mereka bisa menyumbang tenaga, barang, bahkan uang.
Upaya saling tolong-menolong ini begitu kentara, dan menjadi salah satu kegiatan sosial yang sangat penting di pedesaan. Sepanjang upacara lingkaran hidup manusia mulai dari kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian, para tetangga, kerabat, dan teman akan datang membantu."
Kemarin, ngunduh mantu pernikahan Mas Erhash, saudara sepupu suami, yang juga kakak kelas kuliah, di desa Undaan Kidul, Kudus, membuat mata saya basah.
Image may contain: 1 person, sitting
Bulat matahari belum sempurna. Langit masih semburat jingga. Tapi di satu tempat, di bawah tenda yang baru sehari berdiri, ibu-ibu dari berbagai usia berkumpul jadi satu. Tak hanya pemudi macam saya, nenek-nenek sepuh dengan kebaya sederhana pun tak kalah ambil bagian, menjadi perewang.
Tak ada aturan tertulis, tapi mereka paham tupoksi masing-masing. Berbagi tanggung jawab di kompor, menghaluskan bumbu, mencincang sayur mayur, membuat lauk, mencuci piring, bahkan bagian menata berkat.
Semua sibuk. Fokus. Cepat, das des. Tanpa disuruh. Tanpa dipaksa. Dan tanpa bentakan, tentu saja. Aura seketika berubah menjadi ajang lihat sekeliling, apa yang bisa dilakukan, ndang dikerjakan.
Gurau membahana, canda menggelegar, menertawakan berkat yang numplek. Menggoda si itu yang duduknya lucu. Tapi tangan tak berhenti bergerak.
Istirahat serempak saat menunggu nasi selesai ditanak. Tapi tak ada yang beranjak. Justru perewangnya bertambah. Saya hitung. Semakin banyak.
Saya terharu, tentu. Yang begini sulit ditemui di Semarang, apalagi Jepang. Bukan. Bukan karena egosentris dan individualis yang semakin mengikis.
Di Semarang, yang rumahnya saling mepet, tidak ada tanah kosong yang cukup pas untuk membuat tungku kompor kayu, menggelar tikar, berkumpul 30an orang dalam satu waktu. Apalagi di pagi hari begitu, semua orang sibuk bersiap ke kantor buru-buru.
Mereka memilih jasa catering dan event organizer karena lebih efektif dan efisien. Tempat gawe bersih, tidak lelah dan tentu saja, tidak merepotkan tetangga.
Di Jepang, kalian akan menemukan shinkansen, kereta bawah tanah yang aerodynamic, TV raksasa di dinding luar gedung bertingkat yang waterproof, WC yang bisa bernyanyi, tapi coba tanyakan pada mereka, kenalkah pada tetangga samping kanan kiri?
Pahamkah silsilah keluarga tetangga itu? Apakah ada tradisi membantu jika tetangga samping sedang menghelat hajat? Atau minimal, membenarkan kabel TV tetangga yang konslet?
Modernitas akan terus bergerak, tak dapat dicegah. Tapi semoga, di saat nanti robot-robot menguasai pasar, Indonesia tak kehilangan jati diri. Begitu yang kemudian diusung Pak Pande di simposium, saya setuju. Sangat.
Menjaga ruh tetap menjadi tradisi. Membudaya, mengakar ke pondasi paling bawah. Bahwa hidup bermasyarakat tak sekedar berbasa-basi, tapi juga turut andil berpartisipasi.
Tradisi rewang ini membuat saya takjub sekaligus rindu. Kearifan lokal, guyup, rukun, dan nasihat memesona dari para sesepuh. Untuk selalu datang membantu. Meski hanya duduk ikut ngelucu. Tapi kalau tidak datang, malu.
Di antara ibu-ibu ini, saya menemukan rasa syukur yang meruah. Jauh dari ingar polusi politik yang saling olok. Sampah hedonisme dampak pergerakan saham dan limbah teknologi karena android melimpah.
Kita, boleh saja kagum pada negara lain yang lebih maju. Tapi yakinlah, Indonesia tak kalah bermutu.
Kita, bisa saja terpukau dengan canggihnya kota. Tapi yakinlah, tak kurang kebahagiaan mereka yang menetap di desa.
"Sebagai fana, kita tak pernah tahu berapa banyak lagi waktu tersisa untuk bersama. Jadi mari jalin segalanya sebaik dan seindah yang kita bisa." - Helvi Tiana Rosa, penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi.
*Violeta
Undaan Kidul, Kabupaten Kudus. Jateng.
Selamat berbahagia untuk Mas Erhash Haqiqi Zulfikar dan istri. Langgeng hingga akhir hayat. Terima kasih atas kesempatan dan ilmunya. Sungkem.
Lain kali harus ikut ngirisin tahu juga mas Arsyad Syauqi. Heuheuu..

Kemalingan di Jepang

Tadinya saya percaya, Jepang itu negara teraman di dunia. Tadinya...
Saya jadi malas ngunci sepeda, taruh barang sembarangan, ninggalin tas di meja food court dsb. Pokoknya, suka-suka aja.
Pernah ada cerita dari orang Indonesia yang kehilangan sepeda. Bertahun-tahun tak ada kabar dari kepolisian, yasudahlah ya, dia pulang ke Indonesia karena study sudah selesai.
5 tahun kemudian, saat kembali lagi ke Jepang, dapat laporan kalau sepedanya ketemu. Bener lho, masih utuh. Dikembalikan. Si empunya barang malah bingung, lupa. Saking lamanya.
Karena ada nomer polisi. Macam plat nomer motor atau mobil di Indonesia. Wajib tempel di sepeda. Saat beli, sekalian daftar diri, dengan ktp Jepang. Jadi ya ga sembarang orang bisa beli sepeda.
Okelah, itu sesuatu yang memang barang pasif, besar dan kelihatan mata. Lha kalau kasus saya gimana?
Beberapa hari lalu, belanja di Tanoki Koji. Seperti Malioboro-nya Sapporo. Pertokoan berjajar sepanjang kanan kiri. Bentuknya memanjang sampai 7 blok. Semua orang jalan kaki. Sepeda harus dituntun.
Sepeda di parkir depan toko. Saya belanja kacang panjang dan kawan-kawannya. Setengah jam kira-kira. Pas balik ke parkiran, bengong, kaget, degdegan.

Image may contain: 2 people, people walking and outdoor

Bukan, bukan sepeda yang hilang. Si putih masih nangkring di sana. Tapi ada yang aneh. Saya elus-elus. Khawatir salah. Etapi bener kok. Sadelnya bunga-bunga. Kode gembok juga sama.
Sebelumnya, di keranjang sepeda ada 2 bungkusan. Kresek kuning isinya 2 chocobi dan 1 ikat pisang. Kresek putih cuma berisi jeruk, snack sevel dan milktea. Terikat kencang di stang.
Lah, sekarang, cuma ada 1 bungkusan. Duh. Saya celingukan. Berharap nangkep seseorang yang ketahuan makan chocobi atau pisang milik saya?
Tapi ga ada. Semua orang sibuk jalan ke sana kemari. Rame karena sudah sore. Banyak turis. Banyak anak-anak. Lagian ya apa bedanya punya saya dengan yang lain? Kan ga ada nama pemilik.
Mendadak sedih. Lemas. Itu snack impian dari kecil. Baru hari ini ketemu barangnya. Karena memang ga dijual di sembarang tempat. Susah nyarinya. Sekalinya ketemu. Malah hilang.
Tau chocobi? Jajanan kesukaan Shin-chan. Sering muncul di serial Crayon Shin-chan. Bahkan di bungkus kardusnya ada gambar kepala Shin-chan dan buaya ijo lagi mringis.
Saya mengemas belanjaan. Menuntun sepeda menembus keramaian. Lalu mengayuh perlahan. Sambil ngawang-ngawang.
Lapor? Masa makanan dilaporin? Trus nanti pak polisinya bakalan bilang, "Mbak, chocobi-nya ketemu. Kardusnya utuh. Tapi kosong. Karena ditemuin di tong sampah." Hhe. Wagu.
Mau beli lagi, jauh, harus jalan kaki 2 blok, dorong sepeda pula. Lagian sudah terlanjur patah hati. Kapan-kapan saja ke sana lagi. Kalau hatinya selesai diobati. Kan move on juga butuh waktu.
Sebenarnya bukan salah yang ngambil, mungkin dia lapar. Salah saya yang teledor. Karena merasa aman, yakin ga akan pindah tangan.
Mungkin begitu kalau kita sudah merasa nyaman dengan seseorang, sesuatu, jabatan, harta, apapun itu. Karena terlalu merasa aman, tingkat pengamanan melonggar. Kalau sudah kecolongan. Baru sadar.
Kita yang sudah nyaman dan berangan-angan. Berlanjut ke pelaminan. Menghabiskan masa tua bersama. Ternyata hanya dianggap sebatas teman. Selingan. Hiburan dikala dia bosan dengan pekerjaan.
Kita yang sudah merasa mapan. Malas bermimpi apa-apa. Bahagia mempermainkan juniornya. Belanja apapun yang disuka. Hingga lupa, gaji dan posisi hanya tentang waktu saja. Suatu saat berganti. Kembali ke nol lagi.
Paling menakutkan, ahh, tamparan untuk saya sendiri kalau ini.
Yang sering merasa aman dari murka Allah. Lalu santai berbicara semaunya. Tak sadar menyakiti-Nya lewat kata, perbuatan dan prasangka. Hingga lupa, tanpa Sang Pemilik Raga, saya bukan apa-apa.
Sering lalai tapi masih santai. Alasan nanti-nanti padahal kan mati tak tunggu tapi. Apalagi soal hati, yang sering goyah. Kering. Sampai jadi aking. Baru sadar, kalau ternyata kenyamanan memang diperlukan, tapi kalau keterlaluan, uhh.. bisa melenakan.
Nyaman sih, bahagia sih, tapi kok ga dilamar-lamar. Jangan-jangan kitanya nyaman, dianya enggak? Duh Gusti... Paringono ati sing jembar...
Seaman dan senyaman apapun itu, harus tetap dijaga, dirawat, diperhatikan, dibaiki dan disayangi. Nanti nyeseknya kalau sudah diambil orang.
Semacam cinta yang harus tetap dibina. Meski sudah menikah. Punya anak dua. Bukan bersama hanya karena tuntutan tanggung jawab berkeluarga. Tapi juga rasa tak mau kehilangan. Saling membutuhkan.
Yang namanya hubungan, pasti ada sedih, marah, masalah. Ga bisa bahagia terus. Kalau ada, berarti boneka. Ga punya hati dan naluri dasar manusia. Insan perasa.
Tapi kalau sudah cinta, tetap nyaman bagaimanapun kondisinya, kan?
Dan, untuk siapapun yang memakan Chocobi dan pisang itu, semoga sehat, bugar, nyaman, aman, dilindungi Allah dan diberkahi cinta yang memesona.
*Marintha Violeta
Sapporo, 2 Agustus 2018, 22.29

Jumat, 14 September 2018

Kimi no Na Wa dan Kau yang Menemukanku


“Takut nggak sih waktu ngucap akad?” Saya penasaran. 

Saat prosesi itu berlangsung, saya dipingit dalam mobil berjarak 200 meter dari gedung acara. Jangankan lihat wajah gugup, suaranya saja hilang timbul dari sound yang kemresek. 

Bergema, "Alhamdulillah." 


Mobil baru mendekati gedung, dan kami diizinkan bertemu. Dalam keadaan gemetar dan keringat dingin.

“Enggak,” jawabnya santai sambil menggelus puncak kepala saya.

“Kenapa?” 

Gerakan tangannya berhenti. “Lebih takut pas lari-lari waktu transit di Bandara Tokyo. Gara-gara pesawat dari Sapporo delay. Itu rasanya nggak karuan. Pengen nangis. Pengen teriak. Kalau beneran ketinggalan… nggak kebayang.” 

Bibirnya terkulum. Saya usap pipinya.

Si mamas memang baru menginjak tanah Indonesia 20 jam sebelum akad nikah itu dilangsungkan. Perjalanan pesawat memang selalu menegangkan. Jangankan delay, rumor rudal Korut saja sudah bikin jantungan.

Setelah sampai di bandara Semarang, saya langsung menyeretnya ke salon untuk fitting baju lalu ke rumah bertemu orang tua. Itu pun hanya makan siang. Karena harus bertolak ke Kudus, rumahnya.

Jadi ya begitu, orang tua saya baru tahu benar wajah calon menantunya, 15 jam sebelum prosesi pernikahan. Lucu memang. Kami bahkan tak berhenti geleng-geleng. Kok bisa ya.

Dulu, saat di Saudi, yang sedang galaunya bakalan nikah sama siapa, kapan, dan di mana, film Kimi no Na Wa (Your Name) berhasil membuat saya menangis semalaman.

Kisah Taki dan Mitsuha yang tulus meski tak pernah bertemu ini mematahkan stereotip indahnya cinta dan mendebarkannya proses pertunangan.

Menikah dengan suami yang sekarang? Ya jelas tidak ada gambaran. Meski sudah saling kenal, kita pernah bertahun lost contact. Tak ada kabar. Saya kerja di mana, dia di mana. Beda pulau, hingga benua.

Tak ada keinginan untuk mencarinya. Buat apa. Toh juga sudah lupa. Lagi pula kita tak pernah menjadi siapa-siapa.

Tapi anehnya, setiap ada lelaki datang, saya akan katakan, “Lagi nunggu seseorang." Kadang polos sebut nama mamas agar mereka tak semakin memburu. Padahal entah dia sedang dengan siapa.

Persis seperti Mitsuha yang kebingungan, “Aku merasa, sedang mencari sesuatu. Mencari seseorang. Mencari. Tapi siapa? Siapa? SIAPA???”

Dan Taki, bermodal lukisan tangannya, menyatukan paradox satu persatu. Padahal jelas Mitsuha hanya masa lalu. Mimpi yang tak pernah mewujud nyata. Hanya klise dan permainan logika. 

Tapi toh ia tetap mencari. Meski bertahun-tahun, tak peduli.

Bukankah hidup ini hanya tentang kataware-doki?
Tentang kesempatan yang tak pernah menghampiri dua kali?
Tentang cinta yang atas kuasaNya datang dan pergi?

Surealis dan estetis Kimi no Na Wa selalu mengahabiskan air mata (termasuk waktu nulis ini) meski sudah nonton puluhan kali. Dentaman laranya berhasil membuka duka, mengobati luka. Membuat saya yakin, ada seseorang yang sedang berlari dan berjuang datang. Membawa senampan masa depan. 

Kemarin, tepat 6 bulan pernikahan kami. Alay sih, tapi rasanya, yasudah, toh selama ini kita tak pernah merayakan apapun. Tak ada tunangan, prewedding, apalagi ucapan ulang tahun lengkap dengan kue tart dan pelukan. Tak ada.

Saat jalan-jalan di Susukino, saya menemukan poster ini di salah satu toko. Rasanya ingin menangis dalam pelukan Mitsuha. 




Mitsuha, terima kasih atas kekuatanmu untuk menunggu. Terima kasih untuk kedalamanmu percaya. Terima kasih atas ketulusan harapan itu. Bahwa cinta, akan datang, meski kau lupa namanya.

Karena Mitsuha-lah, saya yakin dengan lelaki yang berdiri di samping ini. Dialah Taki-ku. Ya, Taki-ku. Yang berada di Jepang, selepas shalat ashar, telepon ke Spanyol hanya untuk bertanya, “Kalau kita nikah sebulan lagi gimana?”

Mungkin kalian pernah merasakannya. Berharap kepastian datang hari ini. Menanti sang pembawa kunci hati. Menunggu dia yang entah siapa.

Tapi percayalah, dia sedang berjuang, apapun caranya. Untuk menemuimu. Bisa jadi tidak hari ini. Tidak bulan ini. Tidak tahun ini. Tapi yakinlah, dia akan datang. Menjemputmu. Suatu waktu.

Film karya Makoto Shinkai ini juga termasuk:
- film animasi tradisional dengan pendapatan kotor ketujuh terbesar di dunia,
- film anime dengan pendapatan kotor terbesar sepanjang waktu di seluruh dunia, dengan total pendapatan mencapai US$355 juta per 30 Juli 2017.
- Menjuarai Festival Film Sitges ke-49, Los Angeles Film Critics Association Awards tahun 2016, 
- Film animasi terbaik di Mainichi Film Awards ke-71,
- Animasi terbaik dalam Japan Academy Prize ke-40 Tahun 2017.

“...Kita adalah penerbang waktu. Kita adalah pendaki waktu. Tak ingin tersesat dalam permainan petak umpet ini. Aku tak akan melepaskanmu. Tak akan pernah melupakan ini. Tanganku akhirnya menyusulmu…” - soundtrack penutup film Kimi no Na Wa berjudul Nandemonaiya.

*Violeta
25 Maret 2018

Jangan Jadi Mahasiswa Luar Negeri!

Hokkaido University masih adem seperti biasa. Jumat yang dududu. Jadi begini, pagi ini Hokkaido sudah terjadi gempa 2 kali. Ini yang terasa goyangannya. Selebihnya ya ada, tapi karena intensitas kecil, seperti angin saja.

Saya dan mamas memilih untuk keluar. Nangkring di Seico-mart kampus. Ya, miriplah seperti Indomart di Indonesia tapi ada tempat duduk-duduk di lantai atas.

Lantai satu untuk jual beli. Lantai dua untuk kafe santai penuh meja dan kursi. Ada ruang dalam yang ber-AC, lengkap dengan mesin fotocopy, sampai yang dicari setelah wifi para pecinta gawai. Yes! Colokan.

Nah, di bagian luar dibuat terbuka, dengan payung dan kursi santai. Pemandangan juga lebih aduhai karena langsung menghadap julangan pinus dan pohon ginko yang berayun dibelai angin. Saya kok yakin di sana banyak bergelantung ulat.

Dari posisi saya duduk sekarang, nampaklah para mahasiswa yang lalu lalang dengan sepedanya. Memacu waktu untuk sampai ke lab. Berkutat dengan diktat. Atau, berpikir bagaimana cara terbaik bertahan hidup dikala uang beasiswa entah kapan turunnya.

Ya. Sebenarnya, menjadi mahasiswa di Indonesia atau di Jepang, sama saja. Ada tumpukan tugas, dosen yang tegas hingga kerinduan dengan pecel lele dan tahu petis.

Lucu jika saya membaca beberapa komentar orang-orang yang kemudian karena merasa sempurna tapi penuh luka itu mencibir para tualang akademika ini dengan mengatakan, "Pulang aja, di Indonesia kan lebih aman, nyaman, deket keluarga. Ngapain sih jauh-jauh ke sana."

Saya memang bukan ahli, apalagi salah satu mahasiswa di sini. Tapi untuk tahu bagaimana perjuangan mereka hingga bisa duduk di kursi kelas, pasti tidaklah mudah.

Hidup itu seperti amplop yang dikirim Tuhan ke sebuah tujuan. Bisa jadi kita belum sampai ke tujuan itu. Belum. Kita masih melewati beberapa pos.

Proses kehidupan adalah tentang sebuah perjalanan. Dari satu pos ke pos yang lain. Tak serta merta terjadi dan selesai dalam satu kedipan mata. No, Dear.

Tapi keteguhan hati, kebekuan tekad dan pantang menyerah membuat kita bisa melewatinya. 

Biar. Biarkan mereka dengan segala hipotesanya. Yakinkan saja, kakimu masih berayun sesuai irama untuk menjemput impian.

Ahh, seico-mart lantai 2 ini tak hanya tentang mereka yang duduk dan menyantap kudapan. Tetapi tentang kesempatan untuk meraih apa yang diinginkan. Ketenangan hati dan pendewasaan pikiran.

*Marintha Violeta
Sapporo, 14 September 2018

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...