Minggu, 21 Oktober 2018

Fail Again, Fail Better

Saya bukan penulis. Sungguh, tidak main-main. Saya hanya suka menulis. Titik. Tak ada pikiran untuk menjadi penulis terkenal atau bahkan menjadikan hobi ini sebagai mata pencaharian.

Kadarnya sama dengan suka tidur, suka makan dan suka membaca tentu saja. Tak ada yang lebih tingi atau lebih rendah. Contohnya, ketika membaca sambil makan atau menulis lalu tertidur. Ketika terbangun, huallaa… sudah berada di halaman 30. Ternyata jari manis menekan tombol ‘enter’ - dalam tidur.

Dulu, mengira bahwa saya mengidap skizofrenia. Penyakit yang membuat berhalusinasi berada di pantai sepi berpasir merah. Benar, saya membayangkannya ketika marah. Tinggal menutup mata, dan berteleportasi dalam hitungan sepersekian detik.

Bisa juga tiba-tiba melamun dan membayangkan kisah menarik. Adegan itu berlompatan di kepala. Lalu berbicara pada diri sendiri. Membayangkan adegan ini begini dan begitu. Orang-orang menyebutnya “gila”. Tapi aneh, saya menikmatinya.

Menulis juga demikian. Saya menuangkan apapun ke atas berlembar-lembar kertas. Sekarang, mereka lebih suka menyebutnya ‘file’. Saya menulis apa saja dan di mana saja. Ketika terlintas, seketika buka note di hp dan mulai mengkerangkeng ide liar itu. Entah ketika di kelas, di pasar, bahkan di dalam toilet sekalipun. Ini membuat ide semakin menari heboh di dalam pikiran. Tak sabar dieksekusi dan dilahirkan menjadi tulisan utuh.

Saya selalu percaya, semua orang bisa menulis. Menulis mimpi dalam kertas angan. Terlahir menjadi tulisan atau tidak, tergantung dari orang tersebut ingin ‘mengandung’ ide atau tidak. Menjaga, merawat dan memberinya nutrisi agar saat lahir, berwajah rupawan. Tulisan yang menawan.

Membaca peluang apalagi, terlalu muluk-muluk bagi saya. Menulis saja, jalan hidup kita akan mengikuti bagaimana tulisan kita. Peluang akan banyak bertebaran di sana. Media masa pun media online yang semakin menggeliat perkembangannya. Akan ada banyak kesempatan. Tapi jika tulisan masih begitu-begitu saja. Kaku dan sulit dicerna, bagaimana bisa diterima? Menulis saja, perbaiki sambil jalan.

Pernah suatu waktu saya bertemu seseorang yang ingin sekali menjadi penulis terkenal. Saat saya tanya, apa ia suka membaca, ternyata tidak. Banyak orang yang ingin sukses tanpa mau tahu proses panjang yang harus dilalui. Tere Liye toh dulu tak setenar sekarang. Sebagai lulusan ekonomi, ia memulai kariernya menulis tentang pandangannya di dunia ekonomi. Berenang di kolam milik sendiri.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya telah mengirim beberapa artikel ke media cetak dan online. Beberapa berhasil ter-publish, selebihnya masuk tong sampah. Tapi saya tak mau berkecil hati. Kata Paul Arden, “fail, fail again, fail better.” Bagaimanapun, akan saya habiskan jatah gagal saya. Tidak sedikit yang meminta saya melahirkan sebuah buku. Bukan bahagia, saya justru tertekan. Imajinasi hilang.

Benar kata Paulo Coelho, di buku Like the Flowing River (hal 12), “don’t be influenced by what other people say. You are going to put a lot of energy and enthusiasm into achieving your objective, and you are the only person responsible for your choice, so be quite sure about what you are doing.

Memanfaatkan peluang perlu, tapi memperbaiki kualitas diri juga tak kalah pentingnya. Saya hanya harus terus belajar kapan saja dan dari mana saja. Hingga suatu saat nanti, ketika tulisan matang dan enak, pembaca tidak kecewa. Karena tentu saja, hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.

Perjalanan ini membuat saya untuk terus belajar, belajar dan belajar. Selalu membaca, membaca dan membaca. Hingga mampu menulis, menulis dan menulis. Lalu mengirim, mengirim dan mengirim. Hingga hobi ini tuntas, lepas dan menemukan muaranya.

Kamis, 18 Oktober 2018

Sisi Lain TKW yang Jarang Diketahui Orang!

Saat di Arab Saudi, saya bertemu dengan ibu paruh baya yang melarikan diri dari rumah majikan. Katanya, gaji tak pernah dibayar dan tak diberi makan berbulan-bulan. Dengan berbekal tas jinjing, beliau bercerita telah menghubungi polisi beberapa hari lalu, tapi tak ada tanggapan. Akhirnya berlindung di salah satu rumah orang indonesia di Jeddah.

Meski UU No 39/2004, Pasal 77 hingga Pasal 84 telah diatur mengenai kewajiban pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap TKW/TKI selama penempatannya di luar negeri, melalui perwakilannya di luar negeri dan perwakilan perusahaan swasta yang melaksanakan penempatan TKW/TKI di luar negeri. Tetap saja menjaga napas berlangsung sampai habis kontrak rasanya sesak. Sayangnya, jumlah pendaftar tiap tahun tergolong tinggi.

Pada tahun 2017, Pusat Penelitian Pengembangan dan Informasi oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau disingkat BNP2TKI mencatat ada 261.820 tenaga kerja indonesia tersebar di hampir 26 negara di dunia. Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapore dan Saudi Arabia menjadi negara terbanyak yang ditempati para ekspatriat.

Mengejutkannya, 70% adalah perempuan. Hal ini karena peluang keluar negeri masih sangat terbuka dibanding laki-laki yang hanya dapat mengisi sektor tertentu seperti teknisi dan kontruksi. Sedangkan perempuan mengisi puncak penempatan tenaga kerja tertinggi di sektor domestic worker (tenaga kerja rumah tangga) dengan jumlah 92.158 orang.

Tak ada yang dapat disalahkan. Toh para pejuang devisa ini meninggalkan keluarga dan tanah air dengan berbekal cita-cita luhur. Menyekolahkan anak, membangun rumah, membantu keluarga, dan Asisten Rumah Tangga (ART) lulusan SD yang saya temui di Jeddah mengaku terpaksa menjadi TKW lantaran utang yang ditinggalkan almarhum suami mencapai ratusan juta.

“Kalau kerja di Indonesia, sampai mati, saya nggak bisa bayar utang.”

Masalah ekonomi masih menjadi alasan utama, meski tak jarang banyak pula yang ingin melebarkan sayap untuk menabung berkuliah lagi. Maka langkah apapun ditempuh. Meski harus menjadi ART di negara orang, yang penting anak dapat lulus kuliah, hidup layak dan memiliki tabungan cukup untuk berbisnis saat pulang nanti.

Dear para perempuan yang telah bekerja di luar negeri, maupun yang ingin bekerja keluar negeri, terutama yang berada di area rumah, seperti asisten rumah tangga, perawat homecare dan care giver untuk lansia, tak perlu risau dengan berita penyiksaan, pelecehan seksual hingga pembunuhan. Sebenarnya, banyak dari mereka yang berprestasi dan sukses tapi tak diliput media.

Tempo Media Group, bulan Mei 2017 lalu memberikan penghargaan pada 8 TKI dan TKW yang berhasil memperbaiki nasib dan mengubah lingkungan, diberikan langsung oleh Kemnaker. Diantaranya, Dwi Tantri yang bekerja sebagai perawat lansia di Taiwan yang juga aktif memberikan advokasi pada TKI bermasalah di Taiwan.

Siti Mariam Ghozali, mantan TKW di Hong Kong dan Taiwan asal Wonosobo, Jawa Tengah. Saat menjadi TKW, aktif mengikuti kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Juga rajin menulis cerita pendek. Sekarang, selain menerbitkan banyak novel, di kampungnya ia mendirikan perpustakaan Istana Rumbia, yang dibuka secara gratis. Siti juga menjadi pengusaha makanan tiwul instan secara online. Pasarnya hingga luar negeri. 

Benar, menjadi pekerja luar negeri itu tidak mudah, tapi dari mereka, kita bisa belajar bahwa tak ada yang tak mungkin. Meski perempuan, TKW bukan hanya sapi perah negara untuk kepentingan penguatan devisa. Mereka telah menggoreskan sejarah, perekonomian keluarga yang sulit tak akan menghentikan langkah untuk berkarya dan meraih cita-cita.

Sisi kelam pasti ada, tantangan selalu di depan mata, berita miring di media dan buruknya citra tenaga kerja wanita di luar negeri terkadang membuat luruh jiwa. Tapi tenang saja, asal tak berhenti berdoa, memastikan dokumen lengkap dan berada di jalur legal, memahami hukum dan aturan negara tempat mengadu nasib, berhati-hati dalam bertindak dan bekerja, serta melapor segera jika terjadi hal-hal yang tak sesuai kontrak kerja. Kelak, tak hanya pulang membawa tabungan dan memuliakan keluarga, tapi juga kebanggaan untuk bangsa dan negara.

Seperti Ima Matul Maisaroh, mantan ART asal Malang yang sejak Desember 2015 lalu diangkat menjadi Anggota Dewan Penasihat Gedung Putih alias penasihat Presiden Barack Obama. Namanya kian berkibar setelah berpidato di depan puluhan ribu delegasi Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat AS, 26 Juli 2016.


Penulis : Marintha Violeta, mantan TKW Arab Saudi sebagai perawat homecare. Sekarang berada di Jepang, menikmati buku dan salju.

Jangan lakukan ini di Jepang!

1. Meneriaki Nama Orang di Tempat Keramaian

Sangat memalukan dan pamali sekali jika dilakukan. Saat ingin memanggil teman yang jaraknya jauh, kita terbiasa berteriak sekencang-kencangnya agar dia menoleh. Tapi jangan pernah lakukan ini di Jepang karena dianggap belagu dan tidak sopan. Berlarilah mendekatinya. Lalu katakan baik-baik apa yang kamu inginkan. Dengan begitu dia juga akan merespon balik dengan baik pula.


2. Menanyakan Status Pernikahan Pada Orang yang Baru Dikenal

Berbeda dengan di Indonesia di mana bertanya tentang keluarga dianggap sangan menarik dan membanggakan. Apalagi jika sudah punya anak yang lucu dan menggemaskan. Tapi tidak bila berbicara dengan orang Jepang. Jika berkenalan, jangan pernah bertanya apakah ia sudah menikah, punya anak berapa, suami atau istrinya di mana. Pertanyaan itu dianggap personal hingga sangat kurang ajar jika dibahas. Kecuali dia bercerita sendiri.

3. Membiarkan Dering Telepon Ketika Masuk Restoran

Makan adalah sesuatu yang sangat dihormati. Meski hanya sepotong sushi dan segelas teh hijau, mereka punya ritual khusus. Nah, begitu juga saat makan di restoran. Beberapa temat ada yang terang-terangan menulis larangan membunyikan dering telpon atau bahkan menelpon dan berbicara saat makan. Karena selain kehilangan kenikmatan makan, juga mengganggu pengunjung lain yang sedang menyantap hidangan. Bukannya nikmat, malah sebal kan dengan kita yang berisik dan tertawa ngakak.

4. Ga Bawa Tas Belanja Sendiri Saat ke Supermarket

Berita tentang kantong kresek yang diharuskan membeli di tanah air sempat menghebohkan ranah ibu-ibu rumah tangga yang pengeluaran bulanannya semakin melonjak. Padahal di Jepang sendiri, kantong kresek sudah dijual sejak lama ketika kita berbelanja.

Saat membayar di kasir, petugas akan tanya apakah kita butuh kantong kresek. Jika tidak, mereka tak akan memberikan karena menanggap kita sudah membawa tas belanja sendiri. Jika tidak membawa, mereka akan tanya butuh kresek berapa. Karena berarti kita membeli. Dan selanjutnya, kita akan memasukkan sendiri barang-barang ke tas belanja tanpa dibantu petugas kasir. Belajar mandiri, ya!

5. Sstt!! Berisik!

Nah, ini penting. Saat di manapun dan kapanpun, perhatikan dengan volume bicara kita. Meski bepergian dengan teman-teman, jangan sampai berlebihan saat mengobrol. Tidak tertawa dan berbicara terlalu keras. Intinya mah jangan berisik. Apalagi saat di kereta. Dilarang berbicara karena mengganggu mereka yang lelah seharian bekerja. Kan malu-maluin kalau mengganggu mereka yang ingin tidur di sepanjang jalan pulang. Jaga ketenangan ya, guys!

Pertama Kali ke Jepang? Wajib Tau Ini Agar Tak Bikin Malu

Jepang, masih menjadi magnet internasional yang tak dapat dielakkan. Majunya transportasi, keamanan, hingga keramahannya yang luar biasa. Lihat saja dari cara mereka meminta maaf dengan membungkukkan badan.

Nah, sebelum kalian datang ke Jepang. Perhatikan hal-hal ini dulu, ya. Kan malu kalau salah eh, yang dibawa nama Indonesia. Duh.

1. Berbaris Rapi Sebelum Masuk Kereta

Setelah turun dari pesawat, kita akan langsung menuju ke stasiun atau terminal. Praktisnya di Jepang, Bandara, terminal bis dan stasiun kereta berada di satu area. Jika kalian memutuskan untuk naik kereta, dan keretanya belum datang, berdirilah di tempat yang terdapat tanda garis di sisi kanan dan kiri pintu gerbang rel. Karena harus memberi jalan kepada penumpang yang turun terlebih dahulu.

Masuklah dengan rapi dan tenang. Tak perlu terburu-buru, karena jika penuh pun, akan ada kereta selanjutnya yang datang sesuai jadwal alias on time. Dan, duduklah di tempat yang sesuai, ya. Kursi khusus untuk penyandang disabilitas, ibu hamil dan orang tua dilarang untuk diduduki. Meski tak akan ada yang menghardik, kan malu-maluin.

2. Simpanlah Sampah di Dalam Tas

Di Jepang, sulit sekali menemukan tempat sampah. Sejak kecil, anak-anak sudah diajarkan untuk membawa pulang sampah ke rumah. Di rumah pun, sampah dibedakan dengan sampah kering, basah dan botol.

Jadi, jika kalian makan sesuatu dan tidak ada tong sampah di pinggir jalan, jangan sekali-kali buang di sembarang tempat. Biasakan untuk menyimpannya di tas dan membuang sesuai tempatnya. Jangan dilanggar meski tak ada orang yang memarahi. Kan malu dilihatin banyak orang, lha jelas ada tanda jenis sampahnya kok tetap dilanggar.

3. Jangan Menyeberang Jalan Ketika Lampu Merah Meski Tidak Ada Kendaraan Lewat

Kepatuhan warga Jepang terhadap lalu lintas memang patut diacungi jempol. Ini yang membuat angka kecelakaan menjadi minimal. Sadar hukum dan keselamatan di jalan raya sudah ditanamkan sejak usia TK. Termasuk saat menyeberang jalan.

Kita akan menemui lampu lalu lintas khusus pejalan kaki. Jika lampu berwarna merah meski tak ada yang lewat, tolong jangan langsung nyelonong saja. Tunggu hingga warna lampu berubah hijau. Pastikan juga menyeberang di tempat yang seharusnya, zebra cross atau jembatan penyeberangan. Meski memutar, atau jauh sekalipun. Selain memalukan, akan sangat membahayakan jika kita tiba-tiba memotong di tengah jalur.

4. Berdirilah di Sebelah Kiri Saat Naik Eskalator

Rapi dan tertib juga dijunjung oleh masyarakat Jepang. Tak hanya saat mengantri masuk ke kereta, tetapi juga saat naik tangga berjalan. Berdirilah di sebelah kiri eskalator jika ingin bergerak sesuai tangga. Karena di sebelah kanan adalah jalur untuk mereka yang terburu-buru.

Memberikan jalan pada mereka yang lebih membutuhkan jauh lebih baik daripada bertindak konyol dengan menghalagi meski tak akan ada yang memarahi. Mereka akan menunggu dan diam hingga kita menyingkir. Tapi kan sebal juga.

5. Jangan Memungut Barang Sembarangan

Keamanan atas tindak kriminal hampir nol atau hanya hitungan jari. Jadi jangan mencoreng itu hanya karena kita pendatang. Saat berjalan mungkin akan menemukan uang, hp, dompet atau tas yang bisa jadi jatuh atau tertinggal oleh pemiliknya. Jangan sekali-sekali mengambil dan disimpan jadi milik pribadi. Meski kita tak tau milik siapa. Berikanlah pada satpam, polisi atau kantor informasi di area tersebut. Pemiliknya akan datang dan mencari ke sana. Mengambil yang bukan haknya sangat memalukan dan tidak beradab.

Ketiduran di Bandara Luar Negeri! OH NO!!

Kamis ini tepat 1 minggu meninggalkan Indonesia. Setelah sekian kalinya, tentu saja. Haha. Tapi ini benar-benar yang paling gila. Lha gimana toh, beli tiketnya 2 hari sebelum terbang kok. Trayek Indonesia-Jepang lho itu, bukan Semarang-Solo.

Suami malah bilang, “Tadinya mau beliin (tiket) yang berangkat besoknya.”

Hhe… busetdah! Dia beli tiket itu juga jam 11.30 malam, ya. Penerbangan cuma ada 1 kali, itu pun jam 8.55 pagi. Which is saya harus ke bandara jam 6 pagi buat international check in. Ngejak gelut di kasur itu namanya!

Jadi ya begitu, akhirnya ga jadi. Dan saya punya 1 hari buat belanja, packing, dan pisahan sama keluarga. Secara ga tau bakalan pulang kapan lagi, entah tahun depan, atau depannya.

Karena persiapan serba mendadak dan tidur yang amburadul. Nyaris tiap jam bangun. Biasa gitu sih kalau mau perjalanan jauh. Otak berasa mikir keras tentang isian koper. Sambel yang dibawa cukup gak, indomie cuma 2 itu gimana. Kelebihan bagasi pula, di denda gak ya, tapi kalau ditinggal kok sayang. Daannn…. segala macemnya.

Jadi ya akhirnya selama perjalanan saya tepar setepar-teparnya. Di pesawat tidur mulu. Udah ga peduli dengan mbak-mbak sebelah yang kayanya baru pertama naik burung besi dan bingung gimana cara buka seatbelt. Untung mas pacar (atau suami?) di sampingnya.

Jadi mbaknya di tengah antara saya dan mas pacarnya itu.

Si mbak juga antusias banget potret pemandangan sana sini. Saya? Duhh, kepalang tanggung udah ngantuk berat! Padahal itu posisi kesukaan lho, samping jendela, rejeki kan? Tapi ya gitu, namanya ngantuk ya, Book!!

2,5 jam kemudian, mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2. Habis turun dan ambil bagasi, langsung meluncur ke restoran. Laper plus mabok pulak. Turbulensinya uwow bingit sih. Udah kaya naik roller coaster tapi dalam versi melayang di atas awan.

Pesenlah akhirnya, mie korea yang ada kimchi-nya. Kimchi lho ya. Bukan kimchil.

Pesanan dateng, dan dicicip. Huaahh!! Enakan mie ayam, Cuy! Sumvah!

Tapi yaudahlah ya. Ready to eat di depan mata juga. Harga 45ribu pula. Kan eman.

Nah, ini, nih, entah kesambet apa. Untuk pertama kalinya dalam keadaan linglung atau mabok chiki, saya ketiduran pas lagi ngunyah. Iyeloh, bener-bener ngelenyep. Aduh, apa yak bahasa Indonesianya. Inggrisnya power nap sleep kaya si baby boss. Dan itu berkali-kali.

Padahal kimchi-nya itu asem pedes lho, ga mempan juga ternyata.

Buru-buru saya selesein maem, trus pindah tempat. Nyari yang bisa selonjoran sambil nge-cash hp. Nah ini. Baru nempelin pantat di lantai bandara, langsung merem dan bablas. Wah, abunai! Bahaya! Kalau tidur ga terkontrol begini susah ngawasin koper dan tas yang bawaan.

Ya kalau ada temen bisa saling jaga. Kalau sendiri gini kan tanggung jawab siapa coba?

Sejam tuh berusaha melek tapi gagal mulu. Kaya nembak cewe tapi ditolak terus. Sebel kan jadinya.

Cuss langsung dorong trolley barang ke Mcd Cafe. Pesen Americano’s Coffee. Kopi paling pahit. Meski tetep pahitan hidup saya, sih. Ngikk..

Barulah di sana saya bangun. ON! Yihhaa!!

Benerlah ya, ternyata doping itu perlu. Anggap kopi tadi itu, yang pahit-pahit itu, senyata kehidupan.

Percaya ga sih kalau hidup terlalu manis itu lama-lama ngebosenin? Baik aja gitu. Temen-temen baik semua. Jabatan bagus. Pokoknya mau apa langsung keturutan. Yaudah aja gitu. Hidup lempeng-lempeng, tanpa hambatan yang berarti.

Pas lagi di jalan tol yang halus mulus dulu, pernah nyeletuk, “Enak ya kalau jalanan kaya gini terus.”

Eh, langsung disamber papa, “Malah bahaya. Jalan landai berjam-jam itu bikin sopir lengah, bawaannya pengen ngebut. Atau, disetel santai, tapi malah ngantuk. Makanya banyak kecelakaan di jalan kaya gini.”

Nah, kan serem kalau gitu, jadi jalan tanjakan dan turunan juga perlu. Pahit juga perlu. Biar otak ON terus. Mawas diri, hati-hati, lebih siaga dan berproses menjadi manusia yang bijaksana.

Sayangnya, kopi tadi hanya mempertahankan mata melek 5 jam. Tepat tengah malam. Saya benar-benar ambruk di dalam pesawat menuju Sapporo. Hahh! Akhirnya…. tiduuurr!!!

Oyasuminasai minna-san!

*Marintha Violeta
Jepang, 18 Oktober 2018

Minggu, 14 Oktober 2018

Menyusur Paris bersama Kuntowijoyo

“Kau belum dianggap ke Eropa, jika belum menginjakkan kaki di bumi Paris.”

Heii! Itu slogan yang pedih! Eropa tidak hanya Paris, kan? Bagaimana dengan Italy, Spanyol dan negara memesona lainnya? Tapi ya, baiklah, karena sekarang saya sedang menyusur jalanan Champs-elysee yang termahsyur dengan pusat turis menghamburkan euro-nya. Kita bisa sekaligus menyelami islam di negara yang dikenal sebagai The City of Lights, kota paling terang cahayanya di eropa ini.

Pernah dengar Arc de Triomphe? Itu lho, simbol kemenangan Napoleon Bonaparte dalam menaklukkan eropa. Sekaligus menjadi gerbang tembok raksasa memasuki jalanan Champs-elysee. Konon, Champs-elysee ini menjadi strip real estat kedua termahal kedua di dunia (pertama di eropa) setelah Fifth Evenue di New York City. Yang menarik, jika jalan ini ditarik garis lurus, hampir sejajar dengan kiblat. Hanya berselisih 5 derajat dengan jarak pisah ke ka’bah sejauh 4.500 km.

Wah, dicocok-cocokkan saja itu.

Eits, bukankah tak ada yang kebetulan di dunia ini? Bahkan si dia menikah dengan orang lain pun sudah termaktub di Lawh Mahfudz. Jadi ya sudah, terima saja. Lagi pula, ini menjadi bukti bahkan kehidupan tak bisa lepas dari keberadaan Tuhan. Tidak hanya Napoleon, tapi juga saya, dan kalian penanti jodoh datang. Bisa jadi hal-hal inilah yang mengilhami munculnya profetik.

Kuntowijoyo, tokoh intelektual yang dipengaruhi oleh Muhammad Iqbal, tokoh filsuf Islam, telah melahirkan ilmu profetik. Profetik sendiri berasal dari kata prophet atau nabi. Kemudian diartikan sebagai peran kenabian. Pada paradigma profetik, setiap manusia memiliki tugas dan peran kenabian. Selain memiliki hubungan dengan Tuhan (Habluminallah), manusia juga memiliki hubungan dengan manusia (Hambluminannas). Dengan demikian, Profetik harus memiliki relevansi keagamaan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan.

Menyatukan ilmu pengetahuan dengan islam tentu saja bukan hal mudah di tengah filsafat modern. Ilmuwan besar kutub idealis misalnya, ngotot sekali mencari molekul terkecil pembentuk manusia. Mereka, tidak akan percaya jika dikatakan manusia terbuat dari tanah. Akan sangat mempermalukan teori leluhur mereka, Darwin. Lalu bagaimana bila politik, ekonomi, sosial bahkan budaya dan sastra terbelah? Aneh sekali rasanya jika teori-teori itu seperti langit dan bumi. Maka di sinilah, ilmu profetik hadir menjembatani.

Ilmu profetik merupakan manifetasi dari surat Q.S Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. Inilah yang disebut Kuntowijoyo dengan peran profetik. Di mana manusia memiliki peran kenabian, yaitu humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minubillah). Menjadi penerang dalam membumikan ajaran Allah.

Mengagumkannya, ilmu profetik memiliki kaidah-kaidah yang mengacu dalam mengekspresikan dan menuliskan pesan dalam karya. Yang pertama, epistemologi strukturalisme transendental. Yaitu rujukan dari sebuah karya yang bersumber pada kitab suci atau wahyu (firman Tuhan atau sabda Nabi) yang kemudian ditarik kedalam sebuah realita yang terjadi (dari teks ke konteks). Yang kedua, sebagai ibadah. Ibadah selama ini hanya dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan (transendental), padahal paradigma tersebut kurang tepat karena pada hakikatnya manusia beribadah dengan humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Yang ketiga, keterkaitan antarkesadaran. Pada kehidupan beragama tentu manusia memiliki kesadaran ketuhanan. Artinya kesadaran bahwa adanya Sang Pencipta yang Maha Agung. Selain kesadaran ketuhanan, umat beragama juga harus memiliki kesadaran kemanusiaan. Artinya kehidupan kita ini tidak lepas dari peran sebagai makhluk sosial. Ketiga kaedah itulah yang kemudian menjadi pedoman. Entah itu area sosial, budaya, politik maupun menjadi nasihat-nasihat atau pesan-pesan Tuhan.

Rue de Revoli semakin ramai saat sore menjelang. Musee de Louvre mulai ditinggalkan pengunjung. Eiffel semakin padat pemburu foto matahari tenggelam. Diantaranya, bangunan-bangunan lama nampak kokoh dan menawan dengan guratan usia. Sama tuanya dengan profetik yang lama diterapkan. Masuk dalam meja-meja ilmu pengetahuan, sapaan orang antar negara bahkan terserak di kemegahan lampu kota. Dalam hal ini, Kuntowijoyo berpendapat bahwa dalam konsep Islam yang kaffah, umat Islam dituntut untuk menjadikan Islam sebagai landasan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Selain ibadah yang rukun (sahadat, shalat, zakat, puasa dan haji), maka dalam menciptakan karya pun haruslah diniatkan sebagai ibadah (Kuntowijoyo, 2013:14).

Zulheri, dalam skripsinya berjudul Ilmu Sosial Profetik (Tela’ah Pemikiran Kuntowijoyo), dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2012, menyebutkan pengaruh kritik sosial profetik yang paling mudah ditemui adalah liberasi. Liberasi yang mengandung misi pembebasan manusia dari kungkungan sistem pengetahuan yang terdoktrin lingkup materialistik, dominasi struktur, seks, bahkan ras. Pun pembebasan sistem politik yang diktator, otoriter, sewenang-wenang, oleh golongan atas Indonesia.

Berjalan-jalan di sepanjang Champs-elysee bersama aura humanisme Kuntowijoyo, serasa merengkuh keromantisan islam dalam gerimis Paris. Kursi besi yang basah. Lampu-lampu menyala dalam ranum senja. Tentu saja, ada banyak yang tertinggal dan harus ditinggalkan agar alam terus berjalan. Kita boleh terjatuh, tapi tidak untuk menyerah. Manusia bisa salah, ilmuwan bisa saja khilaf, tapi Allah harus bertahta dalam raga. Modernisasi akan terus berkembang, tapi spiritualitas tetap memberdaya dalam akal dan jiwa. Demi pengetahuan dan kehidupan yang harmonis antar manusia.

#tantanganodop5

Violeta, Spain
7/7/2017

Sabtu, 13 Oktober 2018

Summer Dingin di Sapporo.

Saya kok ya heran. Angin mobat-mabit, mendung dan hujan nyaris tiap hari ini membuat orang-orang gerah. Kipas angin laku keras. Baju tipis dan terbuka, duh jangan ditanya.

Tiap pagi, saya harus buka ramalan cuaca. Lha pie, ga asik cuy kalo lagi duduk-duduk di taman tepi danau. Ngamatin kecipak air dari polah kaki itik yang ga ada capeknya berenang itu, tetiba tiktiktik, bunyi hujan di atas genting.

Pernahlah nrabas hujan cuma buat beli sawi ke supermarket. Dongs, itu sepeda saya cuma satu-satunya di parkiran. Padahal biasanya penuh sesak berderet-deret.

Maka cuaca terang benderang, dengan matahari hangat menghias angkasa, yang biasanya cuma 3 hari dalam seminggu. Membuat kami menyusun rencana mau ke mana.

Gilanya, entahlah yee.. tapi sering lho obrolan jadi kaya paranormal.

"Jalan, yuk."

"Senin minggu depan, cloudy, nih. Hayuklah. Soalnya minggu sama selasa hujan."

Baru 1 minggu lagi lho itu. Udah ada ramalannya. Dan buat kami, mendung sudah menjadi anugerah.

Dan saya akan bela-belain jalan kaki keliling blok cuma buat berada di bawah siraman terik matahari yang langka.

Kaya sekarang ini, tiba-tiba nyantol di Hokkaido University cuma buat nonton kakek-kakek yang asyik motret teratai.

Dulu saat kuliah, saya pernah bertemu orang Jepang di Jepara. Kami satu team untuk program penanaman mangrove yang memang sudah di pelopori oleh Universitas Diponegoro.

Setiap tahun akan ada acara di mana perwakilan mahasiswa se-Semarang dibekali ilmu per-mangrove-an dan bagaimana menjaganya. Dari bibit, hingga tumbuh membesar.

Saat kami berdua menyusur bibir pantai dengan terik Pulau Jawa yang aduhai, si Cinta, begitu kami akrab memanggilnya, cuma pakai kaos oblong dan kolor biru.

Katanya, cuacanya hangat. Nyenengin. Bikin betah main lama-lama.

Saya cuma ngakak. You know, semua tim sudah kalang kabut ke penginapan. Sibuk banget pake sunblock, topi, baju dan celana serba panjang. Kalau perlu ya payungan.

Di Jepang, summer itu artinya, duduk lesehan di taman, bawa bento, main sama merpati, berenang atau ke zoo. Apalagi Sapporo yang kemunculan matahari bisa dihitung pake jari.

Ini yang kemudian membuat saya bersyukur lahir di Indonesia. Cuaca bersahabat. Bunga mekar setiap saat. Plus, cucian kering dalam beberapa jam.

Si kakek barusan duduk di sebelah. Cuma buat ganti lensa kamera. Berdiri lagi. Cekrak cekrek lagi. Lalu kemudian..

Braakkk... Sepeda saya ambruk. Bungkusan lobak di keranjang berjatuhan ke tanah. Burung hitam besar nangkring di atasnya

Kyakkk... Lupa saya dengan pesan mamas kalau lagi jalan. Jangan pernah ninggalin makanan di keranjang. Bukan karena khawatir dicuri orang. Tapi dipatuki gagak.

Coba di Kudus, tuh burung bisa berubah bentuk. Iya, jadi iwak manuk goreng dengan lalapan dan sambel bawang.

Jadi sebenernya kamu pengen bahas apa sih, Vi? Absurd yaa.. soalnya yang tentang pindahan itu udah diceritain si mamas semua. Gini nih susahnya kita berdua sama-sama suka nulis.

Coba kalau sama-sama suka masak. Kan saya bisa libur dulu eksperimen di dapurnya. Hahaa..

Btw, lobak bisa dimasak apa ya? Pemberian dari sepasang suami istri asli Jepang. Langsung dipanen dari kebun saat saya main ke rumahnya barusan. Mirip bengkoang tapi ga bisa dipakai maskeran.

*Marintha Violeta
Sapporo, 14 Juli 2018

Rabu, 10 Oktober 2018

*Problematika Perawat Luar Negeri

Meninggalkan Indonesia, tidak pernah muncul dalam pikiran sebelumnya. Kenyataannya, saya tidak menginjakkan kaki ke bumi pertiwi selama 1 tahun, 1 bulan, 13 hari, 8 jam, 47 menit, sejak take off dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Hari pertama berada di Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, menjadi hari terakhir saya bertemu orang Indonesia. Itu artinya, keseharian, bahasa, bahkan bersikap, semua berubah. Saya menjadi pribadi berbeda dalam sekali hentakan jarum jam.
Mimpi apa semalam, ketika bangun tidur sampai tidur lagi full berbicara dalam Bahasa Inggris? Oh God! Syok? Pasti. Tapi sensasinya luar biasa! Ketika berada di tempat yang tidak ada yang mengerti Bahasa Indonesia itu membuat kita merasa, I REALLY LOVE INDONESIA!!
Mengikuti alur budaya dan keseharian membuat lidah saya juga harus beradaptasi kilat. Jangan harap ada nasi goreng atau pecel untuk sarapan. Di meja hanya akan sedia roti tawar, samoli atau sejenis roti panjang, roti arab dengan berbagai jenis keju, selai cokelat dan kacang yang bisa dipilih sesuai selera. Oke fine, sebagai pendatang, saya memilih sarapan dengan Indo**e.
Nah ini juga, saya baru kali ini, sumpah baru kali ini, bertemu seseorang dari India yang addicted dengan roti. "Nggak kenyang kalau nggak makan roti." Padahal baru saja dia makan sepiring nasi Bukhari. Aihh... Roti... Tolong redaksi, itu roti diganti 'nasi' bisa? Sebagai orang Indonesia yang cinta tanah air, nasi tak bisa digantikan dengan berlembar-lembar roti gandum. Tolong. Please. Ada Indo**e?
Yahh.. Baiklah kalau memaksa. Sehari sekali bertemu nasi bolehlah. Gantinya, setiap hari makanan selalu menu Arab, Syria, Afrika atau Eropa. Dan itu membuat saya agak mual, dengan aroma kapulaga dan rempah khas negeri teluk atau nasi campur krim keju. Maka jangan heran jika saya bisa loncat-loncat kegirangan ketika menemukan sate, empal gentong, kari ayam dan soto di supermarket. Dalam bentuk Indo**e, tentu saja.
Heii... Ini karena aku cinta produk Indonesia. Benar-benar 'seleraku...'
Sejauh ini, alhamdulillah tidak ada masalah berarti. Kecuali mimisan saat cuaca panas ekstrim dan masuk angin saat puncak musim dingin. Hari ini cuaca mendung. Asyik untuk duduk di samping kolam renang atau berjemur di sepanjang Laut Merah. Suhu bersahabat. Angin berkelebat.
Keluar negeri bukan semata-mata 'ingin', kawan. Tidak. Jangan. Saya sarankan, sebaiknya teman-teman menggenggam alasan erat kenapa memilih keluar negeri. Alasan itulah yang akan menguatkan ketika setiap hari berhadapan dengan orang-orang dari berbagai negara lengkap dengan watak dan attitude-nya. Baiklah. Tidak semua orang seramah orang Indonesia dan tidak semua orang Indonesia ramah di negeri orang. Ini rumusnya.
Jangan sampai, setelah diluar negeri, kita justru kelimpungan dengan 'keadaan yang berbeda'. Berharap semua enak? Lah, emang negaranya punya situ? Lalu marah-marah, memaki-maki dan menjelek-jelekkan PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia). Bahkan sampai bawa-bawa presiden RI beserta jajarannya. Katanya, "Tidak becus mengurus TKI."
Padahal, kita-kita juga yang heboh minta segera diterbangkan. Visa dibuatkan. Proses dilancarkan. Tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu jadwal penerbangan. Setelah sampai di negeri orang, minta cepat dipulangkan. Remisi kontrak. Pulang dadakan. Katanya, tak sesuai 'janji manis' Bupati. Lah, sekarang Bupati yang dibawa-bawa.
Jadi teman, tolong, tolong dengan sangat. Punyai dulu tekat dan alasan kuat kenapa memilih keluar negeri. Pastikan kontrak dan perjanjian yang tertulis sesuai dengan kesepakatan. Carilah informasi selengkap-lengkapnya. Datangi kantornya, temui direkturnya jika tidak mendapat kejelasan yang pas dari pihak agency. Bukan karena kata si A, B, C. Lalu kita asal tanda tangan. Ikut-ikutan. Mau enaknya. Menolak sulitnya.
Apalagi lintas benua. Tidak bisa pulang semaunya. Homesick yang menggila. Pula jaringan internet absurd. Sekarang saja kami tidak bisa telepon ke Indonesia karena jaringan internet Saudi disegel. Jadi saya harus mengirim pesan dahulu, lalu keluarga Indonesia yang menelpon saya.
So guys, saya tidak melarang teman-teman untuk mengepak sayap lebih lebar. Ambillah kesempatan yang ada. Bukalah pintu-pintu kemungkinan yang tersedia. Bisa jadi itulah jalan rezeki kita.
Dibalik sulit, berat dan kejamnya rumah tetangga, saya menggapai mimpi-mimpi saya disini. Salah satunya: naik unta bunga-bunga di Tanah Arafah. Saya naik saat malam. Fotonya gelap.
Jadi, bagaimana dengan kalian? Sudah dapat alasan terkuat hijrah keluar negeri?
Untuk teman-teman yang sedang berada di negeri orang: stay positive, stay fighting, stay brave, stay ambitious, stay focused and stay strong. Mentality is everything.
Aset paling besar adalah iman. Komunikasi paling hebat adalah doa. Semoga Allah melindungi kita dimanapun berada, dan semoga segera bertemu kembali dengan keluarga.
Salam hangat dari Saudi Private Nurse.
*Violeta
Jeddah, KSA. 13 Oktober 2016. 1.46 am.

*Kerupuk, Naik Kelas di Arab Saudi

Beberapa saat lalu, saya diajak ke salah satu restoran di Kota Riyadh, Arab Saudi. Bagi saya, seorang biasa yang hobi makan di warung pinggir jalan, restoran adalah tempat yang luar biasa. Arsitektur menawan. Furniture yang cantik. Patung kuda raksasa berkilau di tengah ruangan. Meja besar berderet-deret nampak serasi dengan kursi ukiran khas Kerajaan Saudi.

Kami memilih duduk di tepi. Persis bersebelahan dengan pembatas kaca. Letaknya di lantai dua membuat mata bebas merajai jalanan kota. Masih hiruk pikuk meski hampir tengah malam.

Belum berhenti saya berdecak kagum mengamati interior yang menawan, pelayan datang membawa sesuatu setelah kami selesai memesan makanan. 

"Excuse me, this is your kerupuk." Pelayan meletakkannya di meja.

Saya ternganga!

Hahh? Kerupuk udang mini? di atas piring elegan? Bersanding dengan mayonnaise dan beberapa saus buatan chef! Apa tak salah? 

Bismillah, saya mengambil satu, merasakan renyah digigitan pertama. Lalu membiarkan indra perasa mengambil alih bagiannya.

Benar! Kerupuk! Persis seperti yang di rumah. Gurihnya. Manis udangnya. Kriuknya. Masya Allah!

Saya memindahkan beberapa ke piring milik saya. Mencelupkan ke saus yang tersedia. Ada 4 macam saus berbeda. Nikmat!

Saya benar-benar tenggelam bersama si kerupuk. Bahkan namanya pun tetap sama, 'kerupuk'. Tidak diubah ke bahasa inggris, atau bahkan di'arab'kan.

Kerupuk dianggap cemilan kampung dan selalu identik dengan makanan kalangan menengah bawah di Indonesia. Diletakkan dalam kotak 'blek' reot. Menggantung di warung-warung pinggir jalan. Di tumpuk sembarangan di dalam pasar-pasar bau amis dan becek.

Di perkotaan, kerupuk hanya dianggap pelengkap. Sekadarnya. Ada atau tidak bahkan tak pernah diperdulikan. Ada biasa saja, tidak ada tak masalah.

Di negara gurun pasir, si kriuk ini justru naik kelas. Dihidangkan sebagai appetizer penunggu menu utama. Suguhan pembuka di dalam restoran mewah nan megah.

Saya tatap lekat tumpukan kerupuk di piring cantik di tengah meja.

"Ahh kerupuk. Kau benar-benar nampak berbeda. Bahkan lebih menggoda dari lampu kristal di atas sana. Dan tentu, kau berhasil membuatku rindu negara kepulauan di seberang. Bukankah kita berasal dari tanah yang sama?

Jika saja aku masih bertahan di negeri kelahiran, mungkin aku akan bernasib sepertimu. Menumpuk tak dipedulikan. Dicaci dan dikatai perawat bodoh ceroboh tak berotak. Di depan teman-teman dan pasien. Dianggap kriuk pengganggu dalam khitmad bersantap.

Ahh kerupuk, jika saja aku bertahan di tempat yang lama. Aku bahkan tak sanggup membayangkan seberapa remuk hatiku menahan genggaman mereka. Aku patut berubah. Berpindah. Dari kotak reot ke piring cantik warna perak. Aku berhak mendapat perlakuan layak, sebagai manusia, pun pula sebagai seorang perawat.

Kau benar kerupuk, setiap orang punya takdirnya, tapi setiap takdir harus diperjuangkan. Karna setiap usaha harus diupayakan. Begitulah mimpi dan doa dapat bekerja. Bukan sekedar kata-kata.

Hingga akhirnya, segala sakit dahulu, menjadi pelengkap nikmat bersanding denganmu. Di tempat baru, yang selalu menghargai posisiku, sebagai perawat dari bumi pertiwi."

"May I give you more water, miss?" Saya terperanjat! Membuyarkan rasa perih yang tiba-tiba merasuk melalui ingatan, ada bekas tusukan dari kalimat-kalimat mereka bersemayam disana.

"Eeehh, yes, please. Syukron." Pelayan dengan sigap mengisi penuh gelas kristal saya yang sebelumnya setengah kosong.

Di luar sana, langit masih gelap tanpa bintang. Di detik yang sama, di Indonesia, ayam-ayam siap berkokok, menyongsong fajar.

*Violeta
Riyadh, Arab Saudi, 4 Januari 2016, 00.50 waktu KSA.

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...