Rabu, 19 September 2018

Perawat Bukan Malaikat

Saat di Spanyol, saya bertemu pengemis wanita dengan keranjang berisi recehan euro. FYI saat itu 1 euro setara 15ribu rupiah. Anggaplah ada 30 euro, berarti ada 450ribu rupiah, padahal masih pagi. Dengan kulit putih semu merah, hidung mancung, tubuh kurus semampai, rambut pirang khas bule. Mirip dengan Manuela Villareal, anak kedua Shopia Latjuba.

Di Paris, ada laki-laki yang menyebelahi langkah saya. Awalnya ngomong Bahasa Perancis. Saya bilang tak mengerti apa maksudnya. Lalu dengan santai bilang, “euro for eat.” Oallah, minta uang to. Kaget juga, padahal tampang Brad Pitt. Badan segar bugar, bisalah kerja parttime. Atau minimal tidak nodong pendatang kere macam saya.

Apa karena mereka tidak di Indonesia? Yang meski tak digaji pun tetap akan bekerja? Semacam perawat-perawat magang di rumah sakit terkemuka. Perawat honorer yang gajinya horor.

Saya tak henti mengelus dada, kemarin, ratusan tenaga medis dari Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan sukarela dari Kabupaten Lombok Tengah berdemo. Masih dengan tuntutan sama selama seabad, kesejahteraan.

Konon, banyak yang tak digaji, kalaupun dapat, sangat tak mencukupi, 200ribu sebulan. Dengan pekerjaan tidak mudah dan penuh risiko. Miris pula, hampir keseluruhan belum mendapat jaminan kesehatan.

Salah satu teman bahkan berkisah, “dulu, kadang sebulan dapat 50ribu, udah alhamdulillah. Eh, ada pasien ga bisa bayar obar, nangis-nangis minta tolong. Akhirnya kita patungan, beliin obat pasien. Begitu hampir tiap bulan. Kita bisa apa?”

Demi kemanusiaan, iya, demi menolong sesama, gaji tak seberapa itu lenyap dalam hitungan detak jam.

“Keselamatan pasien nomer satu. Perawat puasa satu minggu, haha,” sergahnya kemudian. Sambil tertawa tertahan. Saya, nyeri di ulu hati.

Perawat itu sebenarnya apa? Haruskah menjadi pengemis seperti yang saya temui di Spanyol dan Perancis? Nyatanya mereka lebih berpenghasilan.

17 Maret lalu, PPNI merayakan ulang tahun ke 43, gegap gempita di pelosok negeri. Jalan sehat, senam bersama, hingga selfie. Iya, meski gaji entah apa kabarnya, yang penting di depan kamera nampak happy.



Teman, tolong, jangan sudutan mereka yang berjuang mati-matian di jalur ini. Ya perawat, ya jualan kaos kiloan. Ya perawat, ya buka lapak kecil-kecilan. Ya perawat, ya tetap nyari recehan. Macam saya yang nulis buat gali perbukitan.

Saya yakin, kita mencintai profesi ini sepenuh hati, tapi kenyataan terkadang tak sesuai ekspektasi. Jadi percayalah, dengan mencari sampingan atau alih spesialisasi sekalipun, tidak lantas menjadi pengkhianat sumpah profesi.

Common, Dude! Kita perawat, bukan malaikat.

Bagaimanapun, tetap manusia yang butuh makan, pulsa, paket data, parfum, sepatu pantofel, baju layak pakai untuk bertemu calon mertua, sampai boyong dia ke KUA.

Hanya butuh pemasukan jelas mata untuk ditunjukkan pada orang tua. Bisa mandiri dan tidak minta-minta.


Kedua pengemis tadi pula yang membuat saya mengerti, bahwa bisa jadi bukan nasib yang membelenggu, tapi tempat yang kurang pas untuk mengepak sayap putih itu.

Kalau saja mereka berdua datang ke Indonesia, bikin akun IG, jadi selebgram. Masuk tipi, diudang Hitam Putih, diajak main pilm Hanung Bramantyo. Hidup enak. Tenar. Viral. Seperti Ayana Jihye Moon. Muallaf cantik asal Korea yang menghiasi layar kaca. Ayana juga bukan siapa-siapa loh di Korea, tapi laris manis di Indonesia.

Lega itu ketika tahu, sudah banyak yang berani mengambil keputusan. Datang ke negara-negara orang demi mencari peruntungan. Arab Saudi, Kuwait, Jepang dan Singapura yang masih dan akan terus membutuhkan tenaga kita.

Kelemahan setiap negara tetap ada. Perbedaan pasti menghantui. Culture shock jangan ditanya. Tapi bukankah di situ tantangannya?

Dari para perawat hijrah itu, saya mengerti, memberdaya di negara orang adalah langkah untuk tidak menjadi pengemis di negeri sendiri.

“Itu dulu waktu jadi perawat honorer di Indonesia. Sekarang Alhamdulillah. Di Arab Saudi, bisa ngirim uang buat orang tua. Bayar sekolah adek. Umroh dan haji,” pungkasnya sebelum menutup obrolan hari itu.

Kalau rezeki Ayana di Indoneisa, mungkinkah rezekimu di Korea?




*Marintha Violeta
22 Maret 2018

Perawat Pengkhianat Profesi?

Menjadi perawat yang masih seumur jagung itu serba salah. Yakin deh. Apalagi saat ditanya, pengalamanmu apa? Kan ya lucu kalo jawab, “bisa nyuntik.”

Lho, itu kan kompetensi sebelah, kok diaku.

Setelah pulang dari Arab Saudi, saya memang tidak berniat melamar kerja. Istirahat dululah, nyenengin suami, eh, diri sendiri.

Ga ada yang namanya mikirin pasien, obat yang kemarin dikasih bener gak, atau, stok obat minggu ini cukup atau tidak. Beneran, bebass..

Tapi ternyata bagai makan buah simalakama, nganggur pun, pertanyaan bertubi datang. “Lhoo.. kok ga kerja sih mbak? Mengaplikasikan ilmu ke ranah seharusnya dong. Sombong amat dipek sendiri.”

Eww… saya yang malah harus tanya, “seriusan nih mau dibagi ilmu? Saya cuma junior tolol yang ngasih rumus penghitungan dobutamin tercepat saja dianggap sok nyari perhatian.”

Sepuluh dari seribu alasan perawat tak betah sampai meninggalkan profesi itu mudah sebenarnya, tak dianggap ada.

Bahkan, ‘tak dianggap ada’ bagi sepasang kekasih saja bisa bikin perceraian kok, apalagi masalah kerjaan.

Iya, tak dianggap negara kalau sekolahnya mahal, kerjanya tak manusiawi, tapi dituntut superman. Lampu kamar pasien mati, salah perawat. Hujan turun, salah perawat, sampai anak Jokowi nikah-pun, salah perawat.

Ya jadi tidak salah toh kalau akhirnya banyak yang hengkang. Cari peruntungan lainnya.

Merintis jalan yang sedang dan akan ditapaki itu sulit, tapi bukan mustahil. Akan ada banyak hambatan, tentu saja, tinggal bagaimana kita menanggapi dan mencari solusi. Nah, kalau sudah mentok tak ada yang bisa memberi pemasukan untuk bertahan hidup, bukan sebuah kesalahan jika perawat ini mencari jalan lain.

Kecintaan dan keahlian setiap orang berbeda tergantung minat dan ketahanan.

Banyak teman saya yang akhirnya menjadi wirausaha. Bukan karena mengkhianati profesi, tapi di jalan itulah mereka menemukan jati diri. Kebahagiaan sejati. Yang meski melelahkan dan memeluai dari paling dasar. Mereka akan puas dan tertawa.

Bekerja di satu linier yang dianggap orang lain hebat tapi tidak sesuai hati itu sangat menyiksa dan meleahkan. Ingat, mental butuh makanan juga. Kesehatannya, tergantung apa yang sedang dilakukan. Termasuk ya mimpi-mimpi ke depan.

Dan menghalangi seseorang untuk mendapatkan mimpinya, menghancurkan masa depannya, mematahkan semangatnya hanya karena berbeda pandangan dengan kita itu sangat tidak etis.

Kebahagiaannya, biarkan dia yang menentukan.
Tugas kita, sebagai sesama sejawat adalah mendukungnya asal tetap berada di jalur positif dan sesuai dengan tuntunan agama.

Kebaikan bisa berbentuk beragam wujud. Kebahagiaan bisa didapat dari beragam profesi. Cintailah, bahagialah.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia. 19 September 2018

Drama di Bandara Chitose Hokkaido

Lupa itu manusiawi, kan, ya? Tapi kalau lupa tingkat akut itu bikin puyeng kepala juga. Nah, ini yang membuat saya dagdigdugder!!

Hari ini sudah perfect banget. Bangun jam 4.30 pagi, siap-siap, nunggu bis di halte. Duduk manis di bis. Sampai Bandara 1 jam lebih cepat dari perkiraan. Paripurna!

Hingga check in, pamitan dengan suami, masuk pemindai x-ray, mulus di imigrasi, hingga ngobrol dengan warga Malaysia di depan gate 65.

Setelah diperbolehkan masuk pesawat, saya duduk di kursi sesuai yang tertera di boarding pass. 1 detik, 5 detik, 10 detik, kok dingin ya? Eh, iya loh dingin banget! Lihat badan, lahh!! Jaketnya mana?

Panik, saya langsung telpon suami.

Kata mamas, coba tanya pramugari. Kata pramugarI, tanya petugas di luar pesawat. Kata petugas di luar pesawat, saya dilarang meninggalkan pesawat. Benar-benar dihadang di garbatara.

Gemetarlah badan, gila ini, bisa-bisanya jaket ketinggalan. Diingat-ingat, diingat-ingat, baru ingat kalau ketinggalan di baki saat pemindaian x-ray di pintu paling luar. Iya, pintu terluar sebelum imgrasi. Duh, Vio!!!

Petugas menelpon bagian pintu luar, dan meminta saya masuk ke dalam pesawat lagi, katanya jaket akan diantar.

Wah, kalau sampai nggak ketemu, bisa beku saya di dalem pesawat sedingin itu selama 8 jam perjalanan!

Tapi alhamdulillah, beberapa menit kemudian, pramugari datang memberikan jaket saya. Fiiuuhh!!

Sebenarnya ini bukan kali pertama.

Dulu saat di Bali juga, HP saya tertinggal saat di-charge di waiting room bandara. Sadarnya saat sudah di landasan pacu. Nyaris masuk pesawat. Akhirnya, mamas suami yang lari-lari balik ke dalam. Padahal jaraknya jauh lho itu. Kasihan.

Jan, kebangetan ini.

Kadang saat lupa, saya merasa sedang kehilangan setengah kesadaran. Melek tapi tidak sepenuhnya melek. Bangun tapi tak benar-benar bangun. Jadi masalahnya, kecenderungan untuk memisahkan apa yang harus diingat dan dilakukan itu nggak sinkron.

Ini benar-benar menampar saya.

Dulu, saat ada seseorang menyakiti hati, saya berusaha sekuat tenaga untuk melupakan. Tapi nyatanya? Semakin berusaha, semakin saya mengingatnya lekat-lekat. Seperti benalu yang justru melekat erat.

Tidak sehat, tentu saja.

Seorang sahabat pernah mengambil seseorang yang saya suka. Saya lupakan rasa itu, kenangan itu, tapi meski telah bertahun-tahun, saya sanggup mengingat detailnya. Bahkan percakapan ketika pengkhiatan itu dia katakan sebagai pelampiasan karena saya bukan teman yang baik.

Oh, baiklah, bukankah kita harus berdamai dengan masa lalu?

Meski nyeri itu telah lama sirna, tapi pengalaman tetap menjadi pengalaman.

Yang ingin saya bagi di sini, sebenarnya kita bisa memilih untuk fokus pada hal-hal yang memang membantu kita untuk maju. Tak perlu setengah mati berusaha melupakan mantan, oh, sungguh tak perlu. Karena sebenarnya, dengan teralihkan dengan hal lain pun, kita bisa meninggalkannya tanpa menyakiti siapapun.

Saya melupakan jaket dan hp itu karena fokus pada sidak di gerbang imigrasi, perjalanan pesawat yang panjang dan hal-hal menyenangkan setelahnya.

Jadi ya biarkan mereka pergi dengan tenang. Biarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Biarkan waktu menghormati segala apa yang terjadi hingga kemudian kita tak lagi menyadari, ketidakhadirannya, menjadi sangat biasa, dan kita baik-baik saja.

Mengingat kenangan juga sebenarnya tak seburuk yang kalian kira. Saya tetap dan akan mengingatnya. Bahkan tatapan mata dan hentakannya di jantung.

Karena bagi saya, sepahit apapun masa lalu, mereka yang telah membangun saya hingga mampu berdiri seperti sekarang.

Mereka bisa tertawa saat itu. Tak apa. Tapi sekarang, saya lebih bahagia dengan tahu, siapa yang benar-benar bisa dijadikan teman setia dan pasangan yang penuh cinta. Tanpa balas dendam dan amarah yang sia-sia.

Percayalah, sesakit apapun itu, esok lusa, ia akan menjadi alasan untuk bangkit dan berjuang lagi.

*Marintha Violeta
Kuala Lumpur, Malaysia, 19 Septemeber 2018

Minggu, 16 September 2018

Yang Tak Bisa Ditemui di Jepang

Banyak yang nyeletuk, kalau tinggal di negara sakura itu enak, bagus dan tentu saja, jadi primadona wisata dunia. Padahal tak begitu-begitu juga.
Simposium “Sharing Gender Issues in Asia” di Jepang, 27 September 2014, Pande Made Kutanegara, M.Si., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM memaparkan tentang kehidupan Indonesia yang membuat peserta dan para ahli dunia tercengang.
Apa yang beliau jelaskan? "Tradisi rewang."
Tapi ternyata mereka sangat penasaran dan menjadi bahan diskusi tak terelakkan.
Di Jepang, semua serba instant, praktis dan minimalis. Alat-alat diciptakan. Tak hanya robot yang standby di tiap rumah sakit dan mall, tetapi juga peralatan yang sangat membantu pekerjaan rumah tangga. Lucu dan aneh-aneh.
Orang-orang di sana, lebih memilih mandiri. Melakukan apapun sendiri. Bahkan kata mas suami, mereka itu sungkan minta tolong. Kalau memang terpaksanya tidak bisa dilakukan sendiri ya memanggil ahlinya. Memperbaiki pipa bocor, gas kompor mati, atau kehabisan garam. Tidak akan ketuk-ketuk rumah tetangga.
Malahan, bila ada yang berisik, akan mengadu ke polisi. Jadilah pak polisi yang datang, menggedor pintu dan bilang, "tolong, jangan berisik, tetangga anda terganggu."
Malu! Masuk sensus pula. 'Mr.Bruno beralamat di Jalan Mars mengganggu ketenangan warga.' Padahal bisa jadi beliau sedang menangis histeris karena berduka sampai memukul-mukul meja.
Nah, tradisi rewang yang diusung Pak Pande jelas membuat orang Jepang melek.
Beliau bercerita, "Budaya rewang merupakan salah satu bentuk keterlibatan sosial. Sebagai bentuk bantuan, mereka bisa menyumbang tenaga, barang, bahkan uang.
*Yang Tak Bisa Ditemui di Jepang
Saat di Jepang kemarin, banyak yang nyeletuk, kalau tinggal di negara sakura itu enak, bagus, dan tentu saja, jadi primadona wisata dunia. Padahal tak begitu-begitu juga.
Simposium “Sharing Gender Issues in Asia” di Jepang, 27 September 2014, Pande Made Kutanegara, M.Si., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM memaparkan tentang kehidupan Indonesia yang membuat peserta dan para ahli dunia tercengang.
Apa yang beliau jelaskan? "Tradisi rewang."
Menggelikan, bagi kita. Masa yang begituan dibawa ke meja international.
Tapi ternyata mereka sangat penasaran dan menjadi bahan diskusi tak terelakkan.
Di Jepang, semua serba instant, praktis dan minimalis. Alat-alat diciptakan. Tak hanya robot yang standby di tiap rumah sakit dan mall, tetapi juga peralatan yang sangat membantu pekerjaan rumah tangga. Lucu dan aneh-aneh.
Orang-orang di sana, lebih memilih mandiri. Melakukan apapun sendiri. Bahkan kata mas suami, mereka itu sungkan minta tolong. Kalau memang terpaksanya tidak bisa dilakukan sendiri ya memanggil ahlinya. Memperbaiki pipa bocor, gas kompor mati, atau kehabisan garam. Tidak akan ketuk-ketuk rumah tetangga.
Malahan, bila ada yang berisik, akan mengadu ke polisi. Jadilah pak polisi yang datang, menggedor pintu dan bilang, "tolong, jangan berisik, tetangga anda terganggu."
Malu! Masuk sensus pula. 'Mr.Bruno beralamat di Jalan Mars mengganggu ketenangan warga.' Padahal bisa jadi beliau sedang menangis histeris karena berduka sampai memukul-mukul meja.
Nah, tradisi rewang yang diusung Pak Pande jelas membuat orang Jepang melek.
Beliau bercerita, "Budaya rewang merupakan salah satu bentuk keterlibatan sosial. Sebagai bentuk bantuan, mereka bisa menyumbang tenaga, barang, bahkan uang.
Upaya saling tolong-menolong ini begitu kentara, dan menjadi salah satu kegiatan sosial yang sangat penting di pedesaan. Sepanjang upacara lingkaran hidup manusia mulai dari kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian, para tetangga, kerabat, dan teman akan datang membantu."
Kemarin, ngunduh mantu pernikahan Mas Erhash, saudara sepupu suami, yang juga kakak kelas kuliah, di desa Undaan Kidul, Kudus, membuat mata saya basah.
Image may contain: 1 person, sitting
Bulat matahari belum sempurna. Langit masih semburat jingga. Tapi di satu tempat, di bawah tenda yang baru sehari berdiri, ibu-ibu dari berbagai usia berkumpul jadi satu. Tak hanya pemudi macam saya, nenek-nenek sepuh dengan kebaya sederhana pun tak kalah ambil bagian, menjadi perewang.
Tak ada aturan tertulis, tapi mereka paham tupoksi masing-masing. Berbagi tanggung jawab di kompor, menghaluskan bumbu, mencincang sayur mayur, membuat lauk, mencuci piring, bahkan bagian menata berkat.
Semua sibuk. Fokus. Cepat, das des. Tanpa disuruh. Tanpa dipaksa. Dan tanpa bentakan, tentu saja. Aura seketika berubah menjadi ajang lihat sekeliling, apa yang bisa dilakukan, ndang dikerjakan.
Gurau membahana, canda menggelegar, menertawakan berkat yang numplek. Menggoda si itu yang duduknya lucu. Tapi tangan tak berhenti bergerak.
Istirahat serempak saat menunggu nasi selesai ditanak. Tapi tak ada yang beranjak. Justru perewangnya bertambah. Saya hitung. Semakin banyak.
Saya terharu, tentu. Yang begini sulit ditemui di Semarang, apalagi Jepang. Bukan. Bukan karena egosentris dan individualis yang semakin mengikis.
Di Semarang, yang rumahnya saling mepet, tidak ada tanah kosong yang cukup pas untuk membuat tungku kompor kayu, menggelar tikar, berkumpul 30an orang dalam satu waktu. Apalagi di pagi hari begitu, semua orang sibuk bersiap ke kantor buru-buru.
Mereka memilih jasa catering dan event organizer karena lebih efektif dan efisien. Tempat gawe bersih, tidak lelah dan tentu saja, tidak merepotkan tetangga.
Di Jepang, kalian akan menemukan shinkansen, kereta bawah tanah yang aerodynamic, TV raksasa di dinding luar gedung bertingkat yang waterproof, WC yang bisa bernyanyi, tapi coba tanyakan pada mereka, kenalkah pada tetangga samping kanan kiri?
Pahamkah silsilah keluarga tetangga itu? Apakah ada tradisi membantu jika tetangga samping sedang menghelat hajat? Atau minimal, membenarkan kabel TV tetangga yang konslet?
Modernitas akan terus bergerak, tak dapat dicegah. Tapi semoga, di saat nanti robot-robot menguasai pasar, Indonesia tak kehilangan jati diri. Begitu yang kemudian diusung Pak Pande di simposium, saya setuju. Sangat.
Menjaga ruh tetap menjadi tradisi. Membudaya, mengakar ke pondasi paling bawah. Bahwa hidup bermasyarakat tak sekedar berbasa-basi, tapi juga turut andil berpartisipasi.
Tradisi rewang ini membuat saya takjub sekaligus rindu. Kearifan lokal, guyup, rukun, dan nasihat memesona dari para sesepuh. Untuk selalu datang membantu. Meski hanya duduk ikut ngelucu. Tapi kalau tidak datang, malu.
Di antara ibu-ibu ini, saya menemukan rasa syukur yang meruah. Jauh dari ingar polusi politik yang saling olok. Sampah hedonisme dampak pergerakan saham dan limbah teknologi karena android melimpah.
Kita, boleh saja kagum pada negara lain yang lebih maju. Tapi yakinlah, Indonesia tak kalah bermutu.
Kita, bisa saja terpukau dengan canggihnya kota. Tapi yakinlah, tak kurang kebahagiaan mereka yang menetap di desa.
"Sebagai fana, kita tak pernah tahu berapa banyak lagi waktu tersisa untuk bersama. Jadi mari jalin segalanya sebaik dan seindah yang kita bisa." - Helvi Tiana Rosa, penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi.
*Violeta
Undaan Kidul, Kabupaten Kudus. Jateng.
Selamat berbahagia untuk Mas Erhash Haqiqi Zulfikar dan istri. Langgeng hingga akhir hayat. Terima kasih atas kesempatan dan ilmunya. Sungkem.
Lain kali harus ikut ngirisin tahu juga mas Arsyad Syauqi. Heuheuu..

Jangan Nginap di Bandara, Bahaya!

Image may contain: 1 person, shoes
Seharusnya, saya tak perlu tengah malam selonjoran di dekat pintu masuk Kuala Lumpur International Airport. Seharusnya, tak harus nunggu HP di charge di area khusus yang tak kena WIFI. Iya, seharusnya, saya tak perlu menggelandang dengan sebungkus roti penyok dan aroma kertas cokelat dari buku Puthut EA.
"Lho, saye nak kira daripada Sawarak," gelegar Pak Cik memecah konsentrasi baca.
"Cakapnya tu.." Istrinya menimpali. Kami tertawa.
Tadi mereka datang, tanya, apa mesin charge-nya berfungsi. Saya jawab dengan logat upin ipin, "Bize, bize, bize..."
Dari situ, ngobrol sejam jadi tidak terasa. Sepasang suami istri dari Borneo, yang saya tebak usianya menginjak 50an tahun itu, mau jalan-jalan ke Korea.
Katanya, setiap tahun, harus pergi. Berdua aja, tanpa anak-anak. Kenapa Korea? karena untuk Malaysia bebas visa.
Ahh, kita-kita mah harus ngurus setumpuk berkas dan potocopy buku tabungan dengan nominal uang mengendap jutaan. Itu pun belum tentu lolos.
Mau ke Nami dan Jeju katanya, saya merem melek dengan tempat favorit syuting deretan drakor itu.
"Kuala Lumpur tu besar, dik. Pegilah ramai-ramai. Anak saye ja nak taksi tu poto nomor kereta (mobil). Kirim ke whatsapp," pesan si ibu saat saya katakan penasaran dengan petronas. Bahkan orang Malaysia asli saja meragukan keamanan negaranya. Jujur sekali, ya?
Obrolan selesai saat mereka harus check in karena pesawat boarding jam 1 dini hari. Otomatis, sendirian lagi.
Entah bagaimana, saya selalu yakin, saat berkelana sendiri seperti ini, akan ada hal-hal ajaib terjadi. Macam sekarang, persis di depan saya, ada mas-mas dari India kebingungan. Doi cuma nunjukin Baterai HP-nya tersisa 11%. Lalu nunjuk charger saya yang masih terjulur dengan HP. Kan gua jadi garuk-garuk lantai.
"Please.. please.." suaranya bergetar. Ada kerutan bersaff-saff di dahi. Oke, dia serius.
Usianya mungkin 20an. Ngapain ke Malaysia tapi ga bisa bahasanya. Tapi kalian tahu, saat kepepet, ketakukan lenyap bak asap. Dulu saat pertama saya datang ke Saudi juga gak bisa Bahasa Arab kok.
"Tike.. tike.." saya jawab sambil memberikan charger. Artinya, oke.
Dia menelpon seseorang. Lalu ikut ndeprok di depan saya, keringetan. Telpon lagi. Duduk lagi. Telpon lagi. Duduk lagi. Kakinya goyang-goyang. Cemas.
Saya tanya, apa dia butuh bantuan. Doi gelagapan. Jawab pakai Bahasa india. Saya yang tidak paham. Tapi tangannya gemetaran. Memang gugup sekali sepertinya.
Sampai kemudian dia lari keluar bandara. Masuk lagi. Ambil hp dan kopernya. Menyodorkan charger bertali pink. Lalu bilang, thanks. Saya jawab, syukria. Dia kaget. Matanya membulat. Lalu bilang, how.
Saya mengendikkan bahu, lalu tertawa. Kami berdua tertawa. Adu tos. Lalu dia pergi, sambil dadah. Jemputannya datang.
Kita mungkin tidak sebangsa, tidak sebahasa, entah pula agamanya. Tapi bisa akrab saja. Bak saudara lama yang pernah berpapasan entah dulu kapan.
Syukria, terima kasih dalam Bahasa India. Berasal dari Bahasa Arab, syukron. Mudah dihapalkan. Keseringan nonton PK jadi ada manfaatnya ternyata.
Saya, sendirian lagi. Karena posisi di pintu sayap kanan, terhimpit restoran dan dinding kaca bandara, tak banyak pengunjung melintas.
Lalu datang, 3 orang. Mencolok charger HP. Ngobrol dengan bahasa China. Ahh, setidaknya saya tidak kesepian. Mereka itu memang jagonya mengubah keadaan.
Tiba-tiba salah satu menghadap saya, "Mbak, mau voucher makan?" Lho, bisa bahasa Indonesia?
"Free?" Saya memastikan, yang ditanya beneran saya atau tidak. Gratis atau tidak. Hhaha..
"Iya, ini ada 3, kita sudah kenyang. Mau ke hotel."
Image may contain: one or more people
Wah, rezeki nomplok. Alhamdulillah, gegara minjemin charger saja langsung dibalas berlipat-lipat. Kyakk. Berlompatan ini jantung. Mana ringgit tinggal receh pulak.
Langsung saya dorong trolley ke arah outlet makanan karena hanya berlaku 1 hari. Satu jam lagi, sudah tengah malam. Puter-puter lorong... Yes, nemu kios Burger King! Ahh, lama tak makan craby patty.
Saat batin sedang bertarung sengit pilih isian ikan atau daging, lauk nugget atau kentang, si embak justru merusak segalanya, "Maaf, kak. Vouchernya untuk outlet yang di dalam."
Huwaa.. sakitnya tuh di sini!!
Hangus sudah. Lha saya belum boleh check in, kok. Padahal jam 8 malam tadi sudah merayu operator maskapainya. "3 jam sebelum boarding baru boleh masuk, Mbak. Besok jam 4 pagi, ya. Sekarang tunggu di sini dulu."
Kenapa ngebet masuk? Karena di bagian dalam berlantai karpet motif lucu-lucu. Dekorasi yang artistik. Kursi tidur berderet-deret. Lengang. Luas. Pula ada free movie area untuk nonton film sesukanya. 24 jam nonstop. Gimana saya nggak ngiler coba?
Sekarang, masih jam 2 pagi. KLIA 2 masih ramai saja. Banyak yang terkapar di lantai, kursi, genteng. Ada yang macam saya, melek karena lapar, atau kekenyangan menguap.
Ada juga anak-anak yang balapan puterin check in counter pakai trolley barang. Total ada 3 trolleys, kebut-kebutan. Tawa mereka bergema. Memantul di langit-langit yang menyala.
Kalau saja, saya lupa sudah menikah, mau ikut juga ngetril bareng mereka. Kapan lagi coba, airport jadi tempat balap liar.
Image may contain: one or more people, basketball court and indoor

Kegabutan malam ini saya gunakan untuk menonton balapan gratis sambil melahap buku Kepala Suku Mojok, Puthut EA, judulnya, 'Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah.' Ada kata-kata yang menampar saya di halaman 77,
"Kenapa takut tersesat, Rus? Tersesat itu bukan kekeliruan yang harus ditakuti. Jalan saja. Tersesat saja. Tak mengapa. Sebagian sejarah ini dibangun oleh petualang yang tersesat. Dengan tersesat kita lebih awas. Kita berinteraksi dengan orang. Bertanya. Bicara. Bertatap muka. Orang yang tidak tahu pasti sebuah arah akan lebih waspada. Semua sulur-sulur daya hidupnya akan menyala terang. Peka. Semua itu harus dilatih."
Dari dulu saya percaya, tak selamanya kita mengandalkan teknologi. Bagaimanapun, kemajuan modernitas hanya mengkerdilkan kemampuan asli manusia itu sendiri. Terlalu bergantung. Lalu kalah, mengalah, pada robot-robot ciptaan manusia.
Malam ini saya ingin mengenali dunia nyata, yang penuh gelak tawa, tanpa emoticon, tanpa notification.
Saya tak membuka google, wikipedia, GPS (ada GPS untuk airport bagian dalam), buku online, aplikasi cerpen atau semacamnya. Apalagi bergerilya di mojok.co . Bermalam di penginapan yang senyap dan diam. Meski mamas sudah teriak dari sana, "Ngapain ada WIFI nggak dimanfaatin?"
Saya, lebih ingin berbaur dengan mereka. Karena memang seharusnya begitu. Nyari locker barang, tanya bagian informasi. Samperin tempatnya, harga tak cocok, minta maaf, lalu pergi.
Nyari mushola, ikutin petunjuk arah. Salah masuk ke tempat shalat laki, minta maaf, keluar lagi. Nyari milo, masuk keluar toko. Nyari jodoh, eh lagi di Jepang.
Jadi, jangan coba-coba menginap di bandara kalau tak ingin menemukan keajaiban seperti ini. Plis, jangan coba-coba. Segala macam kerusuhan, pegal, dan ketagihan, ditanggung boyok masing-masing.
Image may contain: one or more people, basketball court and indoor

*Violeta
KLIA 2. 2.25 am

Bisa. Yakin. Bisa!

Saat posted kembali tulisan lama di Arab Saudi. Banyak yang kemudian inbox dan DM di Ig.
Dari yang, "Kok bisa ke sana?"
"Aku nggak bisa Bahasa Inggris. Nggak mungkinlah sampai sana."
Sampai, "Mbak Vio enak, punya uang, bisa ke mana-mana."
Hmm. Karena bejibunnya pertanyaan seperti ini, saya sudah sedih duluan. Apalagi yang belum kenal tiba-tiba nodong pertanyaan. Akhirnya jawab.
~Ya bisa to, kan tinggal naik pesawat.
~Lah. Emang dulunya aku bisa Bahasa Inggris? Wong sekarang aja masih kagak bisa kok.
~Apa uang itu turun dari langit?
Dikira langsung menclok apa di Jeddah? Kagak, Bray. Sama seperti yang lain, berjuang mati-matian. Dari yang belajar buat ujian wawancara sampai ngupulin uang buat modal.
Memang, sudah banyak perawat di negeri-negeri luar sana. Sukses, mapan, mobilnya gres, rumahnya gede, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
Tapi, dibalik itu semua, mereka harus makan garam duluan. Ibarat nih, mau ke pulau seberang, harus berenang berhari-hari melewati kolam buaya dan puluhan hiu kelaparan. Susahh...
Karena usaha, doa dan kemauan kuat itulah membuat mereka bisa seperti yang kalian lihat sekarang.
Ke Arab Saudi, meski ujian kerjanya tergolong mudah dibanding negara lainnya, tapi ujian hidupnya itu luar biasa mengoyak jiwa.
Pernah dengarkah kalimat, "Hanya orang berhati bersih yang diizinkan Allah masuk ke kota suci-Nya." Nah. Iya. Saban hari, saya terlampau setress. Tahu diri, kalau hati saya ini kotor bak selokan.
Dan emang terbukti loh. Ada teman yang susah banget ke sana. Entah berkasnya ilang lah di kedutaan. Belum terstempel. Sampai namanya tidak keluar di daftar dari BNP2TKI. Padahal sudah lolos test. Setelah usut punya usut, ternyata tidak akur dengan orang tua.
Belum selesai masalah hati, modal tak cukup-cukup juga.
Banyak teman yang kemudian jual tanah orang tua, kendaraan, utang sana sini, demi biaya administrasi, hidup sementara di ibukota sampai pritilan kecil seperti fotocopy berkas dan translate ijazah.
Saat kerja di Bandung, saya harus memotong setengah gaji masuk tabungan. Sisa setengahnya untuk biaya kost dan hidup sebulan.
Makan pagi energen, roti, atau mi gelas. Siangnya dapat jatah dari Rumah Sakit. Malamnya beli seblak harga 5 ribu. Atau beli nasi goreng depan RS Cicendo yang saya bagi 2 untuk makan malam dan esok paginya.
Mewah dikit ya bolehlah soto madura dekat Pasar Baru, itu pun paling sesekali karena diajak teman-teman. Sungkan, masa jarang ikut njajan.
Pilih jalan kaki pulang kerja daripada naik angkot. Lumayan, nabung 3ribu buat beli ceker ayam. Dapat 3 biji. Cukup untuk lauk pagi, siang dan malam.
Pengen baju baru ya ke Tegallega. Ada yang jual baju second, murah meriah.
Mau uang tambahan? Ya home care. Setiap ada yang berhalangan jaga, akan saya ambil jobnya. Pagi di RS, Siang Malam di rumah pasien.
Badan pegal, pasti. Tinggal bismillah, kencengin doa dan sedeqah. Pernah baca, sedeqah itu menyehatkan badan.
Selama satu tahun begitu itu. Karena tau diri, tak punya tanah yang dijual dan malu merepotkan orang tua. Mau keluar negeri? Ya nabung sendiri.
Tapi masih kurang juga. Akhirnya gadai laptop kesayangan. Termasuk semua file di dalamnya. Hilang.
Berat. Tapi saya yakin perjuangan teman-teman banyak yang lebih berat.
Bahkan, semakin berat perjalanan ke Arab Saudi, semakin dekat tempat kerja mereka dengan Ka'bah. Asli, teman saya ada yang begitu.
Masa berangkat pulang kerja lewat Masjidil Haram? Umroh kapan saja. Mau sehari 3 kali yo bisa. Pokoknya ya Allah, impian buangetlah. Tapi perjuangan dia ke sana juga nggak main-main. Babak belur! Dari kerja serabutan, sampai puasa berhari-hari karena kehabisan uang di ibukota.
Pokoknya mah, tidak ada usaha yang sia-sia. Yakin.
Di kamar kost, saya tempel banyak tulisan motivasi. Agar berani bermimpi. Dan poster Film Sang Pemimpi adaptasi novel dari Andrea Hirata dengan latar Menara Eiffel.
Sebelum dan selesai shalat, saya pelototin itu poster. Diucap dalam hati, "Ya Allah, bawa aku ke sana. Dengan Cara-Mu. Bisa. Insyaallah Bisa. Tidak ada yang tidak mungkin."
Perawat bisa terbang tinggi, asal masing-masing dari kita mau usaha dan doa.
Kalau belum lancar Bahasa Inggris ya coba baca-baca artikel luar negeri yang berseliweran di FB. Terus bertingkat baca web kesehatan dengan keywords english.
Pahami tentang materi keperawatan seperti cardiac arrest, Basic Life Support, Diabetic, dst. Coba sambil dibaca vocal (latihan pronunciation dan dicatat). Kan kalau nggak paham bisa ubah 'mode' ke Bahasa Indonesia.
Saya dulu lakukan begitu. Tidak ikut kursus apapun. Alhamdulillah bisa jawab pertanyaan saat interview. Semua dalam bahasa inggris.
Kalau belum ada modal ya kerja dulu sambil mengumpulkan uang. Hemat. Nggak apa-apa nggak bisa ngikutin fashion. HP masih butut. Sepatu masih tuitu. Yang penting ka'bah 5 cm di depan mata.
Kalau belum ada restu orang tua ya perhatikan mereka, bahagiakan dan turuti dulu maunya. Buktikan kalau kita bisa mandiri dengan membayar administrasi sendiri.
Ke orang tua cuma minta doa, jangan minta uang. Yakin, mereka akan percaya, kita bisa berkelana. Lalu melepas dengan pelukan. Bangga.
Tak harus jadi anak orang kaya. Anak petani juga bisa keluar negeri. Bisa. HARUS BILANG BISA. Insyaallah jadi doa.
Yang tidak bisa itu hati, yang takut gagal dan berprasangka buruk dengan rencana Allah.
Untuk tahu arah, kita harus bergerak duluan. Setelahnya biarkan Allah yang menentukan.
Muhammad Assad, penulis Notes From Qatar dan mendapat beasiswa S2 di Qatar mengatakan, "There is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone. We must leave comfort zone to grow."
Meninggalkan zona nyaman itu sulit, tapi lebih sulit kalau kita tidak bergerak dan terlindas peradaban. Berani bermimpi, berarti berani berlari. Meski tanpa alas kaki. Sakit. Tapi tunggulah, janji Allah itu pasti.
Dulu, niat awal cuma ke Arab Saudi, alhamdulillah, sampai juga lihat menara Eiffel langsung di depan mata. Gratis.
Kaaan.. Genjotan semangat dari poster film Sang Pemimpi tak sekedar mimpi.

Image may contain: indoor
"....Dengan terisak-isak kujelaskan pada pihak agency, jika tak bisa melanjutkan proses (ke Arab Saudi). Membatalkan visa dan menunda keberangkatan entah sampai kapan. Aku sama sekali tak ada ide. Hatiku remuk.
Kuputuskan sore itu pulang ke Bandung menembus hujan Ibukota. Biar. Biarkan bulir airnya meluruhkan sesak di dada...."
Adalah sepenggal kisah ngilu yang saya semat di buku "Jangan Mudah Mengeluh." Setelah lolos seleksi dengan sistem eliminasi, tentu saja. Berkolaborasi dengan penulis best seller buku 'Ubah Lelah Jadi Lillah', Bapak Dwi Suwiknyo dan teman-teman lainnya.
Jika kalian mampir toko buku, bolehlah buku bersampul ungu tua itu diboyong ke kasir. Di sana, ada kisah kawan, orang yang belum kalian kenal, seseorang yang berada nun jauh di seberang sana, mencurahkan isi hati. Berbagi tawa dan lara. Yang memilih untuk terus berlari, meski nyeri di ulu hati.
Jangan Mudah Mengeluh, Teman. Jangan.
Yakin bisa! Insyaallah Bisa!
Allah bersama kita.
"Orang lain boleh saja menolak ide kita, mereka bisa saja meremehkan cita-cita kita, pun mereka mampu mematahkan argumen-argumen kita, tetapi mereka tidak bisa mencegah terkabulnya doa-doa kita." - Ubah Lelah Jadi Lillah, halaman 77.
*Marintha Violeta
Kudus, 25 Mei 2015

Perawat Homecare kok Jalan-jalan!!

Image may contain: Marintha Violeta, smiling, sky and outdoor
"Jauh-jauh keluar negeri cuma nge-homecare. Yang berkelas dong. Ke rumah sakit internasional gitu."
Pedes ya? Sadisnya lagi, yang bilang begitu itu malah dari kubu perawat sendiri.
Iya sih. Perawat homecare tuh cupu banget. Cuma stay di rumah ngurus pasien. Ga bisa jalan-jalan. Ga bisa nongkrong. Ga bisa bebas pulang kerja mampir ke mana aja. Apalagi kerjanya 24 jam. Kan ngeselin.
Parahnya nih, bertahun-tahun kerja ga dapet sertifikat. Duh, jangankan surat pengalaman, tercatat sebagai karyawan aja enggak. Entah pula termaktub di kontrak kerja perusahaan yang bawa atau tidak. Lha ndilalah, perusahaan yang berangkatin dulu kok ya malah bangkrut. Tutup.
Sedihnya lagi ga bisa naik pangkat, pindah ruangan, atau protes kenaikan gaji. Lha saya cuma di rumah kok. Ngapain naik gaji segala. Kompetensi ya gitu-gitu. Ga ada pelatihan yang mengharuskan upgrade ilmu. Pemanasan EKG? Refreshing ventilator? ACLS? CWCCA?
Mereka ga akan tanya, sertifikat saya apa. Yang penting ada luka ya harus bisa ngatasin. Pasien pusing harus langsung didatengin. Cek tensi dan gula darah. Yang paling minimal.
Makanya, homecare ini ga dilirik. Ga sekeren perawat SOS yang bisa naik helikopter. Yakin.
Malahan ada yang bilang, "ihh, jadi perawat sendirian di rumah, ga takut diapa-apain, mbak?" Lho, malahan perawat yang bisa ngapa-ngapain. Naikin dosis insulin seenak jidat? Cuma dalam hitungan menit gula darah anjlok, pasien pingsan atau malah bablas.
Sekarang itu, ruang gerak perawat seluas Samudra Hindia. Dari mantri sunat sampai pejabat. Dari puskesmas, sampai konsultan kesehatan di perusahaan kelas kakap.
Dari penjaga keselamatan di jalan tol sampai tim medis Bandara. Jangan kaget kalau ketemu perawat di konser Lady Gaga atau pertandingan sepak bola dunia.
Pendapatan perawat itu setinggi Gunung Himalaya. Ada perawat Indonesia gajinya 40 juta perbulan di Kuwait. Itu baru Timur Tengah. Yang Amerika, Eropa, Jepang, dan daratan negara lainnya, yakin ga mau tau?
Come on! This is our profession. Bahagialah karena itu. Dan berhentilah men-judge bidang yang satu lebih baik dari yang lain. Yang kerja di rumah sakit lebih perfect dari yang di rumah atau panti rehabilitasi. Setiap tempat butuh keahlian masing-masing, kok.
Berhenti pula merasa kecil hanya karena lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar sempit. Rezeki Allah tersebar di jagat raya, lho. Jangan lemah hanya karena ilmu belum seberapa. Yang profesional pun dimulai dari seorang amatiran. Ya tapi jangan merasa sok tahu sampai sulit diberitahu.
"Think big if you want to be big."
Ada banyak jalan menuju Paris, eh, Roma. Salah satunya lewat profesi yang dulu disesali ini. Pilihan orang tua? Desakan saudara? Terpaksa?
Dulu, saya benci jadi perawat. Padahal, benci dan cinta hanya terpisah seutas benang. Mencari pembenaran dalam setiap proses seperti menyulam angin, hilang tanpa bekas. Membuktikan takdir Tuhan seperti berdiri di lumpur hidup. Semakin dijejak, semakin tenggelam.
Kata Iwan Setyawan, "Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu akan membuat rumah indah."
Jika kamu bukan perawat, cintai apapun profesimu sekarang. Jika kamu perawat, kau telah jatuh cinta di jalan yang tepat.
Maka siapa bisa memprediksi bila si perawat homecare cupu bisa sampai ke kota paling romantis. Yang katanya summer tapi hujan setiap hari.
"Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun retak-retak." - buku 9 Summers 10 Autumns.
Perawat, adalah rumah yang penuh luka. Tapi saya cinta.
*Violeta
Paris, Perancis, 1 Juli 2017

Kemalingan di Jepang

Tadinya saya percaya, Jepang itu negara teraman di dunia. Tadinya...
Saya jadi malas ngunci sepeda, taruh barang sembarangan, ninggalin tas di meja food court dsb. Pokoknya, suka-suka aja.
Pernah ada cerita dari orang Indonesia yang kehilangan sepeda. Bertahun-tahun tak ada kabar dari kepolisian, yasudahlah ya, dia pulang ke Indonesia karena study sudah selesai.
5 tahun kemudian, saat kembali lagi ke Jepang, dapat laporan kalau sepedanya ketemu. Bener lho, masih utuh. Dikembalikan. Si empunya barang malah bingung, lupa. Saking lamanya.
Karena ada nomer polisi. Macam plat nomer motor atau mobil di Indonesia. Wajib tempel di sepeda. Saat beli, sekalian daftar diri, dengan ktp Jepang. Jadi ya ga sembarang orang bisa beli sepeda.
Okelah, itu sesuatu yang memang barang pasif, besar dan kelihatan mata. Lha kalau kasus saya gimana?
Beberapa hari lalu, belanja di Tanoki Koji. Seperti Malioboro-nya Sapporo. Pertokoan berjajar sepanjang kanan kiri. Bentuknya memanjang sampai 7 blok. Semua orang jalan kaki. Sepeda harus dituntun.
Sepeda di parkir depan toko. Saya belanja kacang panjang dan kawan-kawannya. Setengah jam kira-kira. Pas balik ke parkiran, bengong, kaget, degdegan.

Image may contain: 2 people, people walking and outdoor

Bukan, bukan sepeda yang hilang. Si putih masih nangkring di sana. Tapi ada yang aneh. Saya elus-elus. Khawatir salah. Etapi bener kok. Sadelnya bunga-bunga. Kode gembok juga sama.
Sebelumnya, di keranjang sepeda ada 2 bungkusan. Kresek kuning isinya 2 chocobi dan 1 ikat pisang. Kresek putih cuma berisi jeruk, snack sevel dan milktea. Terikat kencang di stang.
Lah, sekarang, cuma ada 1 bungkusan. Duh. Saya celingukan. Berharap nangkep seseorang yang ketahuan makan chocobi atau pisang milik saya?
Tapi ga ada. Semua orang sibuk jalan ke sana kemari. Rame karena sudah sore. Banyak turis. Banyak anak-anak. Lagian ya apa bedanya punya saya dengan yang lain? Kan ga ada nama pemilik.
Mendadak sedih. Lemas. Itu snack impian dari kecil. Baru hari ini ketemu barangnya. Karena memang ga dijual di sembarang tempat. Susah nyarinya. Sekalinya ketemu. Malah hilang.
Tau chocobi? Jajanan kesukaan Shin-chan. Sering muncul di serial Crayon Shin-chan. Bahkan di bungkus kardusnya ada gambar kepala Shin-chan dan buaya ijo lagi mringis.
Saya mengemas belanjaan. Menuntun sepeda menembus keramaian. Lalu mengayuh perlahan. Sambil ngawang-ngawang.
Lapor? Masa makanan dilaporin? Trus nanti pak polisinya bakalan bilang, "Mbak, chocobi-nya ketemu. Kardusnya utuh. Tapi kosong. Karena ditemuin di tong sampah." Hhe. Wagu.
Mau beli lagi, jauh, harus jalan kaki 2 blok, dorong sepeda pula. Lagian sudah terlanjur patah hati. Kapan-kapan saja ke sana lagi. Kalau hatinya selesai diobati. Kan move on juga butuh waktu.
Sebenarnya bukan salah yang ngambil, mungkin dia lapar. Salah saya yang teledor. Karena merasa aman, yakin ga akan pindah tangan.
Mungkin begitu kalau kita sudah merasa nyaman dengan seseorang, sesuatu, jabatan, harta, apapun itu. Karena terlalu merasa aman, tingkat pengamanan melonggar. Kalau sudah kecolongan. Baru sadar.
Kita yang sudah nyaman dan berangan-angan. Berlanjut ke pelaminan. Menghabiskan masa tua bersama. Ternyata hanya dianggap sebatas teman. Selingan. Hiburan dikala dia bosan dengan pekerjaan.
Kita yang sudah merasa mapan. Malas bermimpi apa-apa. Bahagia mempermainkan juniornya. Belanja apapun yang disuka. Hingga lupa, gaji dan posisi hanya tentang waktu saja. Suatu saat berganti. Kembali ke nol lagi.
Paling menakutkan, ahh, tamparan untuk saya sendiri kalau ini.
Yang sering merasa aman dari murka Allah. Lalu santai berbicara semaunya. Tak sadar menyakiti-Nya lewat kata, perbuatan dan prasangka. Hingga lupa, tanpa Sang Pemilik Raga, saya bukan apa-apa.
Sering lalai tapi masih santai. Alasan nanti-nanti padahal kan mati tak tunggu tapi. Apalagi soal hati, yang sering goyah. Kering. Sampai jadi aking. Baru sadar, kalau ternyata kenyamanan memang diperlukan, tapi kalau keterlaluan, uhh.. bisa melenakan.
Nyaman sih, bahagia sih, tapi kok ga dilamar-lamar. Jangan-jangan kitanya nyaman, dianya enggak? Duh Gusti... Paringono ati sing jembar...
Seaman dan senyaman apapun itu, harus tetap dijaga, dirawat, diperhatikan, dibaiki dan disayangi. Nanti nyeseknya kalau sudah diambil orang.
Semacam cinta yang harus tetap dibina. Meski sudah menikah. Punya anak dua. Bukan bersama hanya karena tuntutan tanggung jawab berkeluarga. Tapi juga rasa tak mau kehilangan. Saling membutuhkan.
Yang namanya hubungan, pasti ada sedih, marah, masalah. Ga bisa bahagia terus. Kalau ada, berarti boneka. Ga punya hati dan naluri dasar manusia. Insan perasa.
Tapi kalau sudah cinta, tetap nyaman bagaimanapun kondisinya, kan?
Dan, untuk siapapun yang memakan Chocobi dan pisang itu, semoga sehat, bugar, nyaman, aman, dilindungi Allah dan diberkahi cinta yang memesona.
*Marintha Violeta
Sapporo, 2 Agustus 2018, 22.29

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...