Jumat, 14 September 2018

Kimi no Na Wa dan Kau yang Menemukanku


“Takut nggak sih waktu ngucap akad?” Saya penasaran. 

Saat prosesi itu berlangsung, saya dipingit dalam mobil berjarak 200 meter dari gedung acara. Jangankan lihat wajah gugup, suaranya saja hilang timbul dari sound yang kemresek. 

Bergema, "Alhamdulillah." 


Mobil baru mendekati gedung, dan kami diizinkan bertemu. Dalam keadaan gemetar dan keringat dingin.

“Enggak,” jawabnya santai sambil menggelus puncak kepala saya.

“Kenapa?” 

Gerakan tangannya berhenti. “Lebih takut pas lari-lari waktu transit di Bandara Tokyo. Gara-gara pesawat dari Sapporo delay. Itu rasanya nggak karuan. Pengen nangis. Pengen teriak. Kalau beneran ketinggalan… nggak kebayang.” 

Bibirnya terkulum. Saya usap pipinya.

Si mamas memang baru menginjak tanah Indonesia 20 jam sebelum akad nikah itu dilangsungkan. Perjalanan pesawat memang selalu menegangkan. Jangankan delay, rumor rudal Korut saja sudah bikin jantungan.

Setelah sampai di bandara Semarang, saya langsung menyeretnya ke salon untuk fitting baju lalu ke rumah bertemu orang tua. Itu pun hanya makan siang. Karena harus bertolak ke Kudus, rumahnya.

Jadi ya begitu, orang tua saya baru tahu benar wajah calon menantunya, 15 jam sebelum prosesi pernikahan. Lucu memang. Kami bahkan tak berhenti geleng-geleng. Kok bisa ya.

Dulu, saat di Saudi, yang sedang galaunya bakalan nikah sama siapa, kapan, dan di mana, film Kimi no Na Wa (Your Name) berhasil membuat saya menangis semalaman.

Kisah Taki dan Mitsuha yang tulus meski tak pernah bertemu ini mematahkan stereotip indahnya cinta dan mendebarkannya proses pertunangan.

Menikah dengan suami yang sekarang? Ya jelas tidak ada gambaran. Meski sudah saling kenal, kita pernah bertahun lost contact. Tak ada kabar. Saya kerja di mana, dia di mana. Beda pulau, hingga benua.

Tak ada keinginan untuk mencarinya. Buat apa. Toh juga sudah lupa. Lagi pula kita tak pernah menjadi siapa-siapa.

Tapi anehnya, setiap ada lelaki datang, saya akan katakan, “Lagi nunggu seseorang." Kadang polos sebut nama mamas agar mereka tak semakin memburu. Padahal entah dia sedang dengan siapa.

Persis seperti Mitsuha yang kebingungan, “Aku merasa, sedang mencari sesuatu. Mencari seseorang. Mencari. Tapi siapa? Siapa? SIAPA???”

Dan Taki, bermodal lukisan tangannya, menyatukan paradox satu persatu. Padahal jelas Mitsuha hanya masa lalu. Mimpi yang tak pernah mewujud nyata. Hanya klise dan permainan logika. 

Tapi toh ia tetap mencari. Meski bertahun-tahun, tak peduli.

Bukankah hidup ini hanya tentang kataware-doki?
Tentang kesempatan yang tak pernah menghampiri dua kali?
Tentang cinta yang atas kuasaNya datang dan pergi?

Surealis dan estetis Kimi no Na Wa selalu mengahabiskan air mata (termasuk waktu nulis ini) meski sudah nonton puluhan kali. Dentaman laranya berhasil membuka duka, mengobati luka. Membuat saya yakin, ada seseorang yang sedang berlari dan berjuang datang. Membawa senampan masa depan. 

Kemarin, tepat 6 bulan pernikahan kami. Alay sih, tapi rasanya, yasudah, toh selama ini kita tak pernah merayakan apapun. Tak ada tunangan, prewedding, apalagi ucapan ulang tahun lengkap dengan kue tart dan pelukan. Tak ada.

Saat jalan-jalan di Susukino, saya menemukan poster ini di salah satu toko. Rasanya ingin menangis dalam pelukan Mitsuha. 




Mitsuha, terima kasih atas kekuatanmu untuk menunggu. Terima kasih untuk kedalamanmu percaya. Terima kasih atas ketulusan harapan itu. Bahwa cinta, akan datang, meski kau lupa namanya.

Karena Mitsuha-lah, saya yakin dengan lelaki yang berdiri di samping ini. Dialah Taki-ku. Ya, Taki-ku. Yang berada di Jepang, selepas shalat ashar, telepon ke Spanyol hanya untuk bertanya, “Kalau kita nikah sebulan lagi gimana?”

Mungkin kalian pernah merasakannya. Berharap kepastian datang hari ini. Menanti sang pembawa kunci hati. Menunggu dia yang entah siapa.

Tapi percayalah, dia sedang berjuang, apapun caranya. Untuk menemuimu. Bisa jadi tidak hari ini. Tidak bulan ini. Tidak tahun ini. Tapi yakinlah, dia akan datang. Menjemputmu. Suatu waktu.

Film karya Makoto Shinkai ini juga termasuk:
- film animasi tradisional dengan pendapatan kotor ketujuh terbesar di dunia,
- film anime dengan pendapatan kotor terbesar sepanjang waktu di seluruh dunia, dengan total pendapatan mencapai US$355 juta per 30 Juli 2017.
- Menjuarai Festival Film Sitges ke-49, Los Angeles Film Critics Association Awards tahun 2016, 
- Film animasi terbaik di Mainichi Film Awards ke-71,
- Animasi terbaik dalam Japan Academy Prize ke-40 Tahun 2017.

“...Kita adalah penerbang waktu. Kita adalah pendaki waktu. Tak ingin tersesat dalam permainan petak umpet ini. Aku tak akan melepaskanmu. Tak akan pernah melupakan ini. Tanganku akhirnya menyusulmu…” - soundtrack penutup film Kimi no Na Wa berjudul Nandemonaiya.

*Violeta
25 Maret 2018

Jangan Jadi Mahasiswa Luar Negeri!

Hokkaido University masih adem seperti biasa. Jumat yang dududu. Jadi begini, pagi ini Hokkaido sudah terjadi gempa 2 kali. Ini yang terasa goyangannya. Selebihnya ya ada, tapi karena intensitas kecil, seperti angin saja.

Saya dan mamas memilih untuk keluar. Nangkring di Seico-mart kampus. Ya, miriplah seperti Indomart di Indonesia tapi ada tempat duduk-duduk di lantai atas.

Lantai satu untuk jual beli. Lantai dua untuk kafe santai penuh meja dan kursi. Ada ruang dalam yang ber-AC, lengkap dengan mesin fotocopy, sampai yang dicari setelah wifi para pecinta gawai. Yes! Colokan.

Nah, di bagian luar dibuat terbuka, dengan payung dan kursi santai. Pemandangan juga lebih aduhai karena langsung menghadap julangan pinus dan pohon ginko yang berayun dibelai angin. Saya kok yakin di sana banyak bergelantung ulat.

Dari posisi saya duduk sekarang, nampaklah para mahasiswa yang lalu lalang dengan sepedanya. Memacu waktu untuk sampai ke lab. Berkutat dengan diktat. Atau, berpikir bagaimana cara terbaik bertahan hidup dikala uang beasiswa entah kapan turunnya.

Ya. Sebenarnya, menjadi mahasiswa di Indonesia atau di Jepang, sama saja. Ada tumpukan tugas, dosen yang tegas hingga kerinduan dengan pecel lele dan tahu petis.

Lucu jika saya membaca beberapa komentar orang-orang yang kemudian karena merasa sempurna tapi penuh luka itu mencibir para tualang akademika ini dengan mengatakan, "Pulang aja, di Indonesia kan lebih aman, nyaman, deket keluarga. Ngapain sih jauh-jauh ke sana."

Saya memang bukan ahli, apalagi salah satu mahasiswa di sini. Tapi untuk tahu bagaimana perjuangan mereka hingga bisa duduk di kursi kelas, pasti tidaklah mudah.

Hidup itu seperti amplop yang dikirim Tuhan ke sebuah tujuan. Bisa jadi kita belum sampai ke tujuan itu. Belum. Kita masih melewati beberapa pos.

Proses kehidupan adalah tentang sebuah perjalanan. Dari satu pos ke pos yang lain. Tak serta merta terjadi dan selesai dalam satu kedipan mata. No, Dear.

Tapi keteguhan hati, kebekuan tekad dan pantang menyerah membuat kita bisa melewatinya. 

Biar. Biarkan mereka dengan segala hipotesanya. Yakinkan saja, kakimu masih berayun sesuai irama untuk menjemput impian.

Ahh, seico-mart lantai 2 ini tak hanya tentang mereka yang duduk dan menyantap kudapan. Tetapi tentang kesempatan untuk meraih apa yang diinginkan. Ketenangan hati dan pendewasaan pikiran.

*Marintha Violeta
Sapporo, 14 September 2018

Minggu, 09 September 2018

Cinta dan Luka di Saudi Arabia

"Salah satu jalan menuju gerbang keikhlasan dan mendapatkan kelegaan hati, harus ada racun yang dibuang. Sesakit apapun, seperih apapun. Membawa luka hanya membuat jalan tidak lapang." - Esti Kinasih dalam novel Jingga untuk Matahari 

Klise sebenarnya, siapa yang tidak pernah kecewa, terluka, bahkan bekasnya pun masih menganga? Membawa-bawa perih di ujung-ujung senyum yang dipaksakan. Tawa renyah, tapi hanya topeng penutup sakitnya. Seperti plester yang ditempel dan harus segera diganti dengan tawa selanjutnya.

Mengobati hati bukan perkara mudah. Pikiran tidak tenang. Kecewa dalam. Hingga semua nampak salah di mata kita. Semua salah. Serba salah. Meski nyatanya benar. 

Apalagi soal hati. Yang misterius, sulit ditebak, bahkan sering tak terkendali. Fluktuatif mengikuti mood yang kadang naik gunung atau merosot ke perut bumi.

Saya harus menghela napas berkali-kali untuk hal ini. Lari ke loteng dan mendapati rumah-rumah bercat cokelat muda berjajar rapi. Atau sengaja merebahkan diri hingga yang nampak hanya bintik-bintik yang berserak di kanvas hitam.

"Akan selalu ada harapan. Bintik itu adalah harapan-harapan yang tersedia di depan mata. Lalu untuk alasan apa lagi kita harus menyerah?" Saya mulai menghitung bintang.

Ada seseorang yang membuat saya mengerti, apa itu luka sebenarnya. Luka yang tertoreh sangat dalam.

Ia meminta saya menuliskan kisah hidupnya. Bercerita dengan air mata membanjir. Ahh, mendengarnya saja membuat lemas. Harus ditulis pula?

Ngilu rasanya jika harus membuka memoar lama yang telah berdebu di sudut kamar. Terpisahkan. Tapi enggan hengkang dari ingatan.

Ada pula yang ingin memprasatikan kisah bahagianya. Agar si empunya ingat debaran ketika menjadi pengagum rahasia. Mencinta dalam diam dengan untaian doa. Entah akan melaju ke kisah romantis atau paripurna di atas kertas.

Bukankah ini juga salah satu klasifikasi luka? Jika sampai mati pun si dia tak pernah merasa debaran yang sama. Bahkan bersisian di pelaminan dengan orang lain. Pembalasan indah, bukan?

Kenangan datang dengan pisau tumpulnya. Membelah-belah masa lalu. Memungutnya satu-satu. Memetakan cerita. Melayarkan harapan dahulu. Meski tak tahu akan berlabuh di mana.

Sampai di sini, dadaku penuh aroma prakmantis. Kenangan itu berhembus kencang menghantam malam di balkon rumah. Mengoyak sadis tembikar yang baru ku pasang di dinding masa lalu.

Luka seperti apa yang ingin kau torehkan lagi? Bukankah cinta itu sederhana? Luka pula yang membuat langkah berbeda. Yang selalu berpijak pada tanah yang tak sempurna.

Malam semakin matang. Membuka notes di hp dan mulai menjejalkan deretan kata. Tentang cinta dan luka. Tentang hidup dan mati. Tentang dunia dan seisinya.

Hidup memang menantang, kadang melempar. Menampar. Tapi hidup terlalu megah untuk diakhiri dengan diri sendiri. Bukankah keindahan hidup seringkali ditemukan dalam pilu?

Aku menekan tuts-tuts itu lagi dengan rasa pekat tersekat. Menulis pun kadang bisa menusuk ulu hati seperti sekarang ini. Lalu kau bisa temukan aku mematut air yang menggeliat di pipi.

Aku menulis untuk membunuh malam.
Aku menulis untuk membaca kehidupan.
Aku menulis untuk membuang racun.
Aku menulis untuk bersyukur.
Aku menulis untuk menggali hati. 
Aku menulis untuk melepaskan air mata.

Aku menulis untuk orang-orang yang telah menyentuh hatiku. Kehangatan keluarga yang telah menghangatkanku. Alam sekitar yang menyegarkan perjalananku. 

Aku menulis untuk mama dan papa.
Yang membuatku selalu percaya akan ada keajaiban dalam bait kata. Menumbuhkan keberanian dalam kalut kehidupan. Yang mengajariku menyembuhkan luka dengan cinta.

Lewat tulisan ini juga, aku ingin kembali berkaca. Sudah jernihkah cintaku untuk orang-orang yang telah menguatkan perjalanan hidup ini? Sebelum diriku usang dan menghilang. Sebelum namaku tertera di batu nisan.

*Violeta 
Jeddah, KSA. 26 Februari 2017.

Pindah Negara, Lagi?

Sesuai perjanjian, setelah menikah, akan mbuntut ke mana suami pergi. Dia ke pasar, saya yang heboh. Dia ke pantai, saya yang girang. Dia ke bulan, saya ke Matahari, lagi banyak diskon, Jeung.

Berat sebenarnya, memilih antara karier dan keluarga. Tapi kita tidak bisa terus-terusan berdiri pada satu fase. Akan ada keadaan tertentu yang memaksa untuk bergerak, memilih, meninggalkan dan memulai babak baru.

Termasuk, resign, menikah dan pindah negara.

Sebagai wanita biasa, punya keinginan untuk lebih memberdaya, kerja, belanja dengan gaji sendiri dan hangout bareng teman, yang meskipun cuma makan mie ayam, tetap saja membahagiakan.

Tapi ternyata, tak bisa, harus bergerak. Harus.

Maka memutuskan untuk melepas huru hara masa lalu, menyadarkan bahwa ternyata, pernikahan tak seperti yang mereka kira.

Jika kalian mengikuti foto-foto yang di-tag mamas ke akun saya ini, lalu mengatakan kita nampak bahagia, serasi, dan apalah-apalah. Percayalah, itu hanya sedetik dari 3600 detik dalam sehari yang sebenarnya kami lalui. 

Contohnya ya, pindahan.

Alhamdulillah kami sudah pindah di apartment baru yang lebih dekat masjid. Jadi tiap jumat, saya bisa ikut mamas jumatan.

Lumayan, di sana bertemu pendatang berbagai negara yang selepas shalat akan ngerumpi ramai tentang cuaca, diskon, baju nikah, sampai obrolan receh tentang fashion ala Jepang tapi masih ada aroma negara masing-masing.

Tapi hey, itu setelah saya dan mamas, selama berbulan-bulan debat, adu kualifikasi, dapur yang harus tersembunyi, toilet begini, pemandangan harus begitu, keamanan teruji, harga masuk akal berakhir ngambek, ga mau bahas, tapi lalu besoknya dibahas lagi, lalu ngambek lagi. Gitu aja terus siklusnya.

Sampai akhirnya mentok dengan banyaknya pemilik apartment yang menolak dihuni warga negara asing. Menyisakan 2 tempat, dan inilah salah satunya.

Seperti mencari rumah, pasangan juga adalah prises mencari yang sebenarnya tak bisa langsung klik. Banyak kualifikasi, inginnya begini, harus begitu. Tapi ternyata, Allah lebih mengerti, hingga akhirnya, saya bertemu si dia kini.

Mungkin kami tak selalu sempurna. Bukan pasangan romantis yang harus berlutut dengan segenggam bunga, baru saya mencintainya. Ohh, kagaklah. Itu kan di film. 

Nyatanya, menemukan dia di depan rumah sepulang kerja dengan senyuman, cukup membuat saya ingin selalu memeluknya. Atau ketika dia tertidur di pangkuan, memperhatikan gurat lelah di wajahnya, cukup membuat saya tak ingin jauh darinya.

Ahh... Saya tak peduli lagi akan tinggal di negara mana, rumah seperti apa, asal bersamanya, saya sudah merasa utuh dan bahagia.

*Marintha Violeta
Sapporo, 9 September 2018



Jumat, 07 September 2018

Pasca Gempa 6.7 di Hokkaido, Jepang



Hari ini, selepas Shalat Jumat, gempa kembali datang. Masjid berguncang. Saya yang berada di lantai 2, langsung turun ketika gempa selesai.

Hari lalu, tanggal 6 September 2018, gempa besar melanda Hokkaido, dengan 6,7 sr. Lalu disusul dengan gempa-gempa kecil nyaris setiap 5-10 menit. Selama 2 hari ini, mencapai 100 gempa terhitung dari yang berintensitas kecil, sedang, dan besar.

Allah… satu saja rasanya cukup membuat jantung melonjak. Ini, 100!! Bahkan diperkirakan masih ada gempa-gempa lainnya yang lebih besar selama seminggu ke depan.

Mencekam. Tentu saja. Banyak yang memilih berada di pengungsian yang disediakan pemerintah. Sekolah diliburkan, karena gedungnya digunakan untuk para korban.

Ya, tercatat ada 8 korban meninggal yang berhasil ditemukan. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

Listrik dan air masih dipadamkan di beberapa wilayah. Lampu lalu lintas tak semuanya menyala. Toko-toko sebagian memilih tutup karena kehabisan stock. Transportasi terhambat karena beberapa jalan rusak parah dan longsor di area perbukitan. Pendistribusian logistik untuk toko dan supermarket masih menunggu aba-aba pemerintah.

Huaahhh… tarik napas dulu. Saya juga masih gemetaran saat menulis ini.

Ini pertama kalinya, bagi saya sendiri, melewati hari-hari yang tidak pasti.

Rasanya, seperti gambling. Tidur atau terjaga, lari atau tetap tenang di tempat, mengungsi atau tinggal di rumah. Bahkan yang paling membuat saya tak berhenti berdoa adalah, kapan gempa ini akan berakhir dan kita semua kembali hidup normal.

Tentu saja, tak ada yang bisa menjawab. Bahkan dari pihak KBRI, pun Perdana Menteri Jepang.



Suami yang justru selalu menenangkan jika saya mulai panik dan gelisah. Meski tak bisa dipungkiri, di raut wajahnya, saya tahu, pikirannya juga melayang dengan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Termasuk imbauan dari pemerintah Jepang tentang gempa besar yang akan datang lagi, entah kapan.

Sebagai perawat, tentu saja ini menjadi pukulan. Kami selalu diajarkan tentang tanggap bencana. Cara menanggulangi dan evakuasi korban. Tapi disisi lain, kami juga tetap manusia biasa yang penuh pertimbangan dan prasangka. 

Alhamdulillah. Suami tahu apa yang harus dikerjakan. Termasuk, ketika gempa pertama terjadi jam 3 dini hari, langsung menginstruksikan, "Buka pintu, jendela, matikan gas, jauhi kaca, amankan barang-barang yang rawan jatuh, dan jangan panik!"

Ini semua yang mampu kami lakukan. Waspada, siap siaga dan berdoa. Saling berkirim kabar dan memberi informasi pada keluarga dan kawan. Pula aktif memantau berita di televisi dan membuka aplikasi pendeteksi gempa. 

Kami percaya, semua akan segera berlalu. Kegelapan dan ketakutan akan sirna dihapus kebahagiaan tinggal di negara yang ramah dan indah ini. Masih akan ada esok, dan esok lagi. Masih ada masa depan yang menanti. semua akan baik-baik saja. Allahu 'alam bishawab.

Seperti lagu Banda Neira berjudul Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

------
Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang, suatu saat henti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh, berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Trang di ujung sana

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang, suatu saat henti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
----

*Marintha Violeta
Sapporo, 7 September 2018

Gempa Sapporo Tadi Pagi

Saya belum bisa tidur sejak gempa pertama mengguncang Sapporo jam 3.07 dini hari tadi.
Semua bergerak. Barang-barang di dapur berjatuhan. Jendela berderak-derak. Pintu goyang. Sayup-sayup terdengar teriak orang-orang dari luar. Nyaris ada 60 detik gempa berlangsung.
Saya dan Mamas cuma diem di kasur. Saling pegangan. Masih shock. Loading. Ada apa ini.
Gempa berhenti. Saya langsung ngerengek minta shalat. Sambil nangis. Gemeteran. Pas berdiri, mau ambil wudhu. Gempa lagi. Ya Allah!!
Mamas langsung nyalain TV. Saya nyalain lampu, buka semua jendela, pintu, ngunci gas kompor. Di luar sirene pemadam kebakaran, ambulan mengoak-ngoak di jalanan.
Di TV, nyaris semua media menyiarkan gempa yang barusan terjadi. 6.7 sr. Pusat di Tomakomai, Hokkaido. Jarak beberapa kota dari Sapporo.
Tiba-tiba, gempa lagi!! TV goyang. Kita berdua duduk di sofa. Sambil pegangan. Shalawatan. Kalau saya sih nangis. Inget gempa Lombok. Allah.... Allah....
Di TV langsung keluar, gempa 5.3 sr.
Lalu, pet! Listrik padam!
Kita buka internet. Grup FB warga Indonesia yang tinggal di Sapporo saling kirim kabar dan antisipasi gempa susulan. Beberapa ada yang sudah keluar rumah. Lainnya bertahan menunggu kabar.
Gempa yang terakhir membuat saya shock berat. Karena rumah kita di lantai 1 apartment, dari 4 lantai yang ada, kalau ambruk, kami yang pertama kena.
Akhirnya, jam 3.30, biar lebih tenang, kami keluar.
Listrik emergency apartment menyala di sepanjang koridor. Terdengar keributan dari beberapa kamar, saya yakin mereka semua terjaga.
Pintu otomatis utama apartment hanya bisa dibuka kuncinya dari dalam. Karena listrik padam, mesin pemindai tidak berfungsi. Saat keluar, sengaja dibiarkan tidak dikunci. Agar kami bisa masuk lagi.

Di luar gelap gulita. Listrik dilumpuhkan. Bulan sabit menyambut tepat menggantung di ubun-ubun. Bintang bertebaran. Jelas, lampu kota padam total hingga langit nampak indah sekarang.
Beberapa orang sudah di luar, saling meneriaki tetangga, "Daijobu? Daijobu?" - Ga apa? Ga apa, kan? Dengan sorot lampu gawai yang seperti melayang-layang dalam kegelapan.
Beberapa yang lain saling telpon kerabat. Kami sibuk mencari info. Download aplikasi pemantau gempa. Bertukar informasi seadanya.
Pukul 4 pagi, tepat ketika seorang polisi, dengan sepeda dan 3 senternya menghampiri kami, bertanya keadaan dan apakah butuh bantuan. Setelah berpesan hati-hati dan terus waspada, ia kembali patroli menyusur setiap blok-blok yang nyaris tanpa cahaya.
Baru masuk rumah, jam 4.11, baru akan ambil wudhu untuk shalat subuh, tanah bergoyang lagi.
TENG!! TENG!! TENG!! Alarm gempa dari HP mamas memekak!
Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat jantung saya berdesir naik turun. Astagfirullah... Astagfirullah..
4.8 sr, berpusat di Chitose. Itu 1 jam dari tempat saya berada sekarang.
Kami buru-buru shalat, sujud syukur karena masih diberi perlindungan.
Saya tidur menggunakan baju lengkap dengan jilbab dan jaket. Mamas juga memakai celana jeans dan sweater. Mendekatkan barang-barang yang sekiranya bisa cepat dibawa lari lompat ke jendela jika gempa besar terjadi lagi. Ya, jendela kami buka lebar untuk jalur evakuasi dadakan.
Saya tak bisa memejam mata. Gempa-gempa kecil terus berlangsung. Helikopter terbang rendah mengelilingi langit yang mulai terang. Sirene ambulan, pemadam kebakaran, polisi terus mengoak-mengoak mencari korban dan yang butuh bantuan.
Saya menangis tiap pintu mulai berderak dan angin dingin menerobos jejaring jendela. Korden bergoyang dan dinding bergetar. Mamas sudah terlelap. Tentu dia harus jaga stamina untuk bekerja pagi ini.
Tak sanggup pikiran beristirahat. Kalau semakin menguat, saya akan membangunkan mamas untuk cari pertolongan.
Cek di HP, pusat gempa di Shitzunai, beberapa kali, di kisaran 4,3 dan 4,6 sr.
Jam 6 pagi, bangun bersiap-siap buat sarapan. Tanah masih goyang-goyang. Gempa kecil. Lebih stabil. Saya mulai terbiasa. Atau, dipaksa biasa.
Tapi kemudian jam 6.11, badan mendadak limbung. Mamas teriak dari kamar, "DEAR! GEMPA!"
Spontan lempar mangkuk yang sedang saya cuci, matikan api untuk rebus air, dan lari ke kamar. Jongkok di tepi kasur. Di rumah tidak ada meja yang kolongnya cukup untuk kami berlindung.
5.4 sr, berpusat di Tomakomai, Hokkaido. Lagi.
Sekarang saya ikut mamas ke rumah sakit. Duduk di taman. Entahlah, setelah gempa yang terus terjadi, saya trauma berada di dalam gedung.
Tak terhitung jumlah gempanya, mungkin belasan, atau 20an, termasuk yang kecil-kecil. Dalam rentang waktu 3 jam. Sejak jam 3 pagi.
Barusan ke seven eleven nyari sarapan, tapi ternyata orang-orang sudah menyerbu untuk menimbun persediaan makanan di situasi genting. Banyak stock kosong. Antrian panjang.
Mungkin karena seicomart, lawson dan beberapa minimarket tutup. Sekolah diliburkan. Videonya saya sertakan.
Saat menulis ini, listrik masih padam, lampu lalu lintas tidak menyala, kereta lumpuh, ambulan lalu lalang, helikopter terus memantau dari udara. Semua bersiaga.
Termasuk rumah sakit mamas yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Karena digunakan sebagai tempat evakuasi korban.
Alhamdulillah kami baik-baik saja. Semoga tak ada korban jiwa. Dilaporkan ada korban luka, bangunan roboh dan jalanan rusak dari yang saya baca di internet.
Tetap waspada dan berdoa untuk teman-teman semua. Terima kasih doanya. Semoga selalu berada dalam lindunganNya. 🙏🙏


*Marintha Violeta
Sapporo, 6 September 2018. 8.45 am

Rabu, 05 September 2018

Namaku, Sejarah Sakitku

Siapa sih yang tidak khawatir kalau bayi yang belum genap 3 hari itu tak kunjung menggeliat? Terlelap. Sangat lelap. Tak bangun. Tak pula minum air dari sang ibu, berhari-hari.

Siapa juga yang tidak cemas ketika tubuh mungil itu mulai berwarna kuning? Mata kuning, kuku kuning, kulit seluruh tubuh menguning. Mirip lemon.

Ayahnya mengguncang tubuh buah hati itu. Tak respon. Tak menangis. Gawat!

Berdebar-debar, mereka membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Berharap semua belum terlambat. Iya, berharap dalam ratap. Akhir bulan Juni, tahun 1992, internet belum ada. Belum banyak informasi tentang penyakit aneh entah apa itu.

Dokter memeriksa. Dan, ya, positif! Bayi itu positif terkena hyperbilirubinemia.

Pasangan muda itu saling tatap. Panjang sekali nama penyakitnya!

Hyperbilirubinemia adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir. Icterus adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahan warna menjadi kuning pada kulit, konjungtiva (mata), mukosa dan alat tubuh lainnya.

Bila tak segera diatasi, serentetan resiko menghantui. Kerusakan otot, disfungsi organ, hingga retardasi mental. Pucatlah wajah wanita muda itu.

Dokter menarik napas, katanya kemudian, "Harus terapi sekarang juga, dengan Fototherapi Propilaksis. Penyinaran dengan sinar ultraviolet dalam inkubator. Dan tentu dalam perawatan khusus, minimal 3 hari. Kita lihat responnya nanti."

Bersyukur tinggal di kota yang lengkap peralatan medisnya. Tanpa sinar ajaib itu, entah bayi bermata belok itu bisa bertahan.

Maka begitulah, saya kemudian dapat menangis kencang. Bergerak aktif dan hidup normal hingga sekarang.

Jadilah, sinar penyelamat itu disemat dalam nama. Dengan tambahan dari gabungan nama orang tua: Maryono dan Sulistiyonorini. Keluarlah nama unik, Marintha Violeta.

Hha... Masih bayi saja sudah begitu pelik. Lihat kehidupannya, semakin menggigit.

Katanya, "Hiduplah dengan normal, lalu berbahagia dengan apapun pemberian Allah." 

Tapi ternyata, menjalani kehidupan tak melulu dengan tawa. Duka dan lara menjadi bumbu yang mau tak mau dirasa. 

Seperti saat berkuliah di Poltekkes Kemenkes Semarang. Belajar menjadi perawat itu menguras jiwa.

Hari pertama Praktik Kerja Lapangan di ruang bersalin rumah sakit, saya membantu persalinan kandungan belum genap 6 bulan. Janin itu memaksa keluar. Pecah ketuban.

Bidan memberikan janin mungil itu pada saya. Tak menangis. Tak respon. Saya pacu jantungnya. Beri oksigen. Tapi tepat dalam genggaman tangan, ia meregang nyawa. Tubuh saya gemetar hebat. Tenggorokan tercekat. Surga rumahmu, Sayang.

Tahun 2013 lalu, dengan restu Sang Kuasa, toga disemat dalam haru. Gelar perawat mengekor di belakang nama. Akhirnya.

Yang paling menyakitkan ketika 2 tahun lalu  berpisah dengan orang tua karena harus bekerja di Arab Saudi. Desakan ekonomi dan dua adik yang belum mandiri, membuat saya tak bisa berdiam diri di negeri ini. Lihat saja demo perawat di televisi yang tak berkesudahan.

Benar memang ungkapan, "Kita tak bisa meraih apa yang ada di depan sampai melepaskan apa yang ada di belakang." Termasuk membebaskan diri dari zona nyaman yang melenakan.

Karena toh setelahnya harus menjalani Long Distance Marriage karena saya di Spanyol, suami di Jepang. Uhh, luar biasa rasanya, perbedaan 7 jam membuat kami jarang bisa bertemu, pun hanya via video call. Meski saya sudah kembali ke Indonesia 9 bulan ini, rindu masih terhalang tempat dan waktu. 

Bila nama Violeta yang diberi orang tua adalah doa agar saya terus maju, berusaha dan selalu bersyukur atas kehidupan. Bayi yang meninggal dalam genggaman itu membuat saya tak boleh menyerah pada ganasnya kenyataan.

Seperti kupu-kupu yang menunjukkan bahwa kegelapan sangat mungkin terjadi. Tapi buktikan, setelah bangkit dan berdiri, akan mengepak gagah nan berani. Meski tak sempurna, meski sayapnya berwarna hitam.

*Violeta
Semarang, 5 September 2018

Selasa, 04 September 2018

Di Jepang Dijual Kaus Kaki Kursi? Duh, Barang Apa Lagi Itu?



 Saat jalan-jalan dengan suami ke toko Daiso, ada yang tak bisa membuat saya berhenti penasaran. Jadi, Daiso itu toko serba 100 yen, atau setara dengan kurang lebih 13.000 rupiah. Meski beberapa juga ada yang dibandrol 200, 300, 400 dan 500 yen sesuai besar kecilnya barang.

Toko yang didaulat terbesar di Jepang ini sudah memiliki 2.900 cabang di Jepang dan 1.500 di luar Jepang. Oke, sampai di sini, pahamlah saya kalau toko ini memang ada di mana-mana dan populer. Ada yang berukuran kecil, sedang hingga yang menyerupai mall, gedung 5 lantai.

Nah, barang-barang yang dijual itu lho yang membuat saya susah move on, eh, maksudnya, susah keluar, meski pintu terbuka lebar. Lha habisnya gimana, komplit dan lucu-lucu banget!


Contohnya nih ya, centong yang ada smile-nya. Duh, kok nggak kepikiran ya bikin model begitu. Ada yang senyumin tiap mencentong nasi. Uuhh, jadi laper. Selain itu juga ada peralatan dapur yang eye-catching, ATK yang trendy, alat dan hiasan gardening yang shabby chic, sampai kain jahit beraneka motif, makanan ringan murah meriah, tissue toilet dan masih banyak lagi.

Satu yang membuat susah berpaling itu, kaus kaki kursi. Wait! Tunggu dulu? Kaki kursi kok dikasih kaus kaki? Buat apa?


Oke, tujuannya agar lantai tidak tergores. Setuju. Tapi sampai dibuat beragam motif itu kan ya nggak sampai di otak juga. Duh, Biyung, beli kaus kaki sendiri aja mikir-mikir, kok kursi juga di kausin.

Jan nggak penting. Iya, nggak penting banget barang macam itu dijual. Lebih nggak pentingnya, saya justru mikirin itu semingguan. Sampai akhirnya saya ke Daiso lagi. Ngamatin lagi itu kaus kaki yang sekarang lebih unyu-unyu. Lalu pulang dengan kealpaan. Sejenak tidak waras. Tapi lalu lemas.

Begini, kalau barang itu dijual, berarti, ada yang beli, kan? Nah, kalau dibeli, berarti itu penting bagi si pembeli? Udah, iyain aja. Jadi, sesuatu yang sebenarnya tidak penting bagi saya, bisa jadi penting bagi orang lain.



Sama seperti, selama hidup ini, saya seperti berjalan melewati hari-hari. Bangun, sarapan, mandi, aktivitas, pulang, makan, lalu tidur. Nyaris begitu setiap hari. Rutinitas yang kadang membuat kesempatan untuk mengamati hal kecil terlewatkan.

Saya selalu merasa, mewajibkan diri untuk fokus ke yang penting-penting saja. Belajar giat di mata kuliah yang penting untuk kelulusan. Mata kuliah lainnya, ahh, gampang, bisalah mengarang indah.

Fokus ke pekerjaan yang diinginkan tanpa melihat peluang. Pokoknya harus itu, nggak mau tahu. Padahal pilihan selalu ada. Dan ternyata, disaat gagal mendapatkannya, down, kecewa, sakit hati berat, karena lupa membuat rencana cadangan. Ya, serasa nggak penting aja gitu pekerjaan yang lainnya selain cita-cita utama.

Saat berkunjung ke tempat kerja suami, di halaman depan rumah sakit, ada bapak-bapak yang hanya berdiri berjam-jam di tengah lapangan. Benar-benar berdiri sikap siap, tanpa payung dan tempat berlindung. Ngapain? Membungkuk dan melambaikan tangan jika ada mobil akan parkir. Padahal semua karcis sudah sistem mesin, kenapa harus ada bapak-bapak di situ?

Saya kira itu nggak penting, toh orang-orang bisa langsung masuk cari tempat parkir sendiri. Tapi bagi bapak tersebut, itu penting untuk kelangsungan hidupnya dan keluarga. Vroh yang Budiman, itu mata pencahariannya beliau, lho. Dan, halal.

Ini yang membuat saya nyaris, merenung setiap hari. Begitu mudahnya saya merendahkan orang lain. Begitu gampangnya menganggap ketidakpentingan itu harus dilenyapkan hanya karena saya tak terbiasa, baru melihat, atau, merasa tak perlu di hidup saya sendiri.

Lalu lupa, bahwa saya tak pernah hidup sendiri.

Kaus kaki kursi itu tak hanya sedang berjuang melindungi kaki kursi dan lantai. Tak hanya membuat rumah semakin nyaman dan indah untuk ditinggali. Tetapi ada mereka yang mencurahkan waktunya untuk berpikir, men-design, menjahit, menge-pack, mendistribusikan, memajangnya di toko, lalu merapikannya agar ada pembeli datang dan membawanya pulang. Belum lagi si pembuat benang dan bahan yang penuh orderan.

Terkadang kita, karena punya uang lebih, lalu merasa tinggi saat berjalan diantara tukang becak. Hanya karena lebih mampu, lalu bisa mengesampingkan sesuatu. Punya jabatan di atas, lalu mudah memerintah tanpa memahami batas. Karena tak tahu, lantas tak mau tahu. Atau karena sudah merasa penting, menganggap yang lain harap minggir.

Jadi bicara seenaknya. Mudah menyinggung perasaan orang lain. Bertindak sesukanya. Datang kalau ada maunya. Pergi tanpa ada tanda-tanda. Atau, pinjam uang lalu menghilang. Yang terakhir itu jangan ya, nyakitin lho itu.


Kalau kaus kaki kursi itu bisa bicara, mungkin dia akan bilang, “Learn to see things from different perspective, Dude. Never limit yourself to just one point of view.” Belajar untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Jangan pernah membatasi dirimu sendiri hanya pada satu sudut pandang. Ya Allah, menohok banget. Saya jadi malu.

Saya memang tak pernah tahu, bagaimana proses bisa berjalan. Tapi yang harus kita tahu, setiap apa yang ada, terjadi dan yang pernah terlewati selalu memiliki alasan penting yang sudah Allah gariskan.

Bahkan pertemuan pertama saya dengan suami, dulu, saya kira itu hal nggak penting. Saling lempar lelucon dan menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya malu, dan sedetik itu membencinya karena mempermalukan saya di muka umum. Tapi ternyata, justru itu yang menjadi awal, kita saling mengenal, hingga berlanjut pelaminan.

Jangan sepelekan seseorang yang sedang di sampingmu sekarang. Jangan anggap biasa, kejadian yang sedang terjadi barusan. Bisa jadi dia akan penting di masa depan. Entah untuk pembelajaran, atau mengubah menjadi pribadi yang lebih lengkap dan rupawan.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

*Marintha Violeta
Sapporo, Jepang. 4 September 2018

Senin, 03 September 2018

Anak-anak di Jepang itu nakal-nakal nggak, sih?

#Violet 28



Bocah laki-laki yang lagi duduk di kursi sensei (guru) itu namanya Kyoya. Usianya 10 tahun. Sekarang kelas 4 SD. Setiap sabtu, kami belajar bareng. Dan, waktu kemarin saya datang, papan tulis sudah penuh dengan huruf Kanji.

Wah, bikin dia mau nulis kanji itu gurunya harus salto-salto dulu. Sebulan yang lalu, saat pertama kami bertemu, dia selalu alesan kalau sudah bahas kanji. Ngerjuknya ga main-main, lho. Ngantuk, bener-bener merem itu bocah. Gurunya ngalah. Diambilinlah kasur dan selimut. Dia tidur beneran di lantai kelas. 

Minggu depannya lagi, laper. Minum aja terus kerjaannya. Trus tumpah. Atau sengaja ditumpahin, ngepel kan dia. Cucok! Waktu belajar ludes cuma buat minum-tumpah-ngelap-minum-tumpah-ngelap.

Sabtu depannya, riweuh main sama anjing. Digendong-gendonglah. Duduk di jendela. Mainan bola. Dan kalau dia lompat-lompat, saya yang jantungan. Rumah Jepang itu kan dari kayu. Kami di lantai 2. Nah kalau ambrol piye jal? Tapii... Kalau sudah bahas matematika, wah, semangat dia, langsung duduk anteng di kursi. Makanya, sabtu kemarin itu rekor, dia mau nulis kanji sebanyak itu. Walaupun saya juga ga paham arti tulisannya.

Malah dia yang nunjukin. "Cotto mate, kore wa kanji fish, sensei!!" - tunggu, ini kanji ikan, bu guru!!

Iya, jadi, saya ngajarin dia Bahasa Inggris, dia ngajarin saya Bahasa Jepang. Haha..  Cemmana pula saya yang perawat ini malah duduk di kursi sambil dikte pelajaran ke murid.

Di facebook, sering berseliweran video tentang betapa tertib dan penurutnya anak-anak di Jepang. Bener-bener ngikutin aturan dan pendiam. Bahkan, dulunya saya juga percaya kalau di Jepang itu ga ada istilah tantrum. Anak nangis histeris karena untuk mendapatkan sesuatu. 

Hoallah, Jeng. Itu karena kita cuma liat yang direkam media. Pas saya lagi motret si Kyoya itu, adeknya, Sharika, lagi nangis gulung-gulung minta pulang. Jian. Tobat, rak?

Jerit-jerit pake bahasa Jepang yang blas saya ga paham maunya apa. Baru diem beberapa menit kemudian setelah diajak main origami dan disogok permen coklat 1 strip. Nah kan, jadi sebenarnya, di manapun negaranya, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka punya dunia berbeda yang menggemaskan. Ya, kadang buat kepala guru-gurunya nyut-nyutan juga. 

Tapi ada kejadian menarik, saat anak dari teman saya bertengkar dengan teman sebayanya di sekolah, tidak akan ada guru yang melerai.

Tubuh-tubuh mungil itu saling dorong dan teriak. Salah satu roboh ke tanah. Tapi berdiri lagi. Mencoba melawan dengan mendorong lawannya. Sambil saling melotot. Sengit. Gurunya hanya melihat dari kejauhan. Kenapa? Karena katanya, "Bertikai pada usia anak-anak membuatnya belajar proses kematangan mental dan melewati fase saling mengenal untuk menjadi kawan." Duhlah, baru tau saya tentang teori itu.

Kata Muhammad Ali, "Children make you want to start life over." Ya, anak-anak membuatmu ingin memulai hidup lagi dan lagi.

"While we try to teach our chidren all about life, our children teach us what life is all about." Kalau ini menurut Angela Schwindt. Jadi, selama ini kami, para orang dewasa ini, sekuat tenaga mengajari anak-anak tentang kehidupan, yang pada nyatanya, anak-anak itulah yang sedang mengajarkan kami kehidupan. Tawa mereka yang lepas, anggukan kepala yang mantap, atau teriakan yang lantang, adalah dunia yang perlahan hilang saat usia beranjak matang.

Ahh, jadi begitu, memang, di kelas itulah Kyoya-kun dan Sharika-chan yang sedang menjadi sensei. Membuat saya mengangguk takjub, setuju, atau gemas dengan kepolosan keduanya, yang sejujurnya, saya rindukan di diri saya sendiri. Anak-anak itu, adalah dunia, yang unik, penuh nyali, dan tak pernah berhenti mengayuh mimpi. Keusilan yang membuat mereka, selalu istimewa.

Jadi, anak-anak di Jepang itu nakal-nakal atau tidak?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

*Marintha Violeta Sapporo, Hokkaido, 3 September 2018

One Day One Post

Saya tak pernah benar-benar mengerti. Sebuah perkumpulan manusia dengan satu misi. Lucu jika kemudian ada yang bertahan dan tereliminasi. Bu...